Background Ambience
Wong Bodho Gresik Belajar ke Vespa Soal Ngegas Ngerem
Cerita Simpul

Wong Bodho Gresik Belajar ke Vespa Soal Ngegas Ngerem

Liputan 1 Sinau Ngegas Ngerem bersama Mas Sabrang MDP

Febrian Kisworo
Febrian Kisworo

“Kumpul jadi wong bodoh? Biar apa?”

Pertanyaan pancingan Mas Sabrang Mowo Damar Panuluh (SMDP) itu terdengar seperti guyon. Namun, pertanyaan tersebut menjadi pembuka sinau bareng pada Rabu malam 5 Agustus 2026, di Alun-Alun Wong Bodho, Pondok Mburi, Desa Sidowungu, Kecamatan Menganti, Gresik.

“Biar pinter bareng.”

Jawaban itu segera menyusul. Yayasan Berkah Wong Bodho menempatkan diri sebagai pembelajar kehidupan. Kumpulan orang yang tidak merasa sudah pintar, sehingga masih mau duduk bersama untuk belajar.

Dalam agenda Ngaji Cangkruk Sinau Bareng bertajuk “Sinau Ngegas Ngerem: Merawat Solidaritas, Menata Arah Perjalanan”, Mas Sabrang kemudian membawa pembicaraan pada alasan manusia berkumpul.

Vokalis Letto itu menyebut, ada orang berkumpul karena ingin mendapatkan keuntungan. Ada yang menjaga nilai melalui organisasi masyarakat. Ada pula yang berkumpul di partai untuk memperjuangkan ideologi.

Lalu, bagaimana dengan teman-teman Vespa?

Pertanyaan itu dilemparkan kepada Andi, perwakilan komunitas Vespa yang masuk dalam sesi diskusi sinau bareng malam itu. Jawabannya, mereka berkumpul karena hobi. Tidak harus memiliki Vespa untuk ikut berkumpul. Yang penting, Vespa sudah berada di hati.

Mas Sabrang menangkap jawaban tersebut sebagai kesempatan untuk belajar dari Vespa secara jangkep. “Kalau kesenangan yang sama bisa mempertemukan orang, apa yang kemudian tumbuh dari pertemuan tersebut?” goda Mas Sabrang dengan pertanyaan lagi.

Ternyata, perkumpulan teman-teman Vespa tidak berhenti pada urusan nongkrong. Ada silaturahmi, kegiatan bersama, ketenangan, sekaligus solidaritas yang dirawat secara kolektif.

Vespa, Hobi yang Mengajari Makna Solidaritas

Mas Sabrang kemudian mengajak kita menoleh pada sejarah Vespa yang bermula dari Piaggio, sebuah perusahaan yang memproduksi pesawat terbang di Italia. Ketika Perang Dunia II berlangsung, pabrik Piaggio menjadi sasaran pengeboman. Fasilitas produksinya hancur. Kondisi itu membuat mereka tidak bisa begitu saja kembali memproduksi pesawat.

Pemilik perusahaan kemudian harus mencari jalan lain agar usaha tetap bertahan. Kebutuhan masyarakat pascaperang menjadi salah satu pertimbangan. Para insinyur yang terbiasa merancang pesawat mendapat tantangan baru. Mereka diminta memikirkan kendaraan sederhana yang bisa digunakan masyarakat.

Biasanya merancang pesawat, kali ini mereka harus memikirkan kendaraan kecil. Dari proses itulah Vespa kemudian lahir dan berkembang. Bagi Mas Sabrang, bagian menarik dari sejarah tersebut bukan semata bagaimana Vespa akhirnya diproduksi. Yang menarik adalah cara orang-orang di dalamnya menghadapi keadaan ketika pabrik hancur dan pekerjaan mereka berubah.

Pabrik sudah rata dengan tanah. Namun, mereka tidak berhenti mencari kemungkinan lain. Tidak lagi sekadar sambat melihat keadaan, tetapi mencari cara agar tetap bisa tandang. Menurut Mas Sabrang, dari situ ada pelajaran yang bisa dibawa ke kehidupan sehari-hari.

Perkumpulan Vespa tidak cukup berhenti pada hobi dan kesenangan berkendara. Ada sejarah yang bisa dipelajari dari kendaraan tersebut. Perusahaan pembuatnya pernah menghadapi kehancuran. Namun, dari situ justru muncul keberanian mencari jalan keluar.

“Temen-temen Vespa adalah representasi dari nilai resiliensi. Vespa itu resiliensi, dibuat dalam menghadapi kesusahan,” tutur Mas Sabrang.

Resiliensi itu kemudian terasa dalam cerita Andi tentang kebiasaan para pevespa membantu orang lain di jalan. Pertolongan tidak selalu diberikan kepada sesama anggota Vespa. Ketika menemukan kendaraan mogok, siapa pun bisa dibantu.

Anak-anak Vespa, lanjut Andi, biasanya membawa peralatan sendiri. Kunci-kunci tersebut akhirnya berguna ketika ada orang lain membutuhkan pertolongan.

“Salam mesin kanan.” Semboyan yang akrab di telinga pevespa Indonesia itu langsung disambut gelak dan tawa warga yang mengikuti diskusi.

Menurut Andi, tidak perlu bertanya lebih dahulu apakah orang yang ditolong merupakan anggota komunitas atau bukan. Kalau ada masalah dan bisa membantu, berhenti. Membantu sebisanya.

“Jadi, di Vespa tidak harus menunggu ada bencana, tidak harus ada kesusahan. Solidaritas nomor satu. Tidak ada kesusahan saja solidaritas nomor satu, apalagi ketika ditimpa kesusahan,” ungkapnya.

Mas Sabrang kemudian mengingat pengalamannya di Jogja. Beberapa kali ia melihat sendiri bagaimana anak-anak Vespa bergerak ketika ada persoalan kendaraan. Bentuk motor mereka boleh saja bermacam-macam. Ada setang tinggi, modifikasi aneh, bahkan Vespa yang dibuat menyerupai rumah.

Namun, Vespa tidak lagi hanya soal kendaraan tua, hobi, atau bentuk modifikasi. Ia menjadi contoh kecil tentang bagaimana sebuah kelompok bergerak ketika menemukan persoalan.

Berpijak pada persoalan tersebut, Mas Sabrang membawa cerita solidaritas Vespa ke konteks yang lebih luas, yakni kehidupan ke-Indonesia-an. Menurutnya, tolong-menolong sebenarnya sudah menjadi watak masyarakat Indonesia. Yang sering membuatnya renggang justru identitas yang tidak perlu.

Persamaan akhirnya lebih penting dicari daripada perbedaan. Sebab, ketika persamaan ditemukan, selalu ada alasan untuk saling membantu. Hobi Vespa menjadi salah satu contohnya.

Begitu pula komunitas motor lain. Ada yang berkumpul karena RX King, dan sebagainya. Masing-masing memiliki ruang perkumpulannya sendiri. Tidak ada persoalan selama hobi tidak berubah menjadi alasan menutup pintu bagi orang lain. Yang berbahaya, kata Mas Sabrang, ketika identitas dipakai sebagai syarat untuk menolong orang lain.

“Kalau bukan kelompok saya, tidak perlu saya bantu. Kalau bukan bagian dari komunitas saya, bukan urusan saya. Itu yang bahaya,” jelasnya.

Padahal, pengalaman teman-teman Vespa menunjukkan hal sebaliknya. Orang yang bukan anggota pun tetap bisa dibantu ketika mengalami masalah. Dari solidaritas, pembicaraan kemudian masuk pada tema utama malam itu: Sinau Ngegas dan Ngerem.

Sebelum Ngegas, Tahu Tujuan Mau ke Mana

Boim, salah seorang jamaah yang naik ke panggung, mengatakan bahwa hidup tidak mungkin hanya dijalankan dengan terus menginjak gas. Gas memang membuat kendaraan bergerak. Namun, pengendalian diri tetap dibutuhkan agar perjalanan tidak sampai menyusahkan orang lain.

“Caranya yang presisi bagaimana? Untuk berjalan ke depan memang membutuhkan pedal gas, tetapi tetap perlu pengendalian diri lewat konsep ngerem. Tentu ada step by step prosesnya. Bagaimana agar hidup kita tertata, agar dalam perjalanan ini kita tidak sampai menyusahkan orang lain?” tanyanya.

Menjawab Boim, Mas Sabrang menggeser pembicaraan pada hal yang lebih mendasar sebelum seseorang memutuskan untuk ngegas, ngopling, atau ngerem. “Pertanyaannya kemudian, tujuan’e mau ke mana? Itu yang paling penting dulu.”

Menurutnya, setiap hendak melakukan sesuatu, pertanyaan pertama yang perlu diajukan kepada diri sendiri adalah tujuan. “Mau ke mana sih? Karena semua perilaku dan keputusan itu membawa kita dari tempat A menuju tempat B,” lanjut Mas Sabrang.

Jika sekarang berada di tempat A, seseorang perlu tahu lebih dahulu hendak menuju ke mana. “Setelah itu, baru kita pegang motor. Di motor itu, bayangkan diri kita sendiri ada potensi.”

Potensi pertama adalah bergerak cepat dengan menginjak gas. Namun, gas tidak akan bekerja tanpa bahan bakar. “Kalau tidak ada bahan bakar, tidak akan bisa digas. Digas ya tidak bisa jalan,” ungkapnya.

Masalahnya, bahan bakar memiliki batas. Begitu pula waktu dan energi manusia. Karena itu, gas tidak boleh digunakan sembarangan. Energi yang dikeluarkan perlu diarahkan ke tujuan yang sudah ditentukan. “Jadi kalau ngegas, pastikan arahnya ke tujuan yang memang sudah dipikirkan pertama kali itu,” kata Mas Sabrang.

Mas Sabrang kemudian memberi contoh ketika seseorang sedang emosi. Energinya bisa keluar banyak, tetapi belum tentu membawa persoalan menuju penyelesaian. Bahkan, emosi yang tidak terkendali justru bisa menghasilkan keluaran lebih buruk karena energi sudah terlanjur terbuang.

Setelah gas, ada kopling. Dalam analogi Mas Sabrang, kopling menggambarkan akal yang membuat seseorang tidak langsung mengambil langkah besar. “Kalau bisnis itu investasi seratus juta, tidak begitu. Koplingnya masuk satu dulu, dicoba sepuluh juta dulu.”

Jika sudah berjalan baik, barulah kecepatan bisa ditambah sesuai keadaan. Kemudian ada lampu merah. Pada situasi itu, kendaraan tidak bisa terus melaju hanya karena sebelumnya sudah menginjak gas. Kadang-kadang, gas dan rem tidak sepenuhnya dikendalikan oleh keinginan pribadi. Situasi juga ikut menentukan.

“Kalau tujuanmu ke sebuah tempat terus ketemu lampu merah, tapi tetap lanjut berjalan, akan bertabrakan,” urai Mas Sabrang.

Eling Tujuan, Waspada di Tengah Perjalanan

Ngegas dan ngerem merupakan kemampuan membaca situasi sambil tetap mengingat tujuan yang hendak dicapai. Konsep tersebut kemudian dihubungkan Mas Sabrang dengan ungkapan yang akrab dalam kehidupan masyarakat Jawa: eling lan waspada.

Eling berarti tetap mengingat tujuan. Waspada berarti memperhatikan keadaan selama perjalanan. “Kadang-kadang perlu ngerem, kadang-kadang perlu ngegas. Lihat keadaan,” sambung Mas Sabrang.

Bukan perkara pokoknya ngegas karena bahan bakar masih banyak. Ada perempatan. Ada lampu merah. Ada pengguna jalan lain yang juga harus diperhitungkan. Jika tetap menginjak gas ketika lampu merah menyala, bukan hanya tujuan yang gagal dicapai. Orang lain juga bisa terkena dampaknya. “Sebenarnya kuncinya itu saja, eling lan waspada,” tegasnya.

Energi, waktu, hingga kalimat yang dikeluarkan manusia semuanya memiliki batas. Karena terbatas, setiap energi yang keluar perlu diperiksa kembali arahnya. Untuk apa digunakan dan hendak dibawa menuju mana.

Manusia yang tidak memiliki tujuan, menurut Mas Sabrang, akan mudah mbambung. Energinya terbuang tanpa arah yang jelas. Lantas, bagaimana jika seseorang tidak memiliki tujuan dunia?

Mas Sabrang menyebut hal tersebut bukan persoalan. Sebab, tujuan akhirat juga sudah disediakan. “Saya ora pengen sugih-sugihan, ora pengen pinter-pinteran, ora pengen ampuh-ampuhan. Kanjeng Nabi pernah dhawuh, pengen o surga,”

Artinya, setiap tindakan diarahkan kepada sesuatu yang membawa diri semakin dekat dengan tujuan tersebut.

Mas Sabrang kemudian menceritakan pengalamannya ketika berada di Wonosobo. Saat itu, seseorang bertanya mengenai pilihan antara belajar atau berpacaran. “Saya lagi kuliah, saya sekarang belajar atau pacaran?”

Jawabannya kembali pada tujuan. Jika tiga tahun mendatang ingin menggendong anak, pacaran bisa menjadi pilihan. Namun, jika ingin mendapatkan pekerjaan, waktu kuliah lebih tepat digunakan untuk belajar.

“Apa yang kita lakukan sekarang ini akan dihakimi diri kita di masa depan,” terang Mas Sabrang. Karena itu, manusia perlu eling terhadap masa depan.

Gas dan rem tidak ditentukan oleh keinginan sesaat, tetapi oleh cita-cita dan tujuan yang hendak dicapai. Masalahnya, bagian yang sering diabaikan justru soal eling. Manusia kerap lupa bertanya kepada dirinya sendiri tentang tujuan dari tindakannya.

“Aku begini mau apa ya? Tujuannya ke mana ya? Ora jelas e. Output apa yang diharapkan?” tanya Mas Sabrang.

Menurut Mas Sabrang, orang yang terus mengingat tujuan akan lebih mudah menjaga tindakannya tetap berada pada jalur. Karena itu pula, kemarahan tidak selalu berguna. Ketika terjadi serempetan di jalan, misalnya, emosi justru bisa membuat persoalan semakin panjang.

“Tujuannya apa? Agar terpecahkan masalahnya. Kalau kalah bagaimana? Ya tidak masalah.”

Yang penting bukan menang atau kalah. Yang penting menemukan langkah paling strategis agar persoalan dapat diselesaikan. Cara berpikir seperti itu, menurutnya, sering belum dimiliki anak-anak muda karena energi mereka masih besar dan mudah meledak.

Sementara orang yang lebih berusia mulai memahami bahwa energi perlu digunakan secara efektif dan efisien. “Kalau anak-anak muda dari sekarang sudah berpikir seperti itu, waktu yang digunakan bisa lebih efektif.”

Tiga tahun lagi hendak sampai mana? Lima tahun lagi hendak melakukan apa? Sepuluh tahun lagi ingin berada di titik mana? Tidak masalah jika semua belum berjalan sesuai rencana. Yang penting, seseorang sudah memiliki pegangan untuk menentukan kapan harus ngegas dan kapan perlu ngerem.

Sebab, hidup selalu memiliki waktu untuk menambah kecepatan sekaligus mengurangi kecepatan. Bisa saja hari ini harus ngegas, besok perlu ngerem. Tidak ada aturan bahwa hidup harus terus bergerak dengan kecepatan yang sama.

Pertanyaannya kemudian, berdasarkan apa gas dan rem digunakan? Jawabannya kembali pada cita-cita atau tujuan yang hendak dicapai. “Eling-eling. Kalau lupa, ditulis. Pokoknya tiga tahun lagi aku duwe pendapatan seratus juta, itu usaha,” Mas Sabrang memberikan contoh.

Kalaupun target tersebut tidak tercapai, menurut Mas Sabrang, tidak perlu langsung menganggap semuanya sebagai kegagalan. Namanya juga hidup. Kegagalan akan selalu menjadi bagian dari perjalanan.

Lalu, bagaimana melihat kegagalan? Mas Sabrang menawarkan cara pandang berbeda ketika seseorang merasa rencananya belum sesuai harapan. “Apakah dibenci Tuhan? Melihatnya dengan cara yang berbeda. Mungkin Tuhan lagi kangen suaramu, nyanyianmu,”  Nyanyi yang dimaksud bukan menyanyi dalam arti sebenarnya. Melainkan lebih banyak berdoa nyuwun paring-paring kepada Tuhan.

Bagikan:
Febrian Kisworo

Febrian Kisworo

Penggiat Simpul Maiyah Damar Kedhaton Gresik Jawa Timur.

Tulisan Terbaru dari Febrian Kisworo

HOME