Teman-teman, kita sedang berada di pertengahan Ramadlan. Di antara awal puasa yang telah kita lewati, dan Idul Fitri yang sedang kita tuju.
Setiap hari selama Ramadlan kita menahan lapar, menahan haus, dan berusaha menahan banyak hal di dalam diri kita. Tapi mungkin ada satu pertanyaan yang jarang benar-benar kita renungkan bersama: sebenarnya kita ini sedang berpuasa atau hanya sedang tidak makan?
Karena jika sekadar tidak makan dari Subuh sampai Maghrib—bahkan tubuh kita bisa melakukannya tanpa banyak rencana. Tetapi puasa seharusnya tidak berhenti pada urusan perut. Ia menyentuh hati, menyentuh pikiran, menyentuh cara kita memandang hidup.
Lalu ketika nanti kita sampai pada Idul Fitri—yang sering dipahami sebagai kembalinya manusia kepada kesucian—apakah benar kita pulang kepada kejernihan itu? Atau jangan-jangan yang kembali hanya kebiasaan makan yang sempat kita tahan selama sebulan?
Maka mungkin malam ini kita bisa berhenti sejenak, memberi ruang kepada diri kita sendiri untuk bertanya dengan jujur: kalau puasa adalah latihan menahan diri, sebenarnya kita sedang mengevakuasi apa dari dalam hidup kita?
Karena bisa jadi puasa bukan hanya tentang menahan lapar. Bisa jadi puasa adalah cara kita mengevakuasi diri dari kotoran-kotoran yang selama ini diam-diam kita bawa dalam hidup kita.








