Pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: sebenarnya kita ini masih waras, atau hanya sudah terlalu terbiasa? Sesuatu yang dulu dianggap aneh, lama-lama menjadi biasa. Yang dulu memalukan, sekarang dipamerkan. Yang dulu dijaga, sekarang diumbar. Yang dulu dipikirkan dengan hati, sekarang cukup dengan satu klik. Jangan-jangan masalah zaman ini bukan karena manusia semakin gila, tetapi karena kita semakin sulit membedakan mana yang benar dan mana yang sekadar sudah dianggap normal. Padahal Allah mengingatkan kita untuk tidak mengikuti sesuatu yang kita tidak memiliki pengetahuan tentangnya.
Kita sering berkata, “Semua orang juga begitu.” Lalu kita ikut. Kita tahu sesuatu tidak benar, tetapi takut berbeda, takut dicemooh, atau takut dianggap aneh. Akhirnya ukuran benar dan salah bergeser: bukan lagi “Apakah ini benar di hadapan Allah?”, tetapi “Apakah banyak orang melakukannya?” Di saat yang sama, kita semakin sibuk terlihat berhasil, mengejar pujian, like, view, dan pengakuan. Tetapi kalau tidak ada seorang pun yang melihat, apakah kita masih menginginkannya? Jangan-jangan yang sedang kita cari bukan lagi keberkahan, tetapi sekadar pengakuan manusia.
Kita pun semakin sulit menerima kenyataan. Gagal sedikit kecewa, ditolak merasa hancur, kehilangan sesuatu merasa dunia tidak adil. Kita ingin semuanya berjalan sesuai keinginan. Padahal hidup tidak selalu tentang mendapatkan apa yang kita mau. Ada saatnya Allah memberi, ada saatnya Allah menunda, bahkan ada saatnya Allah mengambil sesuatu yang kita cintai. Mungkinkah sabar bukan berarti menyerah, tetapi tetap percaya kepada Allah ketika kenyataan belum sesuai harapan?
Zaman ini juga mengajarkan kita untuk bereaksi secepat mungkin: marah > komentar > viral > menyesal. Berita belum diperiksa sudah dipercaya, tersinggung sedikit langsung membalas. Padahal seorang beriman diajari untuk tabayyun: memeriksa sebelum mempercayai. Kita perlu belajar memberi jarak antara apa yang kita rasakan dan apa yang kita lakukan. Sebab tidak setiap kemarahan harus menjadi ucapan, tidak setiap keinginan harus menjadi tindakan, dan tidak setiap informasi harus menjadi keyakinan.
Lalu, semakin banyak yang kita miliki, mengapa semakin sering kita merasa kurang? Punya ingin lebih, mendapat lalu membandingkan, berhasil lalu takut kalah. Mungkin masalah kita bukan selalu kekurangan, tetapi hilangnya rasa cukup. Kita terlalu banyak mendengar suara dunia: berita, komentar, tren, iklan, notifikasi, tetapi semakin jarang mendengar hati. Kapan terakhir kali kita benar-benar diam, berdzikir, bermuhasabah, lalu bertanya: “Allah sedang membawa saya menjadi manusia seperti apa?” Sebab bisa jadi, ketika seseorang semakin jauh dari mengingat Allah, ia juga semakin jauh mengenali dirinya sendiri.
Maka WARAS DI JAMAN GILA bukan tentang merasa paling waras atau menunjuk siapa yang gila. Ini tentang keberanian untuk berhenti sejenak: tabayyun sebelum percaya, tafakkur sebelum ikut, sabar sebelum marah, qana’ah sebelum mengejar, dan muhasabah sebelum terlambat. Terbawa arus atau sadar sedang berjalan ke mana? Jangan-jangan kewarasan itu sederhana: ketika dunia mengajak kita berlari ke mana-mana, kita masih mampu berhenti dan bertanya kepada Allah, “Ya Allah, apakah langkah saya ini masih berada di jalan-Mu?” Mari kita mencari jawabannya bersama dalam Sinau Bareng Maiyah Sulthon Penanggungan Pasuruan, Minggu, 27 September 2026 di Gazebo SP.
Redaksi SP








