Malam itu (Selasa, 20 Oktober 2026) kualitas udara Samarinda kategori sedang (nilai 54,98) setelah pagi hingga menjelang malam kategori tidak sehat. Berlanjut pagi esoknya kembali kategori tidak sehat. Suasana melingkar sedikit gerah. Jerubu masih betah menyelimuti langit Samarinda. Beberapa kecamatan masih terdapat titik panas, karhutla. Pemadaman listrik bergilir juga menjadi hal baru, setelah lama aliran listrik tak pernah padam. Tengah hari hingga menjelang waktu Magrib area Pramuka dapat giliran pemadaman listrik. Hampir Maiyahan dalam suasana gelap-gelapan. Bolehlah agak geer, PLN seperti tau di area Pramuka akan ada Maiyahan. Sayang, malam itu giliran area Palaran yang gelap-gelapan akibat listrik padam. Mas Sam akhirnya membatalkan niatnya ke Maiyahan di Pramuka, berganti Maiyahan bersama anak dan istri.
20.30 dimulai belum lesehan. Duduk mengelilingi meja; Tono, Teguh, Bambang, Arka, dan Pakde Ardi. Sambung rasa cerita panjang lebar. Mbah Kodir datang melingkar dimulai. Tono memulai sebagai moderator, melandasi arah prasmanan ilmu dengan mukadimah Tanaman Moral.

Setelahnya Mbah Kodir dan Mas Arka bergantian melanjutkan. Moralitas teruji di tengah tumpukan masalah yang seolah tak bertepi, pertanyaannya kerap sama: dari mana kita harus mulai bergerak? Lihat saja krisis air bersih di Samarinda. Padahal, solusi sederhana bisa lahir dari hal-hal kecil di dekat kita. Seperti yang terbesit di benaknya Mas Arka, kondisi di kantor untuk penyejuk udara ukuran 1,5 PK jika nyala seharian menghasilkan limbah air kondensasi 5—10 liter. Harusnya bisa, diolah agar layak untuk menyiram tanaman. Solusi-solusi kecil seperti ini menunjukkan bahwa aksi nyata tidak selalu harus menunggu langkah besar.
Namun jika ditarik ke ranah yang lebih luas, memikirkan dan menyelesaikan segala persoalan publik sejatinya bukanlah sepenuhnya tugas masyarakat. Fenomena yang terjadi saat ini adalah masyarakat saling membantu masyarakat. Fenomena ini mempertegas bahwa kita tidak boleh berlaku oportunis dan hanya memikirkan diri sendiri di tengah krisis. Kompleksitas gaya hidup modern kerap melahirkan sifat oportunis, padahal yang kita butuhkan saat ini adalah kebersamaan untuk menjaga kestabilan sosial.
Prasmanan ilmu berlanjut ke Pakde Ardi dan Mas Panji. Kita harus mempersiapkan diri dengan belajar dari sejarah, kemarau panjang pertengahan 1997 hingga awal 1998 di Kalimantan Timur. Pada masa-masa krisis seperti itu, pangan menjadi kebutuhan yang paling fundamental. Sudah saatnya kita kembali melirik sistem lumbung—pola lama yang sering kali terburu-buru kita cap tradisional, padahal memiliki ketahanan yang diuji zaman. Dari sini timbul pertanyaan: ketahanan pangan ini sebenarnya menjadi tanggung jawab siapa? Ada dua sisi tindakan yang bisa ditempuh: bergerak langsung memperkuat masyarakat, atau berjuang menyadarkan pemerintah. Apa pun tindakan nyatanya, kita harus berani menentukan sikap—memperjelas siapa kawan bergerak dan siapa lawan dari cita-cita bersama.

Pada akhirnya, apa yang kita alami hari ini sejatinya adalah perulangan dari fenomena-fenomena kenabian. Untuk lepas dari teror ketakutan dan cengkeraman “sihir Dajjal” berupa konsumerisme serta sikap oportunis, kita perlu menyadarkan diri melalui pola pendekatan kenabian (sinau Rububiyah). Langkah ini bisa dimulai dari majelis-majelis ilmu yang menerapkan pola pendidikan kenabian. Kapan kita memulainya? Mulailah hari ini, dengan mentaddaburi Surah Quraisy dan Surah Yunus ayat 3—tentang mahakuasanya Allah dalam pengayoman segala urusan alam semesta dan kehidupan manusia.
Disebabkan oleh kebiasaan orang-orang Quraisy. Kebiasaan mereka berpergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan rumah ini. Yang telah memberikan mereka makanan untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut. Quraisy ayat 1—4.
Sesungguhnya Tuhamu adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy mengatur segala urusan. Tidak ada seorang pun pemberi syafaat, kecuali setelah izin-Nya. Itulah Allah, Tuhanmu. Maka, sembahlah Dia! Apakah kamu tidak mengambil pelajaran? Yunus ayat 3.









