Hiruk-pikuk rangkaian Haul Mbah Zainal Abidin dan Mbok Suriyah sebenarnya telah lebih dahulu menghidupi Alun-Alun Wong Bodho Pondok Mburi, Desa Sidowungu, Kecamatan Menganti, Gresik. Di sudut yang berbeda, di ruang tamu rumah mertua Cak Pitro, beberapa dulur Damar Kedhaton duduk melingkar.
Sebagaimana lazimnya menjelang Majelis Ilmu Telulikuran, kami tidak ingin tradisi itu hilang. Majelis Ilmu Telulikuran edisi ke-116, Rabu, 5 Agustus 2026, kali ini memang berlangsung dengan cara yang berbeda, tetapi tradisi kecil yang selalu menyertainya tetap kami jaga.
Ba’da menunaikan Sholat Maghrib, pukul 17.54 WIB, saya mengawali nderes Al-Qur’an Juz 26. Saya mendaras beberapa lembar, sementara Haikal—putra Kaji Bombom—meneruskan satu halaman terakhir hingga khatam. Pukul 18.27 WIB, Juz 26 tuntas didaras.
Obrolan-obrolan ringan kemudian mengalir di ruang tamu. Istri Cak Pitro, istri Kaji Bombom, serta beberapa dulur Damar Kedhaton lainnya ikut melingkar membersamai sore yang beranjak malam itu. Selepas Isya’, Wak Syuaib selaku Kamituwa Damar Kedhaton memandu Tawashshulan singkat. Pukul 19.19 WIB, Tawashshulan selesai.
Saya dan Cak Pitro lalu beranjak menuju gapura kampung bertuliskan “Gang Makam Islam Sidowungu”. Malam itu kami mengambil peran mengawal kedatangan Mas Sabrang Mowo Damar Panuluh beserta rombongan menuju lokasi Ngaji Cangkruk Sinau Bareng.
Aroma khas bulu ayam langsung terhirup begitu menyusuri jalan kampung. Bau itu bercampur dengan suara motor yang lalu lalang, bunyi khas beberapa motor Vespa, percakapan warga, serta kokok ayam yang sesekali masih terdengar dari rumah-rumah penduduk. Aktivitas ekonomi perkampungan ayam rupanya belum benar-benar berhenti meski malam mulai turun. Beberapa pickup bermuatan ayam hidup masih tampak keluar-masuk kampung.
Semakin mendekati Alun-Alun Wong Bodho Pondok Mburi, suasana perlahan berubah. Jika sore tadi kampung lebih banyak dihidupi lalu lintas ekonomi, malam itu jalan-jalan kampung mulai dipenuhi orang-orang yang datang dari berbagai arah. Ada yang berjalan kaki, ada yang berboncengan sepeda motor, ada pula rombongan Vespa yang datang bergelombang.
Beberapa anggota Satgas Passer—Pasukan Serba Guna Yayasan Berkah Wong Bodho—telah bersiaga di sekitar gapura masuk perkampungan. Mereka mengatur arus lalu lintas sekaligus memandu para tamu menuju titik-titik parkir yang telah disediakan panitia.
Dari salah satu akses masuk menuju lokasi, dua orang Passer, saya, dan Cak Pitro bersama-sama mengawal rombongan Mas Sabrang. Beberapa persimpangan jalan kampung dijaga. Arus kendaraan diatur seperlunya. Tidak banyak aba-aba terdengar, tetapi masing-masing panitia, dibantu warga setempat, tampak memahami perannya.
Pemandangan itu terus menyertai perjalanan kami. Saya dibonceng Cak Pitro tepat di depan mobil rombongan, sementara dua anggota Passer berboncengan motor di depan kami. Bersama-sama kami mengawal rombongan hingga Mas Sabrang tiba di area samping panggung.
Ketika Mas Sabrang turun dari mobil, saya menyaksikan Passer dan Banser saling mengisi peran. Penjagaan berlangsung secukupnya. Bahkan kepada lingkar terdekat sekalipun, Passer bersikap tegas agar tidak semua orang berebut bersalaman. Saya melihat ketegasan itu bukan sebagai cara menjaga jarak, melainkan bentuk cinta yang tahu kapan harus memberi ruang. Di tengah padatnya agenda Mas Sabrang Mowo Damar Panuluh, termasuk penyesuaian dengan rundown Ngaji Cangkruk Sinau Bareng bertajuk Sinau Ngegas Ngerem: Merawat Solidaritas, Menata Arah Perjalanan, sikap seperti itu justru menjadi ikhtiar menjaga kelancaran forum.
Beberapa anggota Passer kemudian memberi ruang kepada Mas Sabrang agar proses menuju tempat transit di belakang panggung berjalan lancar. Aturan itu berlaku sama kepada siapa pun. Tidak ada yang tersinggung. Tidak ada yang merasa lebih diistimewakan. Semuanya berjalan sebagaimana mestinya.
Di sudut lain, komunitas Vespa dengan beragam rupa kendaraannya terus berdatangan. Beberapa orang berambut gimbal yang identik dengan kultur musik reggae tampak berbaur dengan warga. Tenant-tenant UMKM berjajar rapi, menawarkan beragam produk di lapak-lapak yang telah disiapkan panitia.
Anak-anak berlarian di sela keramaian. Remaja, orang tua, para lansia, Jamaah Maiyah, Banser, Passer, hingga masyarakat tumplek blek memenuhi Alun-Alun Wong Bodho Pondok Mburi.
Malam itu merupakan puncak rangkaian Haul Mbah Zainal Abidin dan Mbok Suriyah yang dihajatkan Yayasan Berkah Wong Bodho. Namun, yang paling membekas bagi saya bukan susunan acaranya. Yang tinggal dalam ingatan adalah orang-orang yang sibuk mengambil peran tanpa sibuk mempertontonkan perannya. Ada yang menjaga jalan, mengatur parkir, mengawal tamu, melayani tenant, menyiapkan konsumsi di dapur umum Wong Bodho, hingga menunjukkan arah kepada tamu yang baru pertama kali datang.
Barangkali inilah yang oleh orang Jawa disebut urip sesemutan. Masing-masing bergerak pada bagiannya sendiri, tetapi tak ada satu pun yang berjalan sendiri. Perasaan itu semakin kuat ketika saya mengingat bahwa malam tersebut bertepatan dengan jadwal rutin Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton Gresik edisi ke-116.
Sejak awal sempat terlintas dalam benak saya, jangan-jangan ini memang diparingi Gusti Allah. Alih-alih menggelar majelis di tempat sendiri, kami justru dipertemukan untuk ambyuk nyawiji dalam ruang sinau yang telah dihajatkan Yayasan Berkah Wong Bodho.
Tidak ada kesan menjadi tamu. Tidak pula muncul perasaan sedang menghadiri acara milik orang lain. Yang saya rasakan justru sebaliknya: kami sedang belajar di rumah yang sama, meski datang melalui jalan yang berbeda-beda.
Usai rangkaian pembuka selesai, Mas Sabrang Mowo Damar Panuluh beranjak dari ruang transit di belakang panggung. Beliau duduk di tempat yang telah disediakan. Mikrofon dipegang. Jamaah mulai memusatkan perhatian. Malam itu, ruang sinau bareng benar-benar dimulai, dipandu oleh dulur Damar Kedhaton, Cak Fauzi.
Ada satu hal yang sejak awal membuat saya penasaran sekaligus larut menyelami tema yang disinaoni malam itu. Mas Sabrang mengajak masyarakat yang hadir menoleh ke belakang, membaca sejarah Vespa bukan semata sebagai kendaraan atau komunitas para penggemarnya.
Beliau mengajak kami melihat Vespa sebagai bagian dari rekam jejak sejarah pasca Perang Dunia II—tentang daya lenting, resiliensi, dan kemampuan bertahan di tengah zaman yang penuh penderitaan. Dari sanalah saya mulai memahami bahwa ada nilai-nilai yang tetap hidup melampaui bentuk kendaraannya. Tentang sejarah itu, beserta pelajaran lain yang dapat dipetik sebagai makna sebagai bekal menjalani kehidupan bebrayan hari ini, barangkali layak dituturkan dalam tulisan yang lain.








