Momen mudik dalam rangka kembali menemui, berbaur, dan bermesraan dengan keluarga, sahabat, serta tetangga di hari raya Idul Fitri merupakan benih fitrah kesucian. Ia menjadi jalan untuk memperkuat akar persaudaraan, menumbuhkan batang persatuan, memperlebar daun-daun kemesraan, serta menghadirkan bunga-bunga ketenteraman dan kebersahajaan dalam ekosistem kekeluargaan dan kemasyarakatan.
Di desa, menjelang Idul Fitri, suasana kebersamaan begitu terasa. Bapak-bapak berbondong-bondong melakukan ziarah kubur. Tradisi ini mengajarkan kepada generasi penerus bahwa dalam menyongsong kebahagiaan dunia, manusia harus dilandasi kesadaran akan hakikat hidup yang sejati.
Ibu-ibu menyiapkan hidangan bagi siapa saja yang berkunjung ke rumah. Tanpa undangan dan tanpa paksaan, mereka dengan tulus memberikan penghormatan dan kebahagiaan, tanpa pamrih dan tanpa mengharap imbalan.
Para pemuda desa bergotong royong memasang lampu hias di sepanjang jalan, menciptakan keindahan dan suasana yang hangat. Sementara itu, anak-anak mengenakan baju baru Lebaran yang dibalut dengan kebahagiaan.
Istilah “mudik” sendiri mulai populer pada tahun 1970-an, seiring terjadinya urbanisasi besar-besaran ke kota-kota seperti Jakarta dan lainnya. Menjelang Idul Fitri, para perantau kembali ke desa halaman—dan dari situlah istilah mudik dikenal luas.
Namun, sejatinya akar mudik telah ada dalam diri manusia. Seperti yang pernah disampaikan Mbah Nun, andai tidak ada Al-Qur’an pun, apakah kita tega menyakiti hati kedua orang tua? Manusia pada hakikatnya memiliki kecenderungan untuk hidup dalam ketenteraman dan kedamaian bersama sesamanya. Ketika ia jauh dari keakraban, akan tumbuh kerinduan untuk kembali mendekat dan menjalin kemesraan.
Saat yang jauh kembali mendekat, di momen Idul Fitri terjadi dialektika pembelajaran untuk saling memaafkan dan berbagi kebahagiaan. Tradisi saling memaafkan di Indonesia menjadi ciri khas yang membedakan dengan negara lain. Di banyak tempat, ungkapan yang umum disampaikan adalah “Eid Mubarak” sebagai doa keberkahan, atau “Taqabbalallahu minna wa minkum” yang berarti semoga Allah menerima amal ibadah kita semua.
Sementara itu, saling memaafkan menjadi salah satu fitrah bangsa Indonesia—sebuah wujud kerendahan hati dalam menjaga perdamaian, kebersamaan, serta menjauhkan diri dari sikap menguasai, mengeksploitasi, menghakimi, apalagi menyakiti.
Pada Sinau Bareng di momen Idul Fitri ini, kami, masyarakat Maiyah Cirrebes, mengajak untuk kembali menemukan fitrah manusia Indonesia: dengan kerendahan hati, introspeksi diri, serta berbagi kebahagiaan dalam balutan belajar kebersamaan.








