Background Ambience
Ziarah Batin
Mukaddimah

Ziarah Batin

Mukaddimah Tong-il Qoryah September 2026

MyMaiyah.id
MyMaiyah.id

Ada perjalanan yang ditempuh dengan kaki, ada perjalanan yang ditempuh dengan pikiran. Tetapi ada perjalanan yang paling jauh sekaligus paling dekat: perjalanan menuju ke dalam diri sendiri.

Malam ini kita menyebutnya Ziarah Batin. Ziarah adalah datang dengan kesadaran bahwa sesuatu yang kita datangi memiliki makna. Maka ketika yang kita datangi adalah batin kita sendiri, kita tidak datang dengan kesombongan seorang hakim, melainkan dengan kerendahan hati seorang musafir. Kita datang menengok kembali apa yang selama ini bersemayam di dalam diri: pikiran yang berisik, perasaan yang kita sembunyikan, ego yang sering menyamar sebagai kebenaran, luka yang belum selesai, keyakinan yang mungkin hanya tinggal ucapan, serta kesadaran yang kadang tertidur di tengah hiruk-pikuk kehidupan. Sebab betapa aneh manusia: kita begitu sibuk mengenali dunia, tetapi sering lupa berkenalan dengan dirinya sendiri. Kita mengetahui harga banyak barang, tetapi tidak mengetahui harga ketenangan. Kita hafal keinginan hati, tetapi lupa bertanya kepada hati: “Apa sebenarnya yang engkau cari?” Maka ziarah batin adalah keberanian untuk berhenti sejenak, menyalakan lampu ke dalam diri, lalu melihat dengan jujur: siapa sebenarnya yang sedang mengendalikan hidup kita? Dan di dalam perjalanan itu, kita perlu membawa satu kesadaran yang sederhana tetapi sering kita lupakan: kita akan mati. Memento mori. Ungkapan Latin itu mengingatkan manusia bahwa kematian bukan sesuatu yang berada di ujung kehidupan saja. Ia adalah bayang-bayang yang diam-diam selalu berjalan bersama kita. Mengingat mati bukan berarti membenci dunia. Justru dengan mengingat mati, kita belajar mencintai kehidupan secara lebih jernih. Kesedihan pun sesekali perlu kita dengarkan. Sebab ada kesedihan yang tidak datang untuk menghancurkan kita, tetapi untuk mengetuk pintu kesadaran: “Jangan terlalu lama menganggap dunia sebagai milikmu, karena semuanya akan engkau tinggalkan.” Harta akan ditinggalkan. Nama akan dilupakan. Tubuh akan kembali menjadi tanah. Dan yang kita bawa bukanlah apa yang berhasil kita kumpulkan, melainkan apa yang berhasil kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah. Karena itu Al-Qur’an memberi kita keseimbangan yang sangat indah dalam QS. Al-Qashash ayat 77:

وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ

“Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Ayat ini seakan mengajarkan: jangan meninggalkan dunia, tetapi jangan pula kehilangan akhirat karena dunia. Kita boleh bekerja. Kita boleh berdagang. Kita boleh membangun usaha dan mencari keuntungan.  Tetapi bagaimana jika bisnis kita jalani dengan iman? Ketika uang menjadi tujuan satu-satunya, manusia mudah kehilangan dirinya. Tetapi ketika iman ikut hadir dalam perdagangan, keuntungan bukan lagi sekadar angka; di dalamnya ada kejujuran, amanah, keberkahan, dan kemanfaatan. Kita tidak hanya bertanya: “Berapa yang saya dapat?” Tetapi juga: “Dari mana saya mendapatkannya, bagaimana cara mendapatkannya, dan untuk apa saya menggunakannya?” Sebab dunia boleh berada di tangan kita, tetapi jangan sampai ia menetap terlalu dalam di hati kita. Dan dalam perjalanan batin itu, kita tidak berjalan sendirian.  Ada sosok agung yang menjadi teladan perjalanan manusia menuju rahmat dan akhlak: Kanjeng Nabi Muhammad . Dalam kecintaan kita kepada beliau, kita belajar bahwa batin manusia tidak cukup hanya dipenuhi pengetahuan. Ia membutuhkan akhlak, kasih sayang, kejujuran, dan pengabdian kepada Allah. Kita hadir sebagai manusia karena kehendak Allah, dan dalam perjalanan iman kita mengenal jalan rahmat melalui Kanjeng Nabi. Maka kecintaan kepada beliau hendaknya tidak berhenti sebagai kata-kata, tetapi perlahan menjelma menjadi cara kita memandang manusia, mencari rezeki, memperlakukan sesama, dan menjalani kehidupan. Maka, Ziarah Batin bukanlah perjalanan untuk melarikan diri dari dunia. Ia adalah perjalanan untuk menempatkan dunia pada tempatnya. Kita menengok ego agar tidak menjadi Tuhan kecil di dalam diri. Kita menengok luka agar ia tidak berubah menjadi kebencian. Kita menengok kesedihan agar ia mengingatkan kita kepada kematian. Kita menengok harta agar ia menjadi amanah. Kita menengok pekerjaan dan bisnis agar menjadi jalan kemanfaatan. Kita menengok kehidupan agar tidak lupa kepada akhirat. Dan akhirnya, kita menengok diri sendiri agar menemukan kembali arah perjalanan: dari Allah, menjalani kehidupan sebagai amanah dari Allah, dan pada akhirnya kembali kepada Allah. Barangkali selama ini kita terlalu sibuk melakukan perjalanan ke mana-mana, tetapi lupa melakukan perjalanan ke dalam diri. Malam ini, mari kita pulang sebentar ke rumah yang paling dekat dengan kita: batin kita sendiri. Kita ketuk pintunya perlahan.  Kita duduk di dalamnya dengan rendah hati. Lalu kita tanyakan kepada hati: Apa yang sebenarnya sedang engkau kejar? Apa yang sedang engkau cintai? Apa yang sedang menguasaimu? Dan apabila suatu hari kematian datang mengetuk, sudahkah hidup ini mempunyai arah untuk pulang? Semoga Ziarah Batin ini menjadikan kita lebih jujur kepada diri, lebih sadar akan kematian, lebih bijaksana memperlakukan dunia, lebih beriman dalam mencari rezeki, dan semakin dekat kepada Allah melalui kecintaan serta keteladanan Kanjeng Nabi Muhammad . Karena mungkin, perjalanan paling jauh bukanlah perjalanan menuju tempat yang belum pernah kita datangi. Melainkan perjalanan menuju kedalaman diri sendiri, agar setelah mengenali siapa kita, kita kembali ingat kepada siapa kita berasal, untuk apa kita hidup, dan kepada siapa kita akan pulang.

Redaksi Tong-il Qoryah.

Bagikan:
MyMaiyah.id

MyMaiyah.id

Tulisan Terbaru dari MyMaiyah.id

HOME