وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ ۗوَلَلدَّارُ الْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ
“Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?” (QS. Al-An’am: 32).
Demikianlah salah satu pendangan islam tentang kehidupan yang dikutip dari Firman Allah Ta’ala. Terlepas dari apa arti “kehidupan” bagi masing-masing individu.
Lantas tolol bagi seorang muslim yang menghabiskan waktu hanya untuk mengejar kehidupan duniawi tanpa menjadikannya tangga menuju kehidupan akhirat. Terlebih jika Allah melapangkan waktu, tenaga, dan kemampuan untuk beramal.
وَلِكُلّٖ وِجۡهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَاۖ فَٱسۡتَبِقُواْ ٱلۡخَيۡرَٰتِۚ أَيۡنَ مَا تَكُونُواْ يَأۡتِ بِكُمُ ٱللَّهُ جَمِيعًاۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ
“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. Al-Baqarah: 148).
Sungguh jelas pandangan islam tentang apa yang perlu dikejar dan disegerakan dalam kehidupan ini, yakni: kebaikan atau amal sholeh.
Jamaah Maiyah sudah sangat terdidik untuk melihat Allah dalam segala hal dan peristiwa. Maka pastilah tidak sulit bagi jamaah Maiyah untuk memformulasikan daily activity sebagai amal sholeh dari hal terkecil sekalipun.
Maka pertanyaan lanjutannya; sudahkah kita cukup memiliki kesadaran untuk menyemangatkan, menyegerakan, dan memperlombakan itu semua tanpa terkontaminasi dengan ambisi kesucian?








