Hidup tidak pernah lepas dari perbedaan. Dari sini kita perlu belajar satu ilmu dasar—membedakan tanpa membenci. Karena tidak semua yang berseberangan adalah musuh; sebagian justru menjadi jalan kita untuk belajar memahami.
Momentum Idul Fitri memberi kita pelajaran penting. Dalam banyak tulisan Mbah Nun, Idul Fitri bukan sekadar saling memaafkan secara lisan, tetapi kembali ke kejernihan diri—mengosongkan kebencian, meruntuhkan ego, dan membuka kembali ruang kemanusiaan.
Maka memaafkan bukan hanya kepada yang sejalan, tetapi juga kepada yang berbeda, bahkan kepada yang pernah kita anggap “lawan”. Dari sini muncul pertanyaan dalam diri kita: mengapa kita mudah tersinggung oleh perbedaan? Mengapa kritik sering terasa sebagai serangan? dan bagaimana menjaga hati tetap jernih?
Artinya, yang berlawanan adalah bagian dari keseimbangan, bukan untuk dimusnahkan. Merespon dengan kesadaran, bukan reaksi.
Sebagaimana firman Allah:
ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Tolaklah (kejahatan) dengan cara yang lebih baik.” (QS. Fussilat: 34)
Idul Fitri mengajarkan kita untuk tidak sekadar menahan diri, tapi mengubah cara pandang: dari memusuhi menjadi memahami, dari reaktif menjadi bijak, dari menjauh menjadi merangkul.
Akhirnya kita sampai pada satu latihan penting: melihat lawan sebagai cermin, bukan ancaman.
Karena tanpa perbedaan kita tidak belajar, tanpa gesekan kita tidak tumbuh, dan tanpa keluasan hati kita tidak kembali pada fitrah.
Maka sinau bareng rutin yang kita jalani ini adalah bagian dari perjalanan kembali—bukan hanya saling memaafkan, tetapi juga belajar tetap manusia di tengah perbedaan yang terus ada.
Wallahu a’lam bishawab.








