Jauh sebelum raga menyentuh bumi dan hiruk-pikuk kekuasaan diperdebatkan, setiap jiwa telah menandatangani kontrak purba di alam Sulbi. Sebuah ikrar tauhid di hadapan Sang Maha Cahaya: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Kita menjawab, “Betul, kami menjadi saksi.” Inilah akar kepemimpinan yang sesungguhnya—sebuah amanah untuk memimpin diri sendiri agar tetap setia pada jalur kepulangan. Di tengah krisis geopolitik global saat ini, di mana ego antarnegara saling berbenturan dan ambisi teritorial seringkali mengabaikan kemanusiaan, kita diingatkan bahwa kegagalan dunia hari ini berhulu dari “amnesia” massal manusia atas perjanjian primordial ini. Tanpa kesadaran Sulbi, kepemimpinan global hanyalah mesin raksasa yang dholum (zalim) dan jahul (bodoh), yang memicu api konflik demi memuaskan dahaga kekuasaan yang fana.
Ramadlan hadir sebagai momentum “kalibrasi ulang” bagi antena rohani kita di tengah bisingnya narasi perang dan persaingan hegemoni. Puasa bukan sekadar memindahkan jam makan, melainkan laku prihatin untuk menahan syahwat “ekspansi” ego yang tak pernah merasa kenyang. Seorang pemimpin yang benar-benar “berpuasa” adalah ia yang sanggup menahan diri dari godaan untuk menindas, menahan jemarinya dari pemicu senjata, dan menahan hatinya dari keserakahan ekonomi. Lapar yang dirasakan saat puasa seharusnya menjadi jembatan empati universal; bahwa rasa sakit dan ketakutan seorang anak di zona konflik adalah juga rasa sakit kita. Kepemimpinan yang berpuasa adalah kepemimpinan yang memilih “menahan diri” demi menyelamatkan kehidupan, bukan yang “melepaskan nafsu” demi memenangkan gengsi politik.
Di Juguran Syafaat edisi Maret ini, di tengah madrasah puasa dan ketidakpastian tatanan dunia, kita melingkar untuk menanyakan kembali: di mana posisi kemanusiaan kita dalam peta konflik dunia? Benarkah para pemimpin kita sudah mampu memimpin dirinya sendiri sebelum memutuskan nasib jutaan nyawa? Kita butuh kepemimpinan yang tidak hanya cakap di meja diplomasi, tapi juga tunduk pada kesaksian Sulbi. Mari kita tadabburi bahwa solusi atas krisis geopolitik bukan hanya soal strategi militer atau pakta pertahanan, melainkan soal keberanian moral untuk kembali pada fitrah tauhid—bahwa kita semua bersaudara dalam asal-usul yang sama, dan kelak akan mempertanggungjawabkan setiap tetes darah yang tumpah di hadapan Sang Pemilik Semesta.








