Dalam Al-Qur’an kita mendengar seruan: wal ‘ashr (demi masa), wad-dhuha (demi waktu dhuha), wal fajr (demi fajar). Waktu tidak pernah netral. Ia adalah ruang tanda-tanda, menyimpan pola, arah, dan peringatan. Seolah-olah mengingatkan: kalau engkau tak mampu membaca waktu, engkau akan tergilas olehnya. Di sinilah manusia diberi keistimewaan dibanding makhluk lain. Kemampuan untuk menyadari, memahami, dan memaknai zaman. Ayat-ayat Allah tidak hanya tertulis dalam mushaf, tetapi juga terhampar di dalam kehidupan.
Sebab manusia hidup tidak hanya di ruang, tetapi juga di waktu. Setiap zaman membawa bahasa, tanda, dan kecenderungannya sendiri. Ada zaman yang didominasi survival dan perang, ada zaman yang ditentukan oleh industri, ada zaman yang dipimpin oleh modal. Dan sekarang kita hidup di zaman ketika perhatian manusia menjadi komoditas paling mahal. Informasi tidak lagi sekadar memberi kabar, tetapi membentuk emosi. Teknologi tidak hanya membantu kerja, tetapi perlahan ikut mengarahkan cara kita berpikir.
Menengok ke perjuangan para Nabi memerangi jahiliyah, maka barangkali jahiliyah dan penjajahan di tiap zaman pun tak pernah benar-benar hilang. Yang berubah hanya bentuk belenggunya. Dulu rantai terlihat di pergelangan kaki, hari ini ia bisa bersembunyi di layar canggih yang kita genggam. Dulu manusia dipaksa tunduk, hari ini ia merasa memilih. Maka persoalannya bukan lagi sekadar siapa yang menguasai siapa, melainkan sedang membentuk cara kita memandang dan menilai dunia, sebuah penjajahan yang halus.
Maiyah mengingatkan kita agar tidak terjebak sindrom 3C: Cethèk, Ciut, Cekak. Jangan dangkal membaca peristiwa, jangan kerdil memaknai kenyataan, jangan sempit melihat kemungkinan. Zaman seperti arus sungai: kalau kita tidak sadar sedang berenang, kita bisa terbawa tanpa tahu menuju ke mana. Yang berbahaya bukan derasnya arus, melainkan hilangnya kesadaran bahwa kita sedang berada di dalamnya.
Orang-orang yang peka pada zaman biasanya mampu membaca tanda-tanda sebelum peristiwa besar terjadi. Seperti petani yang melihat awan dan arah angin sebelum hujan turun. Perubahan besar jarang datang tiba-tiba. Ia selalu didahului oleh pola, gejala, dan isyarat. Jangan hanya hidup di dalamnya tanpa memahami arahnya. Kita perlu bertanya pada diri, apa nilai yang sedang terkikis? Apa kebiasaan kecil yang kelak menjadi peristiwa besar? Dan di mana posisi kita di tengah arus zaman? Apakah teknologi memperluas kemerdekaan berpikir kita, atau justru mengurungnya?
Di tengah perubahan besar zaman ini, penting untuk menjaga diri, keluarga, dan sekitar tetap menjadi subjek yang sadar, bukan sekadar terbawa arus. Sebab zaman akan terus berubah. Tetapi manusia yang bersandar kepada Allah tidak akan kehilangan kompas hidupnya. Mari menyiapkan kejernihan hati dan kejernihan pikir untuk bertadarrus zaman bersama. Mari melingkar.








