Maiyahan malam itu dibuka dengan Tawashshulan. Ikhtiar hati, jiwa, dan akal untuk mendekat kepada Allah dan Rasulullah, dan menyapa para malaikat. Setelahnya, jamaah saling memperkenalkan diri. Banyak yang hadir adalah mahasiswa terutama sekitar bangil. Mereka memperkenalkan nama, asal, kampus, dan fakultas. Beberapa baru pertama kali tahu Maiyah, sehingga mengajukan pertanyaan: seperti apa nilai-nilai Maiyah, apa tujuannya, dan apakah Maiyah merupakan sebuah kajian?
Pertanyaan-pertanyaan itu dicatat untuk nantinya dibahas bersama. Perkenalan berlangsung cukup lama karena banyaknya wajah baru malam itu. Di antara perkenalan itu, ada Pak Sri, yang datang dari Surabaya bersama istri dan dua putrinya. Ia mengaku senang bertemu anak-anak muda yang mau sinau bareng. “Selama adek-adek mau sinau bareng, Insya Allah masa depan Indonesia akan baik-baik saja” ujarnya.
Menanggapi pertanyaan para mahasiswa, Mas Ari menjelaskan bahwa Maiyah adalah ruang untuk melingkar, bersholawat, dan sinau bareng. Di berbagai titik, lingkaran-lingkaran Maiyah tumbuh dari inisiatif jamaah setelah mereka mengikuti pertemuan bersama Mbah Nun. Maiyah berarti kebersamaan. Ma‘a, yang antara lain hadir dalam ungkapan innallaha ma‘ana. Sesungguhnya Allah bersama kita. Dan juga ditemukan di “inna ma’iya rabbī sayahdin“. Sesungguhnya Tuhan bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Lingkar Maiyah, juga tumbuh di berbagai tempat di luar negeri, diantaranya Inggris, Belanda, Korea, Jerman, Malaysia, dan lainnya.
Pak Sri memberikan respons bahwa setiap makhluk memiliki naluri dasar untuk mencari cahaya. Sebelum ada istilah Maiyah, Ia sering mengikuti Padhangmbulan di Jombang. Awalnya, ia hadir kareng ingin bertemu Franky Sahilatua. Namun, lama-kelamaan muncul dorongan untuk datang. Ada energi yang menarik untuk datang kembali. Ada sesuatu yang membuatnya merasa terikat.
Mas Jufri menambahkan ada hawa yang khas di forum Maiyah. Atmosfer itulah yang membuat Pak Sri, misalnya, setia hadir selama 26 tahun. Banyak jamaah mula-mula datang karena Mbah Nun, lalu tetap bertahan meski beliau tidak hadir. Mereka menemukan kecocokan dalam nilai-nilai yang disampaikan dan mengalami ikatan yang sulit dijelaskan. Kaya pengalaman otentik yang susah dijelaskan dengan kata-kata.
Pak Baha mengaku bahagia malam ini karena banyak anak muda yang ikut. Di Maiyah siapa pun bisa belajar, yang diterima adalah manusianya. Sejak menjadi mahasiswa IAIN, ia kerap mengikuti Maiyahan di Banyuwangi, Tuban, dan Kediri. Dari satu pertemuan ke pertemuan lain, ia merasa terus terpanggil. Seusai Maiyahan, ia hampir selalu menulis karena menemukan nilai baru. Seperti embrio gagasan yang menarik untuk direnungkan.
Menurutnya, meskipun tidak melabeli tarekat, Maiyah sudah cukup syarat untuk itu. Ada nilai yang bisa dipegang sebagai “pancere urip”, pegangan dalam kehidupan. Maiyah ia ibaratkan sebagai organisme: tidak memiliki struktur yang kaku, tetapi bergerak karena nilai-nilai yang hidup di antara jamaah. Ketika seseorang melanggar nilai itu, rasa malu dapat muncul dari kesadaran dirinya sendiri.

Pak Baha juga menyebut Mbah Nun menempuh jalan sunyi. Di Maiyah, ia menemukan nilai kehidupan yang dicari dan energi yang membuatnya lebih teguh. Maiyah itu melingkar, nilai-lah yang menggerakkan manusia, kesetiaan pada nilai. Dari proses belajar bersama itu, orang mendapat bekal untuk menghadapi berbagai persoalan.
Kata Maiyah bisa berarti dengan “ma‘a”, yang berarti bersama, dan bisa juga berarti maa yang berarti “air”, air yang cair dan sulit dipecah. Kita mungkin tidak serta-merta menyelesaikan masalah. Dan ketika seseorang belum putus asa, barangkali kita belum benar-benar memahami Indonesia. Tetapi perjumpaan dan belajar bersama dapat mengubah cara pandang kita dalam melihat kenyataan. Kita sedang menjalani gelombang materialisme, golek bati tok, gak pernah puas terhadap hidup. Mengubah sistem secara langsung bukan perkara mudah. Karena itu, langkah awalnya adalah menyadari diri dan memeriksa kembali orientasi hidup.
Percakapan kemudian bergerak ke tema “Wani Piro”. Ungkapan itu sering dikaitkan dengan uang dan imbalan. Namun, Mas Ari mengajak jamaah melihatnya lebih mendasar, sebagai naluri makhluk hidup untuk bertahan, termasuk melalui pertukaran energi. Naluri itu memiliki spektrum—dan dalam kehidupan manusia, pertanyaannya adalah bagaimana kita mengelola kebutuhan, imbalan, dan pengorbanan.
Mas Rizal menyampaikan bahwa mencari nafkah dan bertransaksi merupakan bagian dari kewajiban kepala keluarga. Ada anak dan istri yang menunggu nafkah, dan kerja memang layak mendapat imbalan. Yang perlu diwaspadai adalah ketika semua hal diukur secara transaksional. Manusia, katanya, menjalani dua posisi: sebagai hamba yang mengabdi dan memohon rahmat serta ampunan Allah, dan sebagai khalifah yang bertugas di bumi. Dalam menjalankan tugas itu, manusia juga berdoa memohon kekuatan agar mampu berbuat baik bagi sesama.
Mas Juned memantik pembicaraan dengan urutan pertanyaan: “Wani lapo, Sing opo, Wani piro, dan Wani sepiro”. Ia mengajak jamaah mengambil jarak untuk memeriksa tujuan, cara, dan seberapa pengorbanan yang perlu dimiliki untuk memasuki kehidupan dan menghadapi tantangan.
Bagi Pak Baha, pertanyaan “wani piro” akhirnya perlu diarahkan kepada diri sendiri. Tentang seberapa besar keberanian kita berkorban untuk sesuatu yang lebih besar. Kita temukan dalam kisah Habil dan Qabil, yang diminta mempersembahkan kurban. Qurban Habil diterima oleh Allah SWT karena ia mempersembahkan hewan ternak terbaik dengan penuh ketulusan dan keikhlasan. Tema ini, menurutnya, bukan sekadar soal berapa imbalan yang akan diterima, tetapi juga apa yang rela kita berikan dan untuk tujuan apa.
Beberapa jamaah menghubungkan tema itu dengan keadaan yang lebih luas. Samsul Arifin, salah satu mahasiswa, menyampaikan kegelisahannya tentang krisis dan banjir informasi yang mungkin semakin deras, lebih dari kemampuan manusia memahami informasi tersebut. Ia bertanya apa yang bisa dilakukan manusia. Salah satu ikhtiar yang ia bayangkan terus belajar, muhasabah, memperbanyak orang-orang yang dekat dengan Allah dan bernegosiasi dengan alam supaya manusia tidak habis dihancurkan bencana.
Mas Rowy, mahasiswa dari Banten, menyebut bahwa dalam bahasa Sunda ungkapan “wani piro” serupa dengan “wani baraha”. Ia melihat pendidikan tidak hanya berlangsung di bangku kuliah. Lingkaran kecil seperti Maiyahan pun dapat menjadi ruang belajar, karena manusia belajar dari perjumpaan dan dari kepekaan terhadap keadaan.
Mbak Marhamah mengingat pengalamannya pernah menunggu Mbah Nun seusai acara untuk menyampaikan kegelisahan tentang Indonesia dan sulitnya mencari pekerjaan. Ia mengenang pesan yang diterimanya: membahagiakan orang tua dan menyelesaikan kuliah tetap menjadi tanggung jawab, meskipun seseorang juga ingin menyuarakan keadaan melalui demonstrasi. Pengalaman itu mengingatkannya bahwa niat mengubah keadaan perlu berjalan bersama tanggung jawab yang sedang diemban.
Mas Jufri bercerita bertemu istrinya di Bangbang Wetan dan membawa nilai-nilai Maiyah ke dalam cara mereka mendidik anak. Ia mengingat pesan Mbah Nun, “Jangan percaya saya.” Pesan itu ia pahami sebagai ajakan agar jamaah tidak berhenti pada perkataan seorang tokoh, tetapi mencari dan menguji nilai dan apa saja yang ditemui dengan kedaulatan berpikir masing-masing.
Mas Jufri juga mengingat cara Mbah Nun membongkar pemahaman yang terlanjur dianggap benar. Misalnya, apakah sekolah otomatis sama dengan pendidikan? Pertanyaan itu mengajak orang melihat kembali tanggung jawab pendidikan, yang pertama-tama berada pada orang tua. Bagi Mas Jufri, sikap tersebut bukan sekadar menolak pemahaman lama, melainkan mengajak jamaah memeriksa kembali dasar dari apa yang selama ini diyakini.
Bu Erwin, istri Pak Sri, berbagi tentang perjuangannya menyesuaikan diri ketika diajak mengikuti Maiyah. Pada awalnya, ia merasa berat menjalani malam yang panjang dan pulang menjelang Subuh, lalu harus kembali bekerja dan menyiapkan keperluan keluarga. Namun, proses itu memberinya pelajaran tentang syukur dan kelapangan hati. “Bisa makan itu sudah baik. Bisa buang air saja harus disyukuri,” tuturnya.
Ia belajar bahwa syukur memiliki banyak bentuk, dan hidup tidak selalu harus berjalan persis seperti yang diinginkan. Pengalaman itu mempengaruhi caranya menjalani peran sebagai istri dan guru, termasuk saat menghadapi murid dengan berbagai karakter.

Bu Erwin juga mengingatkan bahwa menyayangi anak tidak selalu berarti memberikan semua yang mereka sukai. Anak tetap perlu dibimbing dan dilatih menghadapi hidup. Baginya, manusia adalah pembelajar seumur hidup: belajar bersyukur, menjadi lentur dalam menghadapi masalah, dan menjalani hidup dengan lebih legawa. Pak Sri bercerita, salah satu bentuk wani-nya adalah komitmennya bersama keluarga ikut tinggal dan mengajar di pondok pesantrennya Yai Muzammil di Rohmatul Umam Bantul Yogyakarta selama 4 tahun tanpa bayaran. Mengalami banjir parah karena hujan deras yang tidak berhenti selama 2 minggu. Kemudia alhamdulillah dengan “pendekatan ala Maiyah”, banjir waktu itu bisa berhenti.
Melanjutkan perjalanan diskusi, Mbak Marhamah menggambarkan keadaan manusia seperti alegori gua Plato: orang bisa menganggap bayangan sebagai kenyataan, sampai ada yang berani keluar dan melihat dunia dengan cara baru. Alegori Gua Plato menggambarkan perjalanan manusia dari belenggu ilusi dan ketidaktahuan menuju kebenaran sejati melalui filsafat dan pendidikan. Melalui perumpamaan para tahanan yang dirantai di dalam gua gelap sejak kecil dan hanya bisa melihat bayangan di dinding,Mayoritas manusia menganggap dunia fisik dan informasi indrawi yang dangkal sebagai satu-satunya kenyataan. Namun, ketika salah satu tahanan berhasil melepaskan diri dan keluar melihat dunia nyata di bawah sinar matahari, ia menyadari bahwa apa yang dilihatnya di dalam gua hanyalah bayangan. Sering kali, orang yang sudah memahami dunia luar, menghadapi penolakan dan ketidakpercayaan dari mereka yang masih terjebak dalam zona nyaman ketidaktahuan.
Diskusi lantas sangat cair dan lebih interaktif. Obrolan bergerak dari satu ranah ke ranah yang lain dimana fenomena dan pengalaman wani piro terjadi. Pada diskusi, jamaah berlatih untuk memahami perspektif orang lain, berani memeriksa cara pandang sendiri, dan berdaulat dengan nilai yang akan diambil.
Sebagai penutup, Pak Baha mengajak jamaah menantang diri sendiri. Keberanian menjawab “wani piro”, menimbang seberapa besar pengorbanan yang sanggup kita berikan untuk cita-cita dan nilai yang kita yakini.
Malam itu, para jamaah membawa pulang banyak pertanyaan dan pengalaman. Di tengah kebiasaan menghitung untung-rugi, lingkaran Maiyah mengajak mereka berhenti sejenak, menimbang kembali tentang kenapa dan apa yang layak diperjuangkan serta apa yang berani dikorbankan untuk selamat di hadapan Tuhan.
Bismillah, terus berjalan.








