DI DUNIA ISLAM, hanya di Nusantara (Melayu Asia Tenggara) dimana Bulan Ramadlan disebut juga ‘bulan puasa’. Asalnya dari bahasa Sanskerta, upawasa. Penyebutan bulan ini dalam konstruk linguistik Sanskerta tentu bukan kebetulan kultural belaka, dan bukan pula bentuk sinkretisme. Justru, ia menunjukkan rekam jejak kesinambungan wahyu di umat-umat terdahulu, yang alhamdulillah ditakdirkan bertemu dengan apik di Nusantara.
Toh, akhirnya Gusti Allah ingkang Murbeng Dumadhi, Sang Maha Esa dan Maha Pencipta memang mengindikasikan pada kita bahwa siyam juga diwajibkan atas umat-umat sebelum Nabi terakhir ini, bukan? Maka, mari kita gali kawruhan ini.
Puasa berasal dari kata upawasa. Ia terdiri atas dua suku kata, yakni upa dan vasa/wasa. Dalam bahasa Sanskerta, upa bermakna mendekati/mendekatkan dan vasa/wasa bermakna Sang Maha Esa. Dalam konteks lain, vasa/wasa juga bermakna kuasa pengendali atau pengekangan.
Bahkan, mengingat Sanskerta adalah rumpun bahasa Indo-Germanic, maka makna terjauh dari vasa/wasa dalam bahasa Germano-Nordic dapat berupa tempat berdiam, tempat bersemayam, atau wadah (vase).
Semua makna itu mewakili esensi dari puasa, yakni riyadlah pendekatan diri kepada-Nya berupa pengekangan jasad sebagai wadah bagi ruh. Mengapa jasad perlu dididik dengan tali kekang? Tujuannya adalah agar dalam keheningan jasadiyah, jiwa atau dimensi nafsiyah dari ruh menemukan kembali kawruhan tentang kasunyatan eksistensinya sebagai hamba.
Bahkan, perihal penyucian jiwa ini, kita telah memperoleh pelajaran tak ternilai dari Kanjeng Nabi Yusuf bin Yakub alaihimassalam. Maqam terendah jiwa, yakni nafsul ammarah, adalah sesuatu yang sangat berbahaya sehingga kita harus waspada dan mencurigainya.
Saking kuatnya nafsul ammarah ini, Kanjeng Nabi Yusuf bersabda menjelang pelantikannya sebagai Perdana Menteri Mishr pasca-ujian berupa fitnah dan hukuman penjara, bahwa nafsul ammarah itu hanya bisa dijinakkan dengan rahmat-Nya semata (Q.S. Yusuf: 53).
Puasa seharusnya menjadi anak tangga riyadhah menuju rahmat-Nya itu, agar perjalanan rohani kita tidak terbelenggu dan jatuh lagi dan lagi ke dasar jurang bernama nafsul ammarah itu. Itu sebabnya, inti puasa adalah pengekangan diri—tempat sensasi jasadiyah bertemu dengan nafsul ammarah dan bisikan Al-Khannas, operator psyop ulung dari satuan Azaziliyah.
Dalam pemaknaan itu, puasa Ramadan sebagai tertib syariat pada kenabian terakhir akan lebih mencerahkan apabila didekati bukan sekadar festive month semata (meskipun ia memang menggembirakan bagi yang menceburkan diri dalam pesonanya), melainkan juga sebagai padepokan bagi para sha’im untuk ditempa agar mendekat kepada-Nya pada sebelas candra lainnya dalam bilangan warsa.
Tentang ini, ada suatu rahasia puasa yang jarang dihayati, bahkan oleh mereka yang menunaikannya. Rahasia itu adalah bahwa puasa sejatinya merupakan penempaan rohani melalui pengekangan jasad; bukan sekadar pengalihan jam kegiatan jasadiyah dari siang ke malam hari belaka, tanpa riyadlah yang nastiti.
Tanpa riyadlah rohaniah ini, manusia bahkan akan beralih hakikat menjadi upa-angkara, atau mendekatkan diri pada kejahatan jiwa, yang akhirnya akan menguasai sosok manusia itu sendiri; menyulap sang hamba Tuhan menjadi hamba angkara. Dalam tragedi ini, sosok diri (nafsiyah) telah tiwikrama sebagai berhala.
Apabila upa-angkara telah merasuk ke dalam jiwa, pengulangan pola sejarah manusia sejak zaman Haman, Karun, Sanhedrin, Darun Nadwah, dan yang semisal dengan itu—dahulu, kini, maupun kemudian—akan berjalin kelindan dengan struktur kuasa dan harta, menjadi upa(h)-angkara.
Apa itu upa(h)-angkara? Ia adalah suatu pranata yang menyanjung dan mengganjar kejahatan, berupa industri kezaliman yang salah satu cirinya adalah pengudusan yang sejatinya profan, dan profanisasi yang sejatinya kudus. Alias, evil-industrial complex.
Atas mekanika evil-industrial complex itulah Nabi Zakaria, Nabi Yahya, Al-Masih ibn Maryam, Sayidina Ali Al-Murtadha, Sayidina Hasan ibn Ali Al-Mujtaba, dan Sayyidina Husain ibn Ali As-Sibthi, direduksi menjadi komoditi untuk dimusnahkan secara batil dengan suatu upahan duniawi dengan market rate tertentu.
Atas mekanika evil-industrial complex itu pula, pembantaian atas anak-anak, perempuan, dan lansia Palestina sejak 1917 hingga yang termutakhir—termasuk pelanggaran Sabat berupa serangan sepihak atas Iran pada Sabtu, 10 Ramadan 1447 H—“diganjar” dengan naiknya saham perusahaan-perusahaan pembuat precision-guided munitions di berbagai bursa saham dunia. Betapa ironisnya sebuah industri yang sangat membanggakan guided precision di satu sisi, tetapi sangat misguided dalam sepak terjangnya.
Atas para pelaku upa-angkara itulah bahkan Gusti Allah Azza wa Jalla pun hingga hari ini masih kersa “berpuasa”. Cak Nun dalam karyanya, Tuhan pun Berpuasa, menggambarkan betapa Allah Tabaraka wa Ta’ala terus menahan diri-Nya, sembari terus memperingatkan kaum angkara dengan diri-Nya, agar mereka sadar bahwa suatu saat Dia pun akan “berbuka”.
Pada hari ketika itu terjadi, para malaikat-Nya akan mengepung para pelaku upa-angkara itu dengan kepungan yang tidak akan meloloskan satu jiwa pun darinya, dan mereka bersabda dengan firman-Nya:
“Hijran Mahjura...” (Al Furqan, 22)
Bi Haqqi Nabiyyil Musthofa wa Ahli Baitihil Kiram min Ahlil Kisa, Wirdhul Tahlukah… [] (Redaksi KC)








