Kabut punya cara yang aneh dalam memperlakukan jarak. Sesuatu yang sebenarnya dekat bisa tampak jauh, sementara yang jauh seperti berada di hadapan mata. Jalan masih ada, pohon masih berdiri, rumah-rumah tidak berpindah ke mana-mana. Hanya pandangan kita yang tidak lagi sanggup menjangkau semuanya. Dalam keadaan seperti itu, kita semestinya tau bahwa apa yang terlihat oleh […]
Mukaddimah
Dalam bahasa Sunda, beungeut berarti wajah. Tetapi dalam percakapan, ia bisa menjadi ungkapan ketika sesuatu terasa tidak masuk akal: ah, beungeut! Semacam penyangkalan terhadap omongan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Maka beungeut malam ini barangkali bukan sekadar kata, melainkan cara sederhana untuk bertanya: benarkah yang tampak di wajah sama dengan yang ada di dalamnya? Agustus […]
“Merajut Merah Putih” bukan sekadar tentang menjahit kain menjadi bendera. la adalah ikhtiar untuk merajut kembali hubungan manusia dengan sesamanya, dengan desanya, dengan kebudayaannya, dan dengan negaranya. Merah Putih tidak hanya dikibarkan di tiang bendera. la harus hidup dalam kehidupan sehari-hari seperti bagaimana menghargai tetangga, menjaga kerukunan dan bergotong-royong antar sesama. Seperti gagasan Mbah Nun […]
Ada kata yang setiap tahun diucapkan dengan penuh keyakinan: Merdeka! Ada juga kata yang mungkin membuat terkaget-kaget atau justru tertawa getir mendengar umpatan “Ndasmu!” terlontar di ruang publik. Kalimat itu terdengar kasar, kotor, dan tak beradab. Namun, mari kita dudukkan perkara ini dengan jernih, dengan kacamata tadabbur, bukan dengan penghakiman benci. Ketika frasa itu disandingkan […]
Teknologi komunikasi membuat jarak semakin tak berarti, tapi tak lantas tanpa menimbulkan resiko. Benar pula tak ada pilihan tanpa konsekuensi. Untuk jarak yang sudah tidak lagi berarti ada kepercayaan yang tergerus. Ada pada hal sederhana sehari-hari. Janji temu pukul 20.30 di tempat sudah disepakati. 20.20 yang sudah di lokasi bertanya “posisi” serentak jawaban “otw” silih […]
Bulan Agustus selalu mengajak kita mengenang kemerdekaan. Kita bersyukur bangsa ini telah merdeka dari penjajahan, sehingga kita bebas menentukan arah hidup. Namun, di balik kemerdekaan itu, ada satu pertanyaan yang barangkali lebih sunyi: apakah badan kita saja yang merdeka, atau hati kita juga telah merdeka? Sebab tidak sedikit orang yang tubuhnya bebas, tetapi hatinya masih […]
“Kita hanya bisa bersatu ketika membicarakan masa silam, tapi untuk merundingkan masa depan, kita memerlukan kebencian, batu, dan darah” (Emha Ainun Nadjib) Alhamdulillah, puji Tuhan, Astungkara. Bulan ini kita tiba di etape ke-8 dari 12 etape yang kita ikhtiarkan untuk istiqamah bersama, melingkar, Sinau Bareng pada setiap tanggal 21 dalam penanggalan Jawa. Bulan Agustus ini, […]
Tidak semua perjalanan dapat diukur dari seberapa jauh seseorang melangkah. Sebuah perjalanan justru benar-benar dimulai ketika manusia bersedia memperlambat langkahnya, menepi sejenak, lalu bertanya kepada dirinya sendiri: ke mana sebenarnya aku sedang menuju? Hampir setiap hari kita menjumpai pemandangan yang serupa. Seseorang berangkat pagi, pulang larut malam, berpindah dari satu kesibukan ke kesibukan lain, menghadiri […]
Dalam khazanah budaya Sunda terdapat sebuah peribahasa yang sangat tajam maknanya, yaitu “Girang Ku Garing”. Secara harfiah, ungkapan ini menggambarkan kegembiraan yang kosong, kesenangan yang semu, atau hati yang tampak bersuka cita tetapi sesungguhnya mengalami kehampaan jiwa. Di zaman modern, fenomena ini semakin mudah ditemukan. Banyak orang tampak bahagia melalui pencapaian materi, jabatan, popularitas, dan […]
Curiga manjing warangka. Sebuah pepatah tua dalam khazanah Jawa yang secara harfiah berarti “keris masuk ke dalam warangka (wadahnya).” Dalam filsafat Jawa, pepatah ini tidak berhenti pada makna harfiahnya. Ia dimaknai sebagai simbol bahwa setiap kekuatan memerlukan wadahnya. Wadah ini bisa berarti batas, fungsi atau ruang kekuatan tersebut. Simbol keris itulah yang kemudian memperoleh pembacaan […]
Ya muqallibal qulub, tsabbit qolbi ‘ala diinik. Do’a ini diriwayatkan dalam Hadits At-Tirmidzi, di mana Nabi Muhammad SAW memohon keteguhan iman kepada Allah SWT agar hati tetap istiqamah di jalan-Nya. Gerhana Mata Hati, “mata hati” yang berarti nurani, kepekaan batin, atau kemampuan melihat dengan hati (insight, bukan sekadar penglihatan fisik). Kalau matahari saja bisa gerhana […]
Kata ajian sering dipahami sebagai ilmu kesaktian. Padahal akar katanya adalah aji: nilai, kehormatan, keluhuran, dan wibawa yang membuat seseorang layak dihormati. Dalam khazanah Nusantara, aji bukan pertama-tama soal kekuatan, melainkan tentang kualitas manusia yang memegang kekuatan itu. Karena itu, pemimpin yang memiliki aji tidak perlu banyak ancaman agar ditaati. Kehadirannya menghadirkan rasa hormat. Ucapannya […]
Hidup ini sesungguhnya adalah semesta panggilan. Langit mengumandangkan adzan melalui matahari, bulan, bintang, dst. Bumi mengumandangkan adzan melalui gunung, sungai, pepohonan, satwa, tanah, dst. Tubuh mengumandangkan adzan melalui sehat, sakit, dst. Hati mengumandangkan adzan melalui rindu, gelisah, syukur, sabar, penyesalan, dst. Bahkan setiap kehidupan dan kematian adalah adzan yang menyeru manusia agar membaca ayat-ayat Allah […]
Setiap menjelang datangnya bulan kemerdekaan, kita akan kembali dipertemukan dengan ruang permenungan tentang Indonesia. Di berbagai sudut negeri, bendera merah putih akan mulai berkibar, lagu-lagu perjuangan kembali diperdengarkan, kisah para pendiri bangsa kembali diceritakan, dan doa-doa dipanjatkan agar Indonesia menjadi negeri yang damai, adil dan makmur. Bagi jamaah Maiyah, momentum seperti ini tidak pernah berhenti […]
Ada satu hal yang belakangan sering mengusik. Mengapa banyak di antara kita begitu mudah tertarik pada sesuatu yang baru, tetapi begitu sulit bertahan cukup lama untuk benar-benar mengenalnya? Hari ini ingin belajar ini, besok pindah ke yang lain. Hari ini yakin dengan satu tujuan, beberapa waktu kemudian sudah tergoda oleh kemungkinan yang berbeda. Padahal, jika […]
Dalam kehidupan, kita sering diajarkan untuk mengenali siapa kawan dan siapa lawan. Kita berusaha mendekat kepada yang membawa manfaat dan menjauh dari yang dapat menjerumuskan. Tidak sedikit pula kita tumbuh dengan pemahaman bahwa setan adalah musuh terbesar manusia. Karena itu, hampir setiap kali melakukan kesalahan, nama setan menjadi pihak yang pertama kali disebut. Namun, pernahkah […]
Secara etimologi, kata jumud dalam bahasa Arab adalah bentuk masdar dari kata jamada – yaj’mudu – jamdan/ jumudan, yang berarti “beku”. Sedangkan secara terminologi jumud dipahami sebagai sikap statis, beku, enggan berubah, bertahan secara kaku pada pola pikir lama, serta menolak perubahan sekalipun kondisi telah berkembang. Dalam sejarah Islam, benih-benih kejumudan tampak sejak kaum Quraisy […]
Bukan tentang taman di Samarinda, dibangun di atas lahan yang dahulu berdiri SMAN 1 dan SMPN 1 Samarinda juga lapangan sepak bola pemuda. Ini tentang konsep syukur untuk manusia dari Tuhan. Terlepas dari dialektika yang masih berkembang tentang asal usul nama Samarinda dari Sama Rendah atau Sama Renda (lafal e kata renda seperti e pada […]
Peradaban manusia dibangun bukan semata oleh penemuan alat, melainkan oleh keberanian untuk bertanya. Setiap zaman melahirkan cara berpikirnya sendiri, tetapi setiap zaman pula mewariskan pertanyaan yang belum selesai dijawab. Di antara sekian banyak pertanyaan itu, hubungan antara wahyu, ilmu pengetahuan, dan teknologi, tetap menjadi salah satu ruang dialog yang paling menarik sekaligus paling menantang. Dalam […]
Hari ini, hampir seluruh pertandingan kehidupan hanya dimainkan di lapangan dunia. Pejabat sibuk mengejar kekuasaan, pemerintah sibuk mengejar angka dan pencitraan, pebisnis sibuk mengejar keuntungan, akademisi sibuk mengejar gelar, dan masyarakat sibuk mengejar pengakuan. Bahkan tidak sedikit aktivitas keagamaan yang akhirnya berhenti pada simbol dan keduniawian semata. Padahal kita tidak diperintahkan memilih antara dunia atau […]
Menampilkan 21-40 dari 457
























