Dalam pengajian ala Emha Ainun Nadjib, kata bukan cuma bunyi, melainkan pintu masuk ke kesadaran. “Lebaran” sering kita pahami sebagai hari raya, tetapi secara batin, ia adalah momen “usai”. Selesai dari perjalanan panjang menahan diri. Lebaran bukan titik akhir. Melainkan ambang baru: apakah kita benar-benar selesai dari nafsu, atau hanya selesai dari jadwal puasa?
Lalu ada “laburan”. Dalam bahasa Jawa, labur berarti mengecat, memutihkan. Rumah dicat, pakaian dibersihkan, halaman dirapikan. Tapi Cak Nun mengajak kita bertanya: apakah yang kita labur hanya tembok, atau juga hati? Jangan-jangan yang kinclong hanya dinding, sementara batin tetap kusam oleh iri, dengki, dan kesombongan yang tak tersentuh kuas kesadaran.
Berikutnya “leburan”. Ini lebih dalam lagi. Lebur berarti melebur, mencair, menyatu. Dalam relasi manusia, leburan adalah saat ego mencair. Kita meminta maaf bukan sebagai formalitas, melainkan proses meluruhkan diri. Aku dan dirimu tidak lagi berhadap-hadapan sebagai pihak yang benar dan salah, tetapi sebagai sesama yang rapuh dan saling membutuhkan ampunan.
Kemudian “liburan”. Ini yang paling sering kita tunggu. Pergi ke pantai, gunung, atau sekadar rebahan tanpa beban. Namun dalam perspektif Maiyah, liburan bukan cuma jeda fisik. Melainkan jeda eksistensial. Apakah kita benar-benar beristirahat dari kesibukan dunia, atau hanya memindahkan kesibukan ke tempat yang berbeda?
Empat kata ini seperti lingkaran makna. Lebaran adalah momentum, laburan adalah tampilan, leburan adalah kedalaman, dan liburan adalah jeda. Jika berhenti di laburan, kita jadi manusia kosmetik. Jika sampai leburan, kita mulai menjadi manusia otentik. Dan jika liburan kita isi dengan kesadaran, kita tidak cuma pulang kampung, tetapi pulang ke diri sendiri.
Cak Nun sering mengingatkan, agama bukan hanya ritual, tetapi transformasi. Maka lebaran sejati bukan di kalender, melainkan di dalam dada. Ya, saat kita berani jujur pada diri sendiri, mengakui luka, dan menyerahkannya kepada Yang Maha Luas dengan penuh keikhlasan.
Sekarang pertanyaannya: Dirimu mau berhenti di “laburan”, atau berani masuk ke “leburan”? Kalau jawaban dirimu belum jelas, jangan hanya scroll. Datang dan uji sendiri kegelisahan itu di Majelis Maiyah Panglawungan Rasa pada Minggu, 29 Maret 2029, pukul 20.30 WIB di Saung Panglawungan, Tanjungsukur, Kota Banjar
Datang tanpa perlu merasa suci. Datang tanpa harus sepakat. Datang saja, dengan seluruh tanya yang belum usai. Panglawungan Rasa bukan tempat mencari jawaban cepat, tapi ruang untuk menemukan kejujuran yang lama dirimu tunda.
Sambungkeun rasana, sumbangkeun pikirna.
Tabik, Panglawungan Rasa, Majelis ‘Ilmu Muhammad Ainun Nadjib Kota Banjar








