DI MEMPHIS DIPERKENALKAN DENGAN MBAK ANDI

Ketika masuk lobby hotel, ketemu sama Prof.  Hamidah, dari Malaysia. Sosok yang enerjik dan inspiratif. Beliau menyapa duluan.

“Hi Eddy, what’s your plan tonight?”

I have no plan,” jawab saya.

“So is it OK for you if someone take us out for dinner?”

“Sure !!”

Sore hari sesudah maghrib ada text di WA

“Hi Eddy, this is Andi. Bisa turun ke lobby, saya tunggu ya.”

Saya bergegas turun ke lobby dan melihat Prof. Hamidah bersama seorang perempuan dengan potongan rambut cepak. Sambil mengulurkan tangan wanita berambut cepak memperkenalkan diri. 

“Saya Andi.”

Spontan saya berkomentar. 

“Laaah saya  pikir Andi tu cowok,” sambil saya sebut nama saya, memperkenalkan diri. 

Mbak Andi ketawa. 

“Lha kok kenal sama Prof. Hamidah?” tanya saya. 

“Lho kan saya kerja di St. Jude juga.”

“Lhoooo rak gitu…,” jawab saya. 

“Mas Eddy ini Jawa banget ya logatnya.”

“Iya mbak saya dari Jogja. Mbak Andi dari mana?”

“Saya dari Bugis, Mas, tapi pernah tinggal di Jogja untuk S1 dan S2 saya.”

“Lhaaa kalo gitu kan Andi ini bukan nama, tapi gelar keturunan raja!,” komentar saya. 

Temen saya yang dari Malaysia ini pun tersentak… kaget!, dan baru ngeh kalo Andi itu bukan ‘nama’ kalau di wilayah Sulawesi Selatan. Kalau di Jogja sih nama Andi, banyak. Ada Andi yang musisi Bayou, ada Andi marketing perumahan, ada Andi insinyur peternakan dan lain-lain Andi.

Sementara Prof. Hamidah mendengarkan dengan saksama dan sesekali nyeletuk dalam bahasa Inggris. Bukan sok keinggris-inggrisan, hanya semata-mata agar maksud dari komentar beliau pas. Karena tidak bisa kita pungkiri walaupun sesama dari induk Melayu, tetapi kadang beberapa bahasa/kata tidak saling kita pahami. 

Dengan Mazda-3 nya kami dibawa ke rumah makan Mexican, yang berjarak 15 menit dari hotel. Kami memilih menu pilihan masing-masing, dan Mbak Andi memilihkan untuk kita juga menu untuk bersama, sebuah makanan yang berbasis apokat yang dicampur campur dengan bumbu bawang, garam dan cabe kering, serta ada beberapa khas herbal dari Meksiko. Namanya guacamole. Rasanya sangat lezat! Saya hampir tak bisa membayangkan kok bisa apokat bisa selezat itu dengan bumbu semacam itu. Lha wong saya kalau makan apokat mesti dicampur santan ataupun kopi. Dan harus manis. Lha kok ini ada sentuhan baru di lidah saya tentang apokat ini.

Kami bertiga bicara ngalor-ngidul. Mulai dari sejarah kuliah Mbak Andi yang di Yogya, tepatnya kuliah di Sanata Dharma untuk S1-nya dan di UNY untuk S2-nya. Pada waktu kuliah, Mbak Andi tinggal di bilangan Sagan, persis di belakang RS Panti Rapih. 

Mbak Andi baru 6 bulan bergabung di St. Jude. Setelah sebelumnya malang melintang selama 15 tahun di San Fransisco. Saya kaget, terbelalak. Apa yang kau cari wahai Mbak Andi? Pindah dari San Fransisco ke Memphis, ibarat pindah dari Jakarta ke sebuah desa di wilayah luar Jawa yang jauh dari keramaian. Kemudian Mbak Andi menceritakan apa yang membuat dia mau dan ternyata betah di Memphis. Ternyata adalah karena dia bekerja untuk sesuatu yang mulia dan luhur.

Untuk anak-anak yang menderita! 

Mbak Andi sendiri malang melintang di beberapa perusahan seperti Google dan WhatsApp. Lalu apa yang dikerjakan Mbak Andi di St. Jude sini? Ternyata sebagai seorang yang bergelut di bidang teknologi informasi, kerjaan Mbak Andi tidak jauh-jauh dari itu. Di sini Mbak Andi berada di departemen Global Communication. Sebagai seorang yang berkecimpung di bidang komunikasi dan IT kerjaan Mbak Andi ini di antaranya adalah menyampaikan pesan-pesan kesehatan yang berhubungan dengan penyakit kanker anak yang diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa dalam sebuah situs milik RS St. Jude. 

Namun sayang untuk bahasa Indonesia maupun bahasa Melayu belum ada di situs tersebut. Nah inilah salah satu PR berikutnya dari Mbak Andi, yang sekarang sedang mengerjakan terjemahan ke bahasa Swahili dan Tamil. Begitulah sekilas tentang Mbak Andi, yang juga bercerita banyak orang Indonesia yang tinggal di Memphis, kira-kira 100-an orang lebih! Salah satunya ada yang menjadi petinggi di Fedex, sebagai kepala IT di perusahaan raksasa itu. Saya masih penasaran dengan keberadaan Mbak Andi di kota ini setelah pindah dari kota besar sekaligus indah yaitu SF, lalu ketika saya tanya mau kembali ke SF enggak?  

“Never!, ”jawabnya singkat. 

SQ037

Lihat juga

Back to top button