Sinau Bareng malam ini mengusung tema “Bobo(do)ran Shiyam”, sebuah plesetan dari boboran (kelahiran) istilah yang lazim digunakan saat momentum lebaran 1 Syawal, khususnya di tatar pasundan. Suguhan tema yang mengajak kita merenungi makna terdalam dari ibadah puasa. Kata “boboran” yang identik dengan suasana Idul Fitri kita tarik lebih dalam untuk renungan bersama menjadi “bobo(do)ran”—sebuah isyarat tentang kemungkinan “kebocoran” nilai-nilai puasa dalam diri kita. Apakah puasa yang kita jalani benar-benar menghadirkan ketakwaan, atau justru hanya menyisakan formalitas tanpa ruh?
“Bobo(do)ran Shiyam” kita jadikan sebagai pintu masuk untuk bercermin : jangan-jangan puasa yang kita jalani selama sebulan penuh hanya menyentuh permukaan, sekadar menggugurkan kewajiban, belum menembus kedalaman jiwa. Al-Qur’an mengingatkan bahwa tujuan shaum adalah agar kita bertakwa—“la‘allakum tattaqūn” (QS. Al-Baqarah: 183). Namun, takwa bukan sekadar status spiritual yang diklaim setelah Ramadhan, melainkan kualitas hidup yang membentuk kejujuran, kepekaan, dan keberanian melawan kepalsuan, menegakan lelaki nilai kebenaran yang di titah Tuhan. Dalam sabda Nabi Muhammad SAW: “Banyak orang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.” (HR. Ahmad). Maka, tema ini mengajak kita bertanya : apakah kita benar-benar berpuasa, atau hanya “guyonan – bobo(do)ran – pura pura – pencitraan” atas puasa itu sendiri?
Dalam pandangan Emha Ainun Nadjib (Mbah Nun), kita hidup di zaman yang penuh kepalsuan—di mana yang tampak seringkali bukan yang sejati, dan yang sejati justru tersembunyi. Puasa sejati adalah proses membongkar kepalsuan itu, baik dalam diri maupun dalam sistem kehidupan. Ia bukan hanya menahan lapar, tetapi menahan ego, ambisi, dan kecenderungan untuk berpura-pura baik. Puasa adalah latihan kejujuran eksistensial—di mana hanya Allah yang tahu apakah kita benar-benar berpuasa atau tidak. Maka, ketika puasa tidak mengubah cara kita memandang dunia, memperlakukan sesama, dan menata niat, di situlah “boboran” itu terjadi: kebocoran makna, kehilangan ruh, dan kegagalan mencapai hakikat.
Kembali mengutip wejangan Mbah Nun; “Idul Fitri adalah rohani, Hari Raya adalah jasad. Idul Fitri adalah software, hari Raya adalah hardware.”
“Jika manusia sebagai subjek, kehilangan kemampuan untuk menemukan garis sangat tipis – pilihan antara idul Fitri dengan hari raya, maka disitulah letak jumudnya peradaban”.
Momentum Idul Fitri seharusnya bukan sekadar perayaan lahiriah, melainkan titik pulang menuju fitrah—kembali pada kejernihan hati, ketulusan niat, dan kesadaran akan posisi diri sebagai hamba. Idul Fitri bukanlah garis akhir, tetapi justru awal dari pembuktian kesungguhan diri : apakah nilai-nilai shaum benar-benar hidup dalam keseharian kita. Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan bahwa yang paling mulia adalah yang paling bertakwa (QS. Al-Hujurat: 13), bukan yang paling meriah merayakan. Maka, “Bobo(do)ran Shiyam” menjadi kritik sekaligus undangan; mari kita periksa ulang puasa kita, benahi kebocoran-kebocoran makna, dan jadikan Idul Fitri sebagai momentum kelahiran kembali manusia yang lebih jujur, lebih bening, dan lebih dekat kepada Allah SWT.
Lingkar Daulat Malaya, Maret 2026








