Robith masih duduk di tempatnya. Di sisi lain, Cak Nawir bersalaman satu per satu, menghampiri beberapa dulur Damar Kedhaton Gresik yang masih menikmati perbincangan santai. Malam itu ia pamit lebih dahulu. Jadwal kerja shift malam sudah menunggunya.
Sebelumnya, keduanya baru saja menuntaskan nderes Juz 24. Sebuah tradisi yang terus dirawat oleh dulur-dulur Damar Kedhaton dalam rutinan Majelis Ilmu Telulikuran. Satu juz Al-Qur’an dibaca terlebih dahulu, disambung tawashshulan yang dilantunkan bersama-sama, baru kemudian forum sinau bareng dimulai.
Selasa malam, 7 Juli 2026, Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton Gresik memasuki edisi ke-115. Tema yang disepakati adalah Ilaa Ahsanil Ahwaal, penggalan doa Ikhtitam yang akrab di telinga dulur-dulur Damar Kedhaton karena hampir selalu dilafalkan mukhtar dalam setiap tawashshulan.
Teras Musholla Permata Serenity PPS 2, Desa Banjarsari, Kecamatan Manyar, Gresik, kembali menjadi ruang berkumpul. Di tempat sederhana itulah, lingkaran belajar kembali digelar.
Alih-alih membuka forum dengan menerjemahkan tema kata demi kata, Cak Fauzi justru mengajak dulur-dulur Damar Kedhaton mengambil beberapa langkah ke belakang. Beberapa waktu sebelumnya, ia berkesempatan mengikuti Daur Maiyahan Paseban Majapahit yang mengangkat tema Tadabbur Tawashshulan.

Ada satu kesan yang terus mengendap dalam ingatannya. Bahwa tawashshulan bukan sekadar rangkaian doa, wirid, dan shalawat yang diistiqamahi sebelum sinau bareng dimulai. Di dalamnya terdapat susunan, urutan, sekaligus arah perjalanan yang patut dipahami.
Setiap bagiannya tidak berdiri sendiri. Satu bagian mempersiapkan bagian berikutnya. Sebagaimana kehidupan manusia, yang juga tidak berlangsung dalam potongan-potongan yang terpisah, melainkan saling bertaut membentuk sebuah daur.
Mulai dari Qabliyah, Iftitah, Salam Limalaikatillah, Katur Dhumateng Kanjeng Nabi, Ayatul Mafatih, Baiat Tauhid, Shalawatunnur, Rajunas Syafa’ah, Shalawat Taslim, Maqamat Hajat, Indal Qiyam, hingga ditutup dengan doa Ikhtitam.
Karena itulah, forum malam itu tidak tergesa-gesa membahas arti ahsan atau menelusuri akar katanya dalam bahasa Arab. Yang lebih dahulu dicari ialah kesadaran untuk membaca ulang sesuatu yang selama ini begitu akrab, tetapi mungkin belum sungguh-sungguh dipahami.
Barangkali, persoalannya bukan karena kita belum pernah membaca. Melainkan karena terlalu sering membaca tanpa sempat berhenti sejenak; mengambil jeda untuk memperteguh makna pada setiap lafaz tawashshulan yang kita lantunkan.
Lalu Cak Fauzi menawarkan cara yang tidak biasa. Ia tidak meminta dulur-dulur yang hadir menjawab pertanyaan atau memberikan tanggapan terhadap tema Ilaa Ahsanil Ahwaal. Justru sebaliknya. Setiap orang diminta menyusun pertanyaan. Pertanyaan itu kemudian dikirimkan ke grup WhatsApp Damar Kedhaton.
Sepintas, cara tersebut tampak sederhana, bahkan boleh dibilang remeh-temeh. Namun semakin dipikirkan, pendekatan itu justru menyimpan tantangan yang tidak ringan. Selama bertahun-tahun mengenyam pendidikan formal, kebanyakan orang lebih akrab dengan kebiasaan menjawab soal daripada menyusun pertanyaan.
Sebagaimana dhawuh Mbah Nun, ilmu tidak hanya tumbuh dari jawaban. Ia juga lahir dari keberanian mengakui bahwa masih ada hal-hal yang belum dipahami. Maka, menyusun pertanyaan bukan sekadar latihan berpikir, melainkan latihan merawat kerendahan hati di hadapan ilmu.

Barangkali, itulah salah satu wujud ikhtiar Cak Fauzi dalam mengelola forum sinau bareng. Bukan sekadar menghidupkan diskusi, melainkan merawat ruang yang egaliter, aktif, dan partisipatif; ruang yang memberi kesempatan kepada setiap orang untuk belajar, bukan sekadar didengar atau mendengar.
Memang, tidak semua orang langsung merasa nyaman menyampaikan gagasannya. Ada yang khawatir keliru, takut salah bicara, atau merasa belum memiliki bekal yang cukup. Padahal, ruang sinau bareng bukanlah tempat mencari siapa yang paling benar. Ia merupakan ruang untuk saling mengupayakan pemahaman.
Setiap sudut pandang yang lahir dari pengalaman dan perenungan masing-masing dulur membawa keotentikannya sendiri. Karena itu, tidak ada pengalaman yang terlalu kecil untuk dibagikan. Justru dalam kebersamaan, setiap orang menyadari bahwa dirinya tidak hanya dapat mengisi kekurangan orang lain, tetapi juga membutuhkan orang lain untuk melengkapi kekurangannya sendiri.
Ada yang menggeluti ilmu alat bahasa Arab berupa nahwu dan sharaf. Ada yang tekun mendokumentasikan kegiatan. Ada yang berbagi pengalaman hidup yang otentik. Ada yang mencatat jalannya forum. Ada pula yang mengambil peran di pawon. Belum lagi pengalaman yang dibawa masing-masing dari ruang pekerjaan, keluarga, lingkungan sosial, maupun keseharian mereka.
Semuanya kembali mendarat pada tempat yang sama: kehidupan sehari-hari. Tentang pekerjaan yang tidak selalu berjalan sesuai rencana. Tentang rumah tangga yang tidak selalu menghadirkan jawaban. Tentang hubungan antarmanusia yang kadang lebih rumit daripada hitungan benar dan salah. Tentang harapan yang tidak seluruhnya menjadi kenyataan. Tentang berbagai keadaan yang datang tanpa pernah meminta izin.

Diskusi kemudian mengalir menuju tadabbur Surat Al-Baqarah ayat 155–156. Kedua ayat itu dibaca bersama sebagai cermin kehidupan yang dialami masing-masing dulur Damar Kedhaton di berbagai ruang: sosial, pekerjaan, budaya, ekonomi, dan keseharian.
Tentang rasa takut. Tentang lapar. Tentang kehilangan. Tentang berkurangnya harta. Tentang keadaan-keadaan yang, cepat atau lambat, hampir pasti bersinggungan dengan setiap manusia.
Wak Syuaib mengawali tadabbur tanpa terlebih dahulu menguraikan definisi ataupun terjemahan ayat. Pesannya sederhana, “Sing penting ayo dinomorsatukan Gusti Allah.”
Menomorsatukan Allah, menurut Wak Syuaib, bukan berarti berhenti bekerja. Bukan pula menyerahkan segala sesuatu tanpa dibarengi ikhtiar. Sebaliknya, manusia tetap diminta berpikir. Tetap bekerja. Tetap berjuang. Tetap menyusun rencana sebaik mungkin sesuai batas kemampuan yang dimiliki. Setelah seluruh ikhtiar diupayakan, barulah manusia belajar menerima bahwa tidak semua hasil berada dalam kuasa kendalinya.

“Bekalnya adalah sabar dan qana’ah,” sambung Wak Syuaib.
Terhadap tema Ilaa Ahsanil Ahwaal, Wak Syuaib tidak memulai dari istilah-istilah yang rumit. Ia justru mengajak forum lebih membumi melalui pengalaman sehari-hari. Kamituwa Damar Kedhaton itu kemudian berkisah tentang kesehariannya sebagai petani.
“Banyak orang menunggu panen untuk merasa bahagia,” kira-kira demikian alur pikir yang dibagikannya. “Padahal, kalau begitu caranya, betapa panjang waktu yang kita habiskan tanpa pernah menemukan alasan untuk bersyukur,” tuturnya.
Sawah, dalam pengalaman Wak Syuaib, bukan sekadar tempat menanam padi. Sawah adalah ruang belajar untuk membaca kehidupan. Kebahagiaan, sekaligus rasa syukur, tidak harus menunggu bulir-bulir padi menguning atau masa panen tiba.
Ketika benih berhasil dibeli, di sana sudah ada nikmat yang patut disyukuri. Saat rumput liar selesai dibersihkan, ada rasa lega yang layak dirawat. Ketika benih mulai ditanam, harapan tumbuh bersama tanah yang ditugal.
Bahkan ketika tunas-tunas kecil mulai muncul, manusia sesungguhnya telah berkali-kali diberi kesempatan menyaksikan karunia Allah bekerja, jauh sebelum panen benar-benar tiba. “Temukan syukur any time,” ajak Wak Syuaib.
Melalui pengalaman itu, dulur-dulur yang hadir diajak memahami bahwa sabar bukan sekadar kemampuan menunggu hasil akhir. Sabar adalah kesanggupan menemukan makna di sepanjang proses. Sedangkan qana’ah bukan alasan untuk berhenti berikhtiar, melainkan kemampuan menerima setiap tahap kehidupan sebagai ruang untuk terus bertumbuh, baik secara jasad maupun rohani.

Dalam konteks tersebut, menurut Wak Syuaib, tadabbur terhadap Surat Al-Baqarah ayat 156 menemukan tempatnya. Alladzîna idzâ ashâbat-hum mushîbatun qâlû innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn.
Selama ini, kalimat Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un lebih sering diucapkan ketika seseorang berpulang atau saat menyampaikan belasungkawa. Melalui forum malam itu, Wak Syuaib mengajak dulur-dulur Damar Kedhaton memandangnya dengan cakrawala yang lebih luas.
Kalimat tersebut bukan sekadar ungkapan duka, melainkan paugeran dalam membaca seluruh peristiwa yang menghampiri kehidupan manusia. Karena itu, yang pertama-tama perlu ditata bukanlah peristiwanya, melainkan cara manusia merespons peristiwa tersebut.
Usai Wak Syuaib meletakkan fondasi pembahasan, forum kembali dipandu Cak Fauzi. Sejumlah pertanyaan yang sebelumnya telah dikirim ke grup WhatsApp Damar Kedhaton mulai satu per satu dibuka untuk didiskusikan bersama.
Salah satunya datang dari Cak Fauzi sendiri. “Peristiwa apa yang sebenarnya bisa didandani di masa sebelumnya? Pengalaman apa dalam beberapa waktu terakhir yang paling membekas sehingga sampeyan merasa ingin memperbaikinya?”
Mas Ardi menjadi salah seorang dulur yang menanggapi. Ia mengenang resepsi pernikahannya. Sebagaimana banyak orang, ia pun pernah menyimpan bayangan tentang siapa saja yang akan hadir, bagaimana suasana akan berlangsung, dan seperti apa hari itu akan dikenang.
Namun kehidupan hampir selalu mempunyai caranya sendiri. Tidak seluruh ikhtiar yang telah dipersiapkan dengan sungguh-sungguh berakhir sesuai harapan.

Seiring berjalannya waktu, Mas Ardi justru menemukan bahwa yang paling penting bukanlah berhasil mewujudkan seluruh rencana sebagaimana dibayangkan pada mulanya. Yang lebih penting ialah belajar menerima kenyataan sebagai anugerah sekaligus ruang belajar; bukan menjadikannya daftar kekurangan yang terus dibandingkan dengan harapan yang tak terwujud.
Pertanyaan lain muncul dari Kaji Bombom. Kalimatnya bahkan persis menyentuh inti tema malam itu. “Menuju keadaan yang lebih baik menurut siapa?” Pertanyaan itu seolah menggeser arah pembicaraan. Bukan lagi sekadar bagaimana menjadi lebih baik, melainkan siapa yang berhak menentukan ukuran “lebih baik” itu sendiri.
Pengalaman Cak Teguh Thukul kemudian menjadi salah satu pintu masuk untuk membacanya. Sebagai Ketua RW sekaligus tuan rumah majelis malam itu, Cak Teguh menceritakan sebuah peristiwa di lingkungannya.
Sejumlah warga menggagas penyelenggaraan car free day. Gagasan tersebut diperjuangkan dengan semangat. Namun persoalan muncul ketika perizinannya belum diselesaikan. Keadaan itu kemudian dipersoalkan sebagian warga karena menyangkut aturan yang berlaku.
Sebagai Ketua RW, Cak Teguh memilih mencari kejelasan kepada pihak yang memang memiliki kewenangan memberikan izin. Bukan untuk menghambat kegiatan, melainkan memastikan semuanya berjalan sesuai ketentuan.
Belakangan diketahui bahwa izin tersebut memang belum dimiliki panitia. Boleh jadi, dari sudut pandang panitia, langkah Cak Teguh dipahami sebagai bentuk penghambatan. Padahal, niat penyelenggara sendiri juga tidak dapat serta-merta dianggap keliru. Secara lahiriah, car free day membawa banyak kemungkinan kebaikan: mengajak masyarakat hidup lebih sehat, menggerakkan UMKM lokal, dan mempererat perjumpaan antarwarga.

Pengalaman itu memperlihatkan bahwa kehidupan sering kali tidak sesederhana memilih antara benar dan salah. Ada konteks yang perlu dibaca secara jangkep. Ada kepentingan yang perlu dipertemukan. Ada sudut pandang yang perlu didengarkan sebelum sebuah keputusan diambil.
Robith ikut membagikan pengalamannya. Tema Ilaa Ahsanil Ahwaal, katanya, bukan sesuatu yang baru ia dengar. Sejak masih berada di pondok, ia telah berkali-kali menerima nasihat tentang perjalanan menuju keadaan yang lebih baik. Termasuk tuntunan melafalkan do’a sebagaimana hampir serupa di doa Ikhtitam dalam tawashshulan, hanya ada perbedaan beberapa susunan kata, tapi secara substansi masih sama.
Namun kehidupan ternyata tidak sesederhana ruang kelas ataupun teori. Ketika memasuki masyarakat, dunia pekerjaan, dan berbagai ruang sosial lainnya, ia menjumpai persoalan-persoalan yang tidak mudah dipilah menjadi hitam atau putih.
Apa yang dianggap benar oleh seseorang belum tentu dipandang sama oleh orang lain. Informasi yang dimiliki setiap orang berbeda. Pengalaman hidupnya pun tidak serupa. Karena itulah, menurut Robith, keterbatasan semestinya membuat manusia semakin berhati-hati ketika memberi penilaian. Bukan semakin mudah menghakimi, melainkan semakin rajin belajar rumangsa.
Lalu, siapa sebenarnya yang sedang menuju keadaan yang lebih baik? Terutama, lebih baik menurut ukuran Gusti Allah? Pertanyaan itu dibiarkan bergulir di tengah lingkaran Majelis Ilmu Telulikuran.
Tak ada bantah-bantahan. Baik pertanyaan maupun tanggapan dikendurikan sebagai ilmu. Forum mengalir sebagaimana lazimnya sinau bareng: diselingi guyon, tawa, sekaligus kesungguhan.
Salah satu guyon yang mengundang gelak tawa malam itu ialah soal beberapa dulur Damar Kedhaton yang masih melajang. Namun, sebagaimana pembahasan-pembahasan lain, obrolan itu tidak berhenti sebagai olok-olok. Ia kembali mendarat pada kesadaran bahwa setiap orang memiliki ujiannya masing-masing. Yang masih lajang, yang telah lama berumah tangga, maupun yang baru menikah tahun ini, sama-sama sedang belajar menjalani takdirnya.

Kaji Bombom kembali mengingatkan bahwa manusia memang tidak pernah sepenuhnya mengetahui kehendak Allah. Namun ketidaktahuan itu bukan alasan untuk berhenti mencari. Justru melalui dialog, ikhtiar batin, dan kesediaan mengoreksi diri, manusia terus belajar mendekati kehendak-Nya.
Mulai dari sawah, pelaminan, hingga ruang mediasi antarwarga seperti sedang mengajarkan pelajaran yang sama. Bahwa perjalanan menuju keadaan yang lebih baik tidak selalu dimulai dengan mengubah keadaan. Sering kali, ia justru dimulai ketika manusia bersedia mengubah cara memandang keadaan tersebut.
Barangkali, selama ini kita terlalu mudah mengatakan bahwa sesuatu itu baik. Atau sebaliknya, terlalu cepat menyimpulkan bahwa sesuatu itu buruk. Padahal, tidak sedikit peristiwa yang baru memperlihatkan maknanya setelah dilalui beberapa waktu.
Di tengah pembahasan itu, Cak Tedjo menambahkan satu pengingat sederhana. Kehidupan tidak pernah berhenti berjalan. Begitu pula ujian. Cepat atau lambat, setiap orang akan bersinggungan dengan apa yang disebutkan dalam Surat Al-Baqarah ayat 155: rasa takut, kekurangan, kehilangan, dan berbagai keadaan yang tak pernah benar-benar dapat dihindari.
Karena itu, manusia tidak hanya membutuhkan pegangan. Ia juga membutuhkan proses. Pegangan memberi arah. Proseslah yang perlahan membentuk watak manusia.
Seseorang dapat memahami ayat Al-Qur’an tentang kesabaran. Namun ketika kehilangan benar-benar datang, ia tetap harus belajar bersabar. Seseorang dapat menghafal ayat tentang syukur. Tetapi ketika kenyataan tidak berjalan sesuai harapan, ia tetap harus belajar menemukan alasan untuk bersyukur.
Posisi ilmu perlahan berubah menjadi pengalaman, ngelmu kalakone kanthi laku. Dan pengalaman, sedikit demi sedikit, membentuk kebijaksanaan ketika manusia berhadapan dengan berbagai peristiwa yang tak selalu sesuai ukuran dirinya.
Wak Syuaib kemudian menutup lingkaran pembahasan dengan satu penekanan yang mendasar. Menurutnya, manusia sering kali lebih sibuk mempertanyakan bagaimana sikap Allah terhadap dirinya.
Mengapa Allah memberi ujian? Mengapa doa belum dikabulkan? Mengapa jalan hidup terasa lebih berat dibanding orang lain? Padahal, lanjut Wak Syuaib, pertanyaan yang lebih mendasar justru mengarah kepada diri sendiri.
Bagaimana sikap manusia terhadap setiap keadaan yang Allah hadirkan? Sebab Allah tidak memiliki kepentingan kepada manusia. Sejatinya, manusialah yang membutuhkan Allah. “Daripada sibuk bertanya tentang kehendak Allah, mari menyibukkan diri memperbaiki respons terhadap setiap peristiwa yang kita alami,” pesan Wak Syuaib.
Menyoal diksi ahsan dalam tema Ilaa Ahsanil Ahwaal, pembahasannya juga mengalir sepanjang forum melalui penjelasan Cak Huda dan Nasrul yang saling melengkapi.

Jam terus bergerak menuju dini hari. Percakapan memang usai. Namun rasanya ia tidak benar-benar selesai. Sebab yang dibawa pulang dulur-dulur Damar Kedhaton malam itu bukan sekadar kumpulan jawaban. Melainkan cara lain memandang kehidupan.
Barangkali, Ilaa Ahsanil Ahwaal bukan pertama-tama berbicara tentang bagaimana mengubah keadaan menjadi lebih baik. Tema tersebut berbicara tentang bagaimana manusia mengubah dirinya ketika berhadapan dengan keadaan.
Tentang keberanian tetap berikhtiar tanpa kehilangan qana’ah. Tentang kesanggupan menemukan syukur ketika harapan tidak sejalan dengan kenyataan. Tentang kerendahan hati untuk mengakui bahwa ukuran “lebih baik” yang selama ini dipakai belum tentu sama dengan ukuran Gusti Allah.
Mungkin, di situlah sebuah majelis ilmu benar-benar bekerja. Ia tidak selalu membuat orang pulang membawa jawaban yang sama. Namun, majelis ilmu membuat setiap orang pulang dengan pertanyaan yang lebih jernih daripada ketika datang.
Semoga, pertanyaan-pertanyaan tersebut yang akan terus menemani kesadaran diri untuk melangkah menuju Ilaa Ahsanil Ahwaal—menuju keadaan yang lebih baik, bukan semata menurut keinginan manusia, melainkan sejauh yang dikehendaki Allah.
Cerme, 12 Juli 2026








