Background Ambience
Sinau Ngegas Ngerem: Merawat Solidaritas, Menata Arah Perjalanan
Mukaddimah

Sinau Ngegas Ngerem: Merawat Solidaritas, Menata Arah Perjalanan

Mukaddimah Damar Kedhaton Agustus 2026

MyMaiyah.id
MyMaiyah.id

Tidak semua perjalanan dapat diukur dari seberapa jauh seseorang melangkah. Sebuah perjalanan justru benar-benar dimulai ketika manusia bersedia memperlambat langkahnya, menepi sejenak, lalu bertanya kepada dirinya sendiri: ke mana sebenarnya aku sedang menuju?

Hampir setiap hari kita menjumpai pemandangan yang serupa. Seseorang berangkat pagi, pulang larut malam, berpindah dari satu kesibukan ke kesibukan lain, menghadiri berbagai pertemuan, menyelesaikan target pekerjaan, bahkan menempuh ribuan kilometer perjalanan. Dari kejauhan, semuanya tampak sebagai tanda produktivitas dan keberhasilan.

Namun, belum tentu semua itu merupakan perjalanan yang sesungguhnya. Sebab, bergerak tidak selalu berarti bertumbuh. Melangkah tidak otomatis berarti menemukan ketepatan arah. Ada orang yang hidupnya dipenuhi aktivitas, tetapi batinnya justru berjalan di tempat. Sebaliknya, ada yang sesaat memilih berhenti sejenak, mengambil jeda, membaca ulang dirinya sendiri, lalu menemukan keberanian untuk mengubah arah hidup yang dijalani.

Pada titik itu perjalanan memperoleh makna. Perjalanan bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, melainkan proses bertumbuh sebagai manusia. Belajar mengenali diri, memaknai sesama, sekaligus menyadari kehadiran Gusti Allah dalam setiap langkah kehidupan. Sebab, hidup tidak hanya membutuhkan keberanian untuk terus ngegas, tetapi juga kebijaksanaan untuk mengetahui kapan saatnya ngerem.

Di tengah zaman yang bergerak semakin cepat, manusia semakin terampil menekan pedal gas daripada memahami fungsi rem secara substansial. Tanpa disadari, kita kerap terlena dalam buaian fatamorgana yang tampak manis melalui branding diri di media sosial, ukuran materi, maupun capaian-capaian duniawi. Kita berlomba mengejar pengakuan, memenuhi target, mengumpulkan angka, bahkan memburu kebahagiaan seolah semuanya dapat diraih hanya dengan terus menambah kecepatan.

Fenomena itu begitu dekat dengan kehidupan kita saat ini. Linimasa media sosial dipenuhi unggahan pencapaian, kesibukan, dan keberhasilan yang seakan menuntut setiap orang terus bergerak agar tidak tertinggal oleh algoritma zaman. Di ruang kerja, target demi target dikejar tanpa sempat bertanya apakah semua itu benar-benar menghadirkan kemanfaatan. Di lingkungan sekitar, tidak sedikit orang lebih sibuk membangun citra daripada menguatkan karakter; lebih gelisah kehilangan pengakuan daripada kehilangan kejujuran.

Kita menjadi begitu mahir mempercepat langkah, tetapi sering lalai memastikan apakah arah yang ditempuh masih mendekatkan diri kepada nilai-nilai kemanusiaan, kebermanfaatan, dan ridha Gusti Allah.

Padahal, kehidupan tidak semata perkara siapa yang paling cepat tiba di tujuan. Kehidupan adalah proses panjang sekaligus ruang belajar yang tak berbatas. Perlu ada keseimbangan antara melangkah dan menimbang, antara bergerak dan berdiam, antara keberanian mengambil risiko dan kebijaksanaan mengukur keadaan. Sebab, perjalanan hidup bukan hanya tentang tujuan, melainkan juga tentang bagaimana manusia bertumbuh di sepanjang jalan kehidupan yang dilaluinya.

Kesadaran itu yang mempertemukan Yayasan Berkah Wong Bodho dengan Damar Kedhaton Gresik dalam ruang sinau bareng. Dua lingkar ini sama-sama berikhtiar menjaga agar ilmu pengetahuan, kebudayaan, spiritualitas, dan kemanusiaan tetap menjadi kompas arah di tengah derasnya arus perubahan zaman.

Yayasan Berkah Wong Bodho lahir dari denyut kehidupan masyarakat desa yang sejak awal tidak memisahkan ibadah dari pengabdian sosial. Nama Wong Bodho bukanlah ungkapan untuk merendahkan diri, melainkan pengingat bahwa setiap manusia pada hakikatnya selalu memiliki keterbatasan. Dari kesadaran itu tumbuh semangat untuk terus belajar, saling menolong, saling menghidupi, serta tidak merasa lebih tinggi daripada sesama.

Laku tersebut diwujudkan melalui berbagai ikhtiar sosial-kemasyarakatan, kegiatan keagamaan, layanan ambulans gratis, dapur umum, hingga beragam aktivitas kebudayaan yang dijalankan dengan semangat melayani tanpa jarak dan menghidupi tanpa sekat.

Sementara itu, bagi Damar Kedhaton Gresik, sinau bareng merupakan ruang perjumpaan yang terus diikhtiarkan agar manusia tidak kehilangan dirinya sendiri. Sebuah lingkar tempat ilmu tidak diposisikan sebagai kumpulan jawaban, melainkan jalan panjang untuk saling belajar, saling mendengar, saling mengoreksi, saling mengingatkan dan menasehati, serta bersama-sama merawat kejernihan berpikir dan kelembutan hati.

Keselarasan frekuensi tersebut yang kemudian mempertemukan Yayasan Berkah Wong Bodho dan Damar Kedhaton dalam satu ruang sinau bareng kali ini. Di ruang tersebut, setiap orang hadir dalam kedudukan yang setara: saling belajar, saling mendengar, saling mengoreksi, dan bersama-sama merawat kesejatian dalam hidup di dunia.

Ikhtiar itu kemudian menemukan ruangnya dalam rangkaian Haul Mbah Zainal Abidin sebagai upaya meneruskan nilai-nilai yang beliau wariskan: gotong royong, paseduluran, kepedulian sosial, serta kesediaan membuka ruang agar manusia terus bertumbuh bersama tanpa merendahkan.

Rupanya, Gusti Allah berkenan menghadirkan jalan yang tak pernah diduga sebelumnya. Sebuah kejutan indah yang menyambungkan rasa paseduluran antara Yayasan Berkah Wong Bodho dengan Damar Kedhaton. Momentum Haul Mbah Zainal Abidin tahun ini pun diparingi bertepatan dengan jadwal rutin Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton edisi ke-116.

Sebagai ikhtiar tahadduts bin ni’mah, pelaksanaan Majelis Ilmu Telulikuran kali ini diparingi jalan untuk sesarengan ambyuk bersama Yayasan Berkah Wong Bodho dan sedulur-sedulur komunitas Vespa. Duduk melingkar dalam frekuensi sinau bareng; saling mendengar, saling menguatkan, saling mengingatkan, sekaligus bersama-sama membaca ulang arah perjalanan hidup melalui Ngaji Cangkruk Sinau Bareng bertajuk “Sinau Ngegas Ngerem: Merawat Solidaritas, Menata Arah Perjalanan”, bersama Mas Sabrang Mowo Damar Panuluh.

Tema tersebut lahir dari kenyataan yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Ngegas menjadi simbol keberanian untuk melangkah, berkarya, menembus batas, dan menghadirkan kemanfaatan. Sebaliknya, ngerem menjadi simbol kesadaran, kejernihan, kemampuan mengevaluasi diri, sekaligus keberanian memperlambat langkah ketika arah mulai kehilangan tujuan. Keduanya bukan pilihan yang saling bertentangan, melainkan dua laku yang saling melengkapi agar perjalanan hidup tetap berada dalam keseimbangan.

Kita mungkin pernah menjumpai orang yang begitu berani mengambil keputusan, tetapi lupa mempertimbangkan akibatnya. Ada pula yang terlalu lama berhitung hingga kehilangan keberanian untuk melangkah. Ada yang terus tancap gas sampai lupa menikmati perjalanan, ada pula yang terlalu lama menginjak rem hingga tak pernah benar-benar berangkat dan diam di tempat. Padahal, kehidupan memerlukan keduanya: keberanian untuk melangkah dan kejernihan untuk menimbang langkah ke mana arah yang dituju.

Dalam pengertian tersebut, ngegas dan ngerem tidak cukup dipahami sebagai cara mengendarai kendaraan, melainkan dapat diperlebar paradigmanya sebagai cara untuk menjalani kehidupan. Keduanya menjadi kemampuan yang perlu dirawat agar manusia tidak kehilangan arah ketika bergerak, sekaligus tidak kehilangan harapan ketika memilih berhenti sejenak.

Komunitas Vespa kita pandang sebagai metafora yang menarik untuk disinaoni. Tak cukup dilihat dari kendaraan yang ditumpangi, di dalamnya hidup nilai-nilai yang terus dirawat: perjalanan yang tidak tergesa-gesa, solidaritas lintas latar belakang, persaudaraan yang tumbuh di jalan, serta kesediaan saling menemani tanpa terlebih dahulu menanyakan identitas, status sosial, maupun asal-usul.

Barangkali, justru dari jalanan itu kita bisa belajar bahwa persaudaraan sering kali lahir bukan karena kesamaan kepentingan, melainkan karena kesediaan untuk saling membersamai. Ketika satu kendaraan berhenti karena kendala, yang lain ikut berhenti. Ketika satu mengalami kesulitan, yang lain datang membantu. Nilai-nilai seperti itu yang sesungguhnya sedang kita rawat bersama: gotong royong, kepedulian, dan paseduluran.

Ngaji Cangkruk Sinau Bareng tidak dihadirkan sebagai mimbar satu arah. Ia adalah ruang duduk bersama. Ruang cangkruk. Ruang tempat pengalaman, pengetahuan, dan kebijaksanaan dipertemukan tanpa sekat. Sebuah ruang tempat setiap orang datang bukan untuk merasa paling tahu, melainkan sama-sama belajar menjadi manusia yang terus bertumbuh.

Belajar ngegas ketika kehidupan meminta keberanian untuk melangkah. Belajar ngerem ketika perjalanan membutuhkan kejernihan. Belajar menjaga solidaritas agar tidak sekadar menjadi slogan. Dan belajar menata arah agar setiap langkah yang ditempuh tidak hanya membawa kita sampai ke tujuan, tetapi juga mengantarkan kita menjadi manusia yang semakin utuh.

Sebab, manusia yang utuh bukan mereka yang selalu melaju paling depan ataupun paling cepat sampai di tujuan. Manusia yang utuh adalah mereka yang memahami kapan harus ngegas, kapan perlu ngerem, dan untuk apa perjalanan itu ditempuh. Sebab, setiap langkah pada akhirnya bukan hanya sedang menuju suatu tempat, melainkan sedang menuju proses menjadi manusia yang lebih baik di hadapan Gusti Allah.

Semoga perjumpaan di Alun-Alun Wong Bodho Pondok Mburi menjadi ruang untuk saling menghidupi; menjaga nyala ilmu, merawat paseduluran, memperkuat solidaritas, dan menata arah perjalanan bersama Yayasan Berkah Wong Bodho, Damar Kedhaton, sedulur-sedulur komunitas Vespa, serta siapa pun yang masih meyakini bahwa kehidupan selalu menyediakan ruang untuk terus belajar.

Bertepatan dengan Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton edisi ke-116, mari sesarengan ambyuk dalam ruang kebersamaan Ngaji Cangkruk Sinau Bareng bersama Mas Sabrang yang diselenggarakan oleh Yayasan Berkah Wong Bodho, pada:

Hari/Tanggal : Rabu, 5 Agustus 2026
Pukul : 21.00–23.00 WIB
Lokasi : Alun-Alun Wong Bodho Pondok Mburi, RT 008 RW 002, Desa Sidowungu, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik.

(Redaksi Damar Kedhaton)

Bagikan:
MyMaiyah.id

MyMaiyah.id

Tulisan Terbaru dari MyMaiyah.id

HOME