Setiap Ramadlan tiba, ada pemandangan yang nyaris berulang. Pusat perbelanjaan akan ramai dipenuhi pengunjung pada pekan terakhir. Diskon ritel modern digelar besar-besaran, bahkan dipromosikan di berbagai platform media sosial. Konten “War Takjil” berseliweran di jagad dunia maya. Agenda buka bersama menumpuk memenuhi catatan kalender, dari yang sederhana hingga yang mewah. Meja makan difoto, antrean pembelian direkam. Suasana yang terjadi begitu riuh. Bising.
Tak bisa kita tampik bahwa dalam lanskap sosial hari ini Ramadhan hadir dengan banyak rupa. Yang tampil bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga—boleh saja kita sebut—musim konsumsi yang datang begitu semarak. Aktivitas ekonomi meningkat, perputaran uang bergerak lebih cepat, dan eksistensi digital pun ikut berpacu. Ada semacam kegairahan kolektif yang terus berulang, tetapi diam-diam menyisakan sejumlah tanda tanya baru.
Puasa yang kita kenal identik sebagai aktivitas menahan, mengurangi, sekaligus mengendalikan, justru berjalan berdampingan dengan euforia sebaliknya: hasrat memiliki, memamerkan, dan membeli. Ada paradoks di baliknya. Latihan kesederhanaan bertemu dengan budaya berlebih-lebihan.
Dalam salah satu tulisannya, Mbah Nun menyebut Ramadhan sebagai “proses peragian jiwa”. Sebuah istilah yang mengundang kita untuk berhenti sejenak dan bertanya: apa sebenarnya yang sedang diragikan? Mengapa ia disebut proses? Dan mengapa yang diragikan adalah jiwa?
Dalam kerangka itu, Mbah Nun menegaskan bahwa puasa adalah proses mencairkan kebekuan dan kekakuan egosentrisme, nafsu berkuasa, nafsu memiliki, nafsu mempertahankan sesuatu yang kita sangka kekuasaan dan kemenangan — yang esok hari akan menjerembabkan.
Dengan puasa telah kita upayakan transformasi dan transubstansi diri: dari kesadaran jisim (konsentrasi untuk mencapai segala eksistensi kewadangan), menuju manusia quwwah (aksentuasi kepenuhan budaya dan kekuasaan), dan akhirnya menjadi manusia “nur” (keberpihakan terhadap pengintian dan penyejatian langkah-langkah hidup).
Namun, fenomena yang terjadi hari ini mengisyaratkan adanya jarak antara tujuan spiritual puasa Ramadhan dengan praktik sosial yang mengitarinya. Puasa yang dimaksudkan sebagai latihan pengendalian dan pemurnian inti hidup, dalam kenyataannya sering kali hanya berhenti pada perubahan jadwal makan dan pola belanja.
Mari kita hadir untuk sinau bareng dalam Majelis Ilmu Telulikuran Maiyah Damar Kedhaton Gresik edisi ke-111, mengurai makna dengan pembacaan reflektif terhadap diri sendiri melalui cermin fenomena yang berkembang di kehidupan hari ini. Bagaimana kita memosisikan diri, keluar dari penjara pikiran yang dangkal, dalam perjalanan dari jisim menuju manusia quwwah dengan nur sebagai pelabuhan terakhir?
Hari/Tanggal : Rabu, 11 Maret 2026
Pukul : 20.23 WIB
Lokasi : Masjid Jami’ Nurul Jannah, Desa Slempit, Kecamatan Kedamean, Gresik
(Redaksi Damar Kedhaton)








