Dalam terminologi Sunda, boboran adalah lebaran. momen pulang, momen membersihkan, momen merenggangkan yang sempat mengeras. Sementara babaran adalah kelahiran. munculnya yang baru, lahirnya sesuatu ke dunia. Dua kata ini seperti berdiri sendiri. Padahal barangkali mereka satu tarikan napas.
Apa arti lebaran jika tidak melahirkan apa-apa? Apa arti kembali jika tidak ada yang berubah?
Boboran sering dirayakan sebagai akhir. Padahal mungkin ia adalah awal. Awal dari sesuatu yang seharusnya lahir setelah ditempa oleh puasa, oleh lapar, oleh sunyi yang diam-diam mengajari.
Mbah Nun pernah mengingatkan, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan menata diri, menahan yang berlebih, merapikan yang berserakan, menjernihkan yang keruh di dalam hati. Jika demikian, maka puasa sebenarnya sedang menyiapkan ruang. ruang bagi sesuatu yang baru untuk lahir.
Lalu apa yang benar-benar lahir? Apakah hanya pakaian baru? Atau ada yang benar-benar tumbuh di dalam diri?
Dan dalam satu majelis sinau bareng, Mbah Nun juga menyebut bahwa “mudik” bukan sekadar pulang kampung, tetapi kesadaran untuk kembali, bahkan kembali kepada Allah sebagai pulang yang paling sejati.
Jika boboran adalah kepulangan, maka babaran adalah apa yang dibawa pulang dari perjalanan itu.
Babaran tidak selalu riuh. Ia bisa sangat lirih. Seperti keputusan kecil untuk lebih jujur. Seperti keberanian untuk memulai langkah yang selama ini ditunda. Seperti niat sederhana untuk tetap berjalan, meski pelan.
Bukankah yang lahir seringkali bukan sesuatu yang besar? Melainkan sesuatu yang Panceg dirawat, sedikit demi sedikit?
Dalam satu tulisan tentang keterlahiran baru, disampaikan bahwa manusia sesungguhnya terus menjadi baru setiap hari. tidak pernah sama dengan dirinya yang kemarin.
Namun sering kali, kebaruan itu tidak disadari, tidak dirawat, tidak dijaga agar benar-benar menjadi perubahan.
Jika boboran adalah kembali ke fitrah, maka babaran adalah keberanian menjaga fitrah itu agar hidup di keseharian.
Namun di titik ini, pertanyaan itu datang pelan-pelan:
Apa yang benar-benar dilahirkan setelah lebaran ini? Adakah yang berubah, atau hanya berganti suasana? Apakah lebaran hanya berhenti di maaf-maafan, atau benar-benar melahirkan langkah baru di dalam diri, maupun dalam gerak bersama?
Atau jangan-jangan, yang lahir belum sempat dirawat, sehingga kembali hilang sebelum sempat tumbuh?
Di sinilah barangkali yang sering luput. Bukan karena tidak ada kelahiran, tetapi karena yang lahir tidak dijaga.
Mbah Nun pernah mengingatkan dengan sederhana: yang sulit itu bukan memulai, tetapi merawat agar tetap hidup.
Maka mungkin, yang perlu dijaga bukan hanya momen lebarannya, melainkan apa yang sempat tumbuh di dalam diri setelahnya.
Apakah yang lahir akan dijaga? Atau dibiarkan perlahan memudar, kembali seperti semula?
Karena mungkin, yang paling sunyi dari seluruh peristiwa ini adalah: banyak hal telah lahir, tetapi sedikit yang benar-benar dibesarkan.
Mari duduk bersama. Melingkar. Bukan sekadar merayakan, tetapi menanyakan dengan jujur: Apa yang benar-benar dilahirkan kali ini? Dan adakah kesediaan untuk merawatnya, meski pelan, meski sunyi?
Karena mungkin, lebaran bukan tentang selesai. Melainkan tentang berani memulai, LAGI.








