Background Ambience
Teriakkan kepada Jakarta, Belajar dari Vespa di Gresik
Cerita Simpul

Teriakkan kepada Jakarta, Belajar dari Vespa di Gresik

Liputan 2 Sinau Ngegas Ngerem bersama Mas Sabrang MDP

Febrian Kisworo
Febrian Kisworo

Ada kalanya, urip nyemut membawa seseorang, sekelompok orang, dan beragam perkumpulan lain menuju ke tempat yang semula tidak tercatat dalam kalender jadwal perjalanan hidupnya. Dalam Maiyah, situasi dan kondisi tersebut lazim dimaknai sebagai momentum “diperjalankan” dan “dipertemukan”.

Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton edisi ke-116 mengalami perjumpaan indah, diparingi kurikulum baru dalam menapaki 10 tahun usia perjalanannya. Bulan Agustus, jadwal daur rutin sinau bareng bulanan bertepatan dengan agenda Ngaji Cangkruk Sinau Bareng yang dihajati Yayasan Berkah Wong Bodho.

Agenda yang mengusung tema “Sinau Ngegas Ngerem: Merawat Solidaritas, Menata Arah Perjalanan”, merupakan bagian dari rangkaian Haul Mbah Zainal Abidin dan Mbok Suriyah, pada Rabu, 5 Agustus 2026. Alun-Alun Wong Bodho Pondok Mburi, Desa Sidowungu, Kecamatan Menganti, Gresik, menjadi tempat perjumpaan orang-orang yang berkumpul pada malam itu.

Beberapa Kiai yang diundang duduk bersama jamaah malam itu, termasuk musik gamelan Sekar Langit yang diampu Gus Gendeng asal Kediri yang mengiringi Mas Sabrang “Noe Letto” mempersembahkan lagunya sebagai penyegaran hati.

Sejumlah pejabat tampak ikut hadir dalam sesi Ngaji Cangkruk Sinau Bareng, di antaranya DPRD Gresik Daerah Pemilihan 3 (Kecamatan Menganti dan Kedamean) Mujid Riduan, dan Camat Menganti Bagus Arief Jauhari. Perwakilan Polsek Menganti, Koramil Menganti. Sementara Cak Fauzi, dulur Damar Kedhaton, mendapat kesempatan memandu jalannya acara Ngaji Cangkruk Sinau Bareng malam itu.

Dalam ruang kebersamaan sinau bareng, Mas Sabrang Mowo Damar Panuluh (SMDP) mengajak masyarakat untuk membuka paradigma berpikir terhadap tema melalui pertanyaan-pertanyaan retoris yang menggugah kesadaran baru. Salah satunya tentang alasan kenapa manusia cenderung untuk berkelompok-kelompok.

Nyedulur Karena Vespa

Di Indonesia, kata Mas Sabrang, rupanya mempunyai banyak kelompok orang yang dipertemukan oleh kesamaan hobi maupun kesenangan masing-masing. Ada komunitas Vespa, kelompok motor RX King, kumpulan suporter bola, perguruan silat, partai politik, ormas, dan masih banyak perkumpulan lain dengan cerita mereka sendiri.

Menurut Mas Sabrang, tidak ada yang salah dengan keputusan orang-orang yang memilih berkumpul karena mempunyai kesenangan yang sama dalam kehidupan sehari-hari. Persoalan itu muncul ketika hobi bergeser menjadi identitas yang membuat seseorang mulai membatasi siapa yang pantas ditolong.

Kalau bukan bagian dari anggota kelompok sendiri, pertolongan dianggap tidak perlu diberikan kepada orang-orang tersebut. Kalau identitas menjadi ukuran, orang-orang jatuhnya akan menganggap bahwa yang pantas ditolong hanya mereka yang mempunyai identitas yang sama.

“Tapi, yang berbahaya jika hobi dijadikan sebagai identitas,” tegas Mas Sabrang.

Teman-teman Vespa, sambung Mas Sabrang, punya kepekaan untuk membantu sesama meski bukan bagian dari anggota mereka. Tidak perlu lebih dahulu bertanya siapa namanya, dari kelompok mana, dari anggota komunitas apa, atau apakah mempunyai identitas yang sama.

Mas Sabrang melihat ada value yang dapat dipetik sebagai pembelajaran hidup dari komunitas Vespa. Ada sesuatu yang bernilai di baliknya daripada sekadar kesamaan hobi dan kecintaan terhadap Vespa. Ada paseduluran yang tumbuh karena mereka melihat kesulitan orang lain sebagai persoalan yang patut ditolong.

Pembicaraan tentang solidaritas teman-teman Vespa kemudian ditarik ke dalam skala yang lebih jauh, lebar, dan luas oleh Mas Sabrang menuju kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai orang Indonesia yang punya cita-cita bersama.

Seneng Bareng, Ora Seneng Dhewe

Satu pertanyaan pemantik dilempar Mas Sabrang kepada jamaah. Pertanyaan yang membuka kesadaran baru bagi kita semua sebagai orang Indonesia pada umumnya. Ia mengajak kita membaca persoalan perbedaan yang terjadi pada hari ini secara jangkep. Diakuinya ada sedikit irisan soal politik. Namun, Mas Sabrang tidak sedang mengajak jamaah untuk berpikir pada kerangka paradigma politik praktis.

“Politik tidak perlu dibahas mendalam, kita sekarang membahas kebangsaan. Karena saya yakin walau berbeda-beda warna, tetap sama Indonesia. Sebelum (ada) Indonesia apa?,” tanya Mas Sabrang. “Kowe lahir sebagai orang Indonesia atau makhluk Tuhan?”

Pertanyaan yang diajukan Mas Sabrang secara tidak langsung membawa kita merenung lebih mendalam sekaligus berpikir secara sederhana dalam membaca keberadaan kita sebagai manusia yang tinakdir lahir di dunia dengan kehidupannya masing-masing.

“Artinya yang primer adalah Anda makhluk Tuhan, setelah bertambah usia nantinya akan mendapat KTP atau (identitas) kewarganegaraan,” lanjut Mas Sabrang. Bahwa, kewargaan datang kemudian, bersama berbagai identitas yang melekat setelah seseorang tumbuh dan mengenal lingkungannya.

Kalau misalnya Indonesia tidak ada pun, tidak ada hubungannya di pengadilan Tuhan kelak, di akhirat soal surga dan neraka. “Kalau perbuatannya baik ya masuk surga, kalau perbuatannya buruk ya masuk neraka,” imbuhnya.

Lalu, kalau begitu, untuk apa manusia berkumpul sebagai orang Indonesia selain sekadar mempunyai kartu identitas yang sama? Jawabannya, menurut Mas SMDP, karena ada cita-cita bersama yang ingin dicapai oleh orang-orang yang hidup di dalamnya.

“Kita setuju berkumpul sebagai orang Indonesia pasti ada sebabnya. Tidak hanya berkumpul saja, sebagaimana teman-teman komunitas Vespa. Berkumpul sebagai orang Indonesia apa sebabnya? Karena kita punya cita-cita bersama untuk makmur,” urainya.

Oleh karena itu, kemakmuran tidak semestinya berhenti pada satu kelompok, sementara kelompok lain dibiarkan berjalan sendirian. Cita-cita kemakmuran bersama—sebagai sesama orang Indonesia—sebagaimana para pendahulu bangsa yang sudah membicarakannya jauh sebelum generasi sekarang ada dunia ini.

“Jadi, yang mau makmur sendiri itu pengkhianat bangsa,” ucap Mas Sabrang.

Sebagaimana pembelajaran yang diambil dari komunitas Vespa, tumbuhnya ikatan solidaritas tanpa pamrih dan tak melihat latar belakang walau berbeda dan bukan anggota dari kelompoknya, “Makmur ya makmur bareng. Seneng ya seneng bareng, ora seneng dhewe,” tandasnya.

Vokalis yang akrab disapa Noe Letto itu melanjutkan, berkumpul karena hobi itu boleh, berkumpul karena seperguruan silat juga boleh, begitu pula dengan berbagai alasan latar belakang lainnya. Yang jangan sampai terjadi adalah kelompok sendiri membuat seseorang tega menyakiti dulur sendiri sesama orang Indonesia.

Arek-arek kumpul di Indonesia ini punya cita-cita, pengen makmur. Ayo dikancani, jangan dimarahin terus, dibantu bagaimana caranya mencari jalan agar bisa ikut berjalan menuju kehidupan bersama yang lebih baik,” jelas Mas SMDP.

Mas Sabrang mengajak sesiapa saja tanpa melihat status, jabatan, agama, identitas, dan sebagainya untuk bersama-sama membangun masa depan bangsa Indonesia yang lebih baik. Demi meneruskan cita-cita nenek moyang kita mencapai tujuan kemakmuran bersama.

Mas Sabrang kemudian menyentil “Jakarta” agar mau belajar dari mereka yang berada di masyarakat akar rumput, termasuk belajar kepada komunitas Vespa yang menjadi subjek sekaligus objek dalam Ngaji Cangkruk Sinau Bareng malam itu.

Teriakkan Kepada Jakarta untuk Belajar Kepada Komunitas Vespa!

“Mari kita teriakkan kepada Jakarta untuk belajar kepada komunitas Vespa, Yayasan Berkah Wong Bodho yang tidak merasa pinter sendiri, bisa tandang bareng ora kakean cangkem,” jelas Mas Sabrang dengan nada serius.

Boleh saja seruan yang disampaikan Mas Sabrang terdengar sekadar kelakar guyonan belaka. Tetapi, ada persoalan penting lain yang diserukan sekaligus menjadi kritik untuk membongkar paradigma lama tentang kebiasaan merasa paling tahu dan paling pintar sendiri.

Bagi Mas Sabrang, berkumpul tidak cukup hanya menghasilkan banyak suara ataupun anggota kalau tidak disertai dengan kesediaan sekaligus kesadaran kolektif untuk bergerak dan melakukan tindakan nyata dengan tujuan mencapai kemakmuran bersama.

Tandang bareng berarti jalan bersama, sementara ora kakean cangkem menjadi pengingat supaya kebersamaan yang sudah terjalin tidak hanya berhenti pada pembicaran, dan tetap dalam kesadaran sinau bareng.

Maka, komunitas Vespa yang menjadi topik utama menurut Mas Sabrang layak dijadikan teladan karena mereka punya pengalaman sederhana nan panjang tentang paseduluran yang tumbuh dan setia dirawat selama perjalanan.

Ada motor mogok karena bermasalah, mereka berhenti lalu membantu. Setelahnya perjalanan dilanjutkan ketika persoalannya sudah selesai. Tak perlu banyak teori untuk mengetahui dan memahami kebiasaan tersebut karena praktiknya bisa kita temui langsung di jalan.

Bahkan, Mas Sabrang ternyata punya hubungan personal dengan motor Vespa yang baru ia ingat ketika diskusi sudah berjalan cukup jauh. Motor pertama yang dibeli bapaknya—Mbah Nun–ketika Mas Sabrang berusia sekitar tiga tahun adalah Vespa

“Jadi, sakjane aku isa dadi warga kehormatan komunitas Vespa,” katanya, disambut gelak tawa jamaah yang mengikuti Ngaji Cangkruk Sinau Bareng malam itu. Cerita personal Mas Sabrang mengantarkan pembicaraan pada persoalan lebih besar dan kompleks mengenai kelompok dan keidupan bersama.

Kelompok Lain Bukan Musuh

Mas Sabrang menegaskan gagasan yang ia maksud bahwa berkumpul dengan sebuah kelompok itu tidak lantas membuat kita berbeda dengan kelompok yang lain. Kelompok lain yang berbeda dengan kita, sambungnya, bukan musuh yang harus dicurigai atau dijadikan lawan hanya karena mempunyai kepentingan yang berbeda.

“Musuh kita adalah masalah,” tegas Mas SMDP.

Setiap masing-masing kelompok, menurutnya, sebenarnya berkumpul karena mempunyai permasalahan yang hendak mereka pecahkan bersama-sama. Misalnya, partai politik yang berkumpul karena punya persoalan ideologi yang ingin diperjuangkan melalui jalur politik.

Berikutnya kumpulan perusahaan yang mempunyai persoalan mencari keuntungan yang tentu harus dikelola agar usaha tetap bisa berjalan. Sementara komunitas Vespa berkumpul karena mempunyai persoalan persaudaraan dan sejarah resiliensi yang mereka rawat.

Bentuk perkumpulannya berbeda tetapi masing-masing punya alasan tersendiri untuk berkumpul dan mencari jalan keluar dari sebuah persoalan. Karena itu, yang perlu dilihat bukan siapa kelompok yang dimusuhi, tetapi masalah apa yang sedang dihadapi bersama.

Cara pandang semacam itu juga membuat perbedaan pilihan tidak harus berakhir menjadi permusuhan antarmanusia dalam kehidupan sehari-hari. Masing-masing orang boleh berbeda hobi, berbeda organisasi, berbeda pilihan politik, berbeda ormas, atau berbeda cara melihat persoalan dalam kehidupan.

Namun, ketika persoalannya menyangkut kehidupan bersama, kepentingan kelompok tidak semestinya menjadi satu-satunya ukuran. Sebab, ada masalah yang tidak peduli seseorang berasal dari kelompok mana sebelum memberikan dampak nyata pada kehidupan manusia.

“Saya mengingatkan, boleh kita berkelompok, tapi musuh kita bukan kelompok lain. Musuh kita adalah masalah, karena setiap kelompok tadi itu pengen memecahkan masalah,” tukasnya.

Yang Dibela Bukan Pemerintah atau Rakyat

Salah satu persoalan yang menurut Mas Sabrang sampai sekarang belum selesai adalah RUU Perampasan Aset. Pembahasannya sudah lama berjalan, tetapi belum juga menemukan titik terang. “Wong nyolong ya harusnya dihukum. Hukum itu bukan membenci, hukum itu menyelamatkan,” jelasnya.

Menurutnya, hukuman di dunia justru bisa menjadi bentuk kasih sayang. Seseorang diberi kesempatan mempertanggungjawabkan kesalahannya sekarang daripada membawa persoalan itu lebih jauh hingga kelak berhadapan dengan pengadilan Tuhan.

Karena itu, RUU Perampasan Aset menurut Mas Sabrang penting untuk memastikan hasil kejahatan tidak terus berada dalam penguasaan orang yang memperolehnya secara tidak benar. Pada kondisi tersebut, Mas Sabrang melihat DPR mempunyai posisi penting, meskipun ia juga memahami bahwa lembaga tersebut tidak bekerja sebagai kumpulan orang yang mengambil keputusan seorang diri.

Sakjane aku mangkel tenan. Tapi aku paham, DPR kuwi ya bareng-bareng, ora dhewean. Ana sing siji apik, kalah karo liyane,

Mas Sabrang tidak ingin persoalan itu kemudian dibaca sebagai kesalahan personal satu-dua orang, sebab sebagian keputusan juga berjalan melalui garis partai masing-masing. Sebagian dari mereka tentu ada yang baik, menurutnya, tetapi bisa saja kalah oleh keputusan bersama yang akhirnya membuat suara perorangan tidak banyak berarti.

Karena itu, ia tidak ingin memilih posisi untuk sekadar membela pemerintah ataupun membela rakyat, sebab yang wajib dibela adalah nilai–value. “Aku pengen sing apik di pemerintahan, begitu juga di rakyat. Yang jahat kita singkirkan, baik di rakyat maupun pemerintahan,” tegasnya

Di pemerintahan ada yang jahat? Ada. Yang baik? Ada juga. Begitu pula di tengah masyarakat, sebab rakyat tidak otomatis selalu berada di sisi yang benar. Copet dan maling juga hidup di tengah rakyat, sehingga ukuran baik dan buruk tidak semestinya ditentukan hanya berdasarkan kelompok tempat seseorang berada.

Masalahnya, rakyat sering ditarik ke dalam pertentangan sederhana dan amat tidak kentara antara rakyat melawan pemerintah, seolah-olah keduanya harus selalu ditempatkan sebagai dua kubu. Padahal, menurut Mas Sabrang, yang perlu dilawan bukan pemerintahnya, melainkan kejahatan yang bisa merasuki siapa saja tanpa mengenal posisi dan kelompok.

“Kita itu mesti melawan iblis, bukan melawan pemerintah. Iblis sedang merasuki siapa, itu yang kita lawan,” ajak Mas Sabrang melihat secara jernih dan jangkep.

Yang dicari, pada akhirnya, adalah keadilan, bukan kemenangan satu kelompok atas kelompok lainnya dalam pertarungan yang tidak pernah selesai. Mas Sabrang juga mengingatkan bahwa demokrasi sebenarnya menyediakan jalan untuk menyampaikan suara, salah satunya melalui orang-orang yang dipilih rakyat untuk duduk di DPR.

Karena itu, ketika demo terjadi di mana-mana, barangkali ada sesuatu yang perlu diperiksa kembali tentang hubungan rakyat dengan wakil-wakilnya. “Kalau banyak demo, artinya suaranya sudah tidak bisa diwakilkan ke DPR,” katanya.

Sebab itu, Mas Sabrang kemudian mengajak anak muda untuk mengingat kembali pilihan mereka sendiri ketika pemilu, bukan sekadar siapa yang dicoblos tetapi juga mengapa pilihan itu diberikan.

“Kemarin pemilu coblosan milih siapa? Apa ya pokoke dikasih seratus ribu terus dicoblos?”

Kalau pilihan politik hanya berhenti pada uang yang diterima saat pemilu, jangan terlalu berharap memperoleh hukum dan pemerintahan yang mampu bekerja dengan baik. Mas Sabrang menyarankan satu hal sederhana yang justru sering dilupakan setelah pemilu selesai, yakni mencatat siapa yang dipilih dan apa yang kemudian mereka kerjakan.

“Anak muda mulailah mencatat. Anda pilih siapa? Catat!” ajak Mas Sabrang.

Catat siapa yang dipilih, apa yang dijanjikan, dan apa yang kemudian dikerjakan setelah mereka mendapatkan kursi serta kewenangan dari suara masyarakat. Jika ternyata orang yang dipilih tidak mampu mewakili suara, jangan dipilih lagi, bahkan partainya pun perlu dipertimbangkan kembali pada pemilu berikutnya.

Sebab demokrasi bukan sekadar mencoblos lalu melupakan pilihan, melainkan juga mengingat siapa yang pernah diberi kepercayaan untuk mengurus kepentingan bersama. Mereka yang mengatasnamakan rakyat harus diberi kesempatan membuktikan klaimnya, bukan dengan janji yang mudah diucapkan tetapi melalui pekerjaan yang bisa dilihat.

“Catat semuanya agar tidak salah pilih lagi. Soalnya namanya demokrasi.”

Pembicaraan politik itu kemudian melebar, sampai ia mengaku sebenarnya tidak ingin terlalu jauh membuka apa yang diketahuinya mengenai lingkaran politik pusat. “Suwe-suwe dhawa iki nek bahas politik. Aku di lingkaran pusat paham apa yang sedang terjadi. Aku sebenarnya tidak pengen membocorkan, tapi mau gimana lagi?”

Namun baginya, persoalan politik tidak berhenti pada siapa yang salah dan siapa yang harus disalahkan, karena ada persoalan yang lebih mendasar: etik dan pemahaman. Politik menjadi bermasalah ketika tidak ditemani keduanya, sebab yang rusak bukan hanya sistem tetapi juga cara manusia memahami dirinya sendiri.

Filsafat, menurutnya, sering dianggap sebagai sesuatu yang pinggiran, padahal dari sanalah manusia semestinya belajar memahami politik dan kemanusiaan. Politik yang baik mestinya berangkat dari pertanyaan yang sederhana sekaligus sulit: manusia itu apa, kemanusiaan itu seperti apa, dan politik sebenarnya untuk siapa.

Ketika pertanyaan-pertanyaan dasar itu ditinggalkan, hukum pun mudah kehilangan arah dan politik akhirnya hanya sibuk mengurus perebutan posisi jabatan dan kuasa. Dan, ketika hukum tidak berjalan sebagaimana mestinya, persoalannya bukan hanya soal pemerintahan, melainkan juga soal cara manusia memahami kehidupan bersama.

Bahaya! Masalah Ini Tak Mengenal Identitas Kelompok

Ada persoalan lain yang menurut Mas Sabrang MDP tak kalah penting untuk dipikirkan bersama. Persoalan yang bahkan tidak mengenal identitas kelompok. Apalagi anak-anak muda hari ini begitu mudah mencari informasi. Tinggal mengetik kata kunci di Google atau bertanya kepada kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Mas Sabrang menyarankan mencari satu kata kunci: El Nino. Menurutnya, ada persoalan panjang yang berkaitan langsung dengan masa depan kehidupan manusia di dunia: Suhu, ketersediaan air, dan sumber makanan.

Perubahan suhu, sumber makanan, dan ketersediaan air tidak bisa dianggap sebagai permasalahan kecil. Dampaknya juga bisa merembet pada ketahanan pangan. Karena itu, Mas Sabrang menitipkan perhatian kepada para pejabat dan anggota DPR. Bahwa ketahanan pangan perlu dipikirkan sejak sekarang juga. Tujuannya agar bagaimana memastikan masyarakat masih mempunyai air dan makanan ketika keadaan berubah.

“Ini bapak-bapak pejabat kalau tidak memperhatikan ini (El Nino-red), panjang urusannya. Semoga sudah disiapkan, mulai Bulog dan sebagainya. Tetapi, kita sebagai warga juga sudah punya ketahanan sendiri untuk mempersiapkan ini,” tegasnya.

Mas Sabrang menyebut dampak El Nino yang akan semakin besar dan meluas, dengan perubahan suhu serta ketersediaan air yang kelak tidak bisa dianggap persoalan yang remeh temeh.

Ia menyebut persoalan air sebagai salah satu risiko yang patut diantisipasi. Di Amerika, misalnya, disebut sudah menghadapi persoalan perebutan air. Indonesia mungkin belum merasakan persoalan serupa. Namun, bukan berarti ancaman itu diabaikan begitu saja.

Politik boleh remuk, pemerintahan boleh bermasalah, dan hukum boleh belum menemukan jalan yang semestinya ditempuh, “Tapi sing penting kan masih hidup,” lanjut Mas Sabrang.

Sebab selama manusia masih hidup, cerita belum selesai dan kesempatan untuk memperbaiki keadaan masih selalu terbuka. Selama napas masih ada, energi masih tersedia, dan manusia masih memiliki kemauan untuk bergerak, perjuangan belum benar-benar berakhir.

Mas Sabrang juga meminta kepada jamaah tidak menelan mentah-mentah apa pun yang disampaikannya. Termasuk perkataan Mas Sabrang sendiri menyoal El Nino. “Jangan percaya saya, dibaca saja, diriset sendiri. Saya hanya membukakan pintu. Keadaan sekarang seperti apa? Yang dulu seperti apa? Risiko bahayanya seperti apa?,” ajak Mas Sabrang membuka pikiran untuk menyiapkan kuda-kuda antisipasi.

Mas Sabrang kembali menekankan bahwa jangan gampang percaya pada informasi yang diterima, “Jangan terlalu percaya omongan saya. Anda harus riset sendiri. Harus menyaksikan sendiri. Islam tidak mengajarkan percaya. Islam mengajarkan dengan bersaksi. Aja lali!” pungkasnya.

Ngaji Cangkruk Sinau Bareng malam itu terus bergulir. Mulai dari politik kebangsaan, hukum, korupsi, Vespa, hingga persoalan perubahan iklim yang nyata di depan mata. Di tengah diskusi berlangsung, panitia memberikan apresiasi kepada beberapa jamaah yang maju dan naik ke atas panggung.

Apresiasi tersebut menjadi pemandangan menarik yang sayang bila diabaikan begitu saja. Bahkan, Mas Sabrang  pun mengaku baru pertama kali melihat apresiasi semacam itu sepanjang mengikuti berbagai acara di berbagai daerah lain di Indonesia. Rupanya, panitia acara memberikan apresiasi berupa ayam hidup.

“Wah, iki baru pertama. Hadiah ayam hidup ini pertama kali seumur hidup di sepanjang acara-acara yang saya ikuti. Luar biasa, tidak terbayang di kepala saya,” kata Mas Sabrang.

Bagikan:
Febrian Kisworo

Febrian Kisworo

Penggiat Simpul Maiyah Damar Kedhaton Gresik Jawa Timur.

Tulisan Terbaru dari Febrian Kisworo

HOME