Ada sesuatu yang menarik dari dua kata yang terdengar hampir bersaudara: voice dan vote. Padahal secara asal-usul bahasa, keduanya bukan saudara kandung. Voice berasal dari Latin vox/vocem, yang berarti suara, ujaran, panggilan, bahkan seruan. Sementara vote berasal dari Latin votum, yang pada mulanya berarti janji, sumpah, kehendak, atau sesuatu yang dipersembahkan sebagai tekad. Dalam perkembangan bahasa Inggris, vote kemudian menjadi tindakan menyatakan pilihan atau kehendak dalam urusan bersama. Menariknya, voice sendiri pernah memiliki makna sebagai hak atau kesempatan untuk berbicara atau memberikan suara dalam sebuah majelis.
Maka barangkali VOICE dan VOTE memang tidak sedarah secara etimologis, tetapi bertemu di satu wilayah yang sama: kehendak manusia yang hendak dinyatakan. Voice adalah suara yang keluar. Vote adalah pilihan yang dijatuhkan. Voice berbicara. Vote memutuskan. Voice mengatakan “begini yang saya pikirkan”, sementara vote mengatakan “begini pilihan saya”. Tetapi jangan-jangan persoalannya justru terletak di antara keduanya: apakah setiap vote benar-benar lahir dari voice? Atau jangan-jangan manusia sudah memiliki vote, tetapi kehilangan voice-nya sendiri?
Di Caknun.com, Helmi Mustofa (Redaktur Maiyah) dalam tulisan “Demokrasi, Komunikasi Publik, dan Sinau Bareng”, mengingatkan bahwa demokrasi tidak semestinya dimulai dari pemungutan suara. Ia mengutip David Mathews bahwa demokrasi dimulai dari pilihan tentang masyarakat dan negara macam apa yang diinginkan, dan bentuk paling dasar politik adalah percakapan mengenai pilihan-pilihan tersebut. Bahkan kualitas demokrasi sangat bergantung pada kualitas perbincangan publik. Cak Nun dan tradisi Sinau Bareng kemudian ditempatkan sebagai praktik komunikasi: berbicara, saling mendengar, bertukar pandangan, dan memberi ruang bagi perbedaan tanpa bernafsu memaksakan kebenaran pendapat sendiri. ( https://bit.ly/4yQGZEe )
Jadi, kalau begitu, vote seharusnya bukan sekadar jari yang mencoblos, melainkan ujung dari proses berpikir yang panjang. Tetapi zaman memang lucu. Sebelum manusia sempat ngobrol, sudah disodori pilihan. Sebelum mengenal gagasannya, sudah mengenal wajahnya. Sebelum membaca programnya, sudah hafal jogetnya. Sebelum bertanya “apa yang diperjuangkan?”, sudah lebih dulu bertanya “nomor berapa?” Demokrasi kemudian cukup diringkas menjadi datang, mencoblos, pulang, lalu beberapa tahun kemudian mengeluh. Seolah-olah setelah suara dimasukkan ke kotak, kesadaran ikut dimasukkan ke dalam kotak yang sama.
Padahal Cak Nun dalam berbagai refleksinya tentang demokrasi justru berkali-kali mengajak manusia untuk tidak berhenti pada prosedur. Dalam Mukaddimah Kenduri Cinta Edisi Januari 2025 yang bertema “Tanah Air Paradoks”, misalnya, dipertanyakan pula ungkapan “vox populi, vox Dei” suara rakyat adalah suara Tuhan. Sebab suara rakyat tetaplah suara manusia: bisa dipengaruhi emosi, hasrat, bahkan manipulasi. Maka suara terbanyak tidak serta-merta menjadikan sesuatu sebagai kebenaran mutlak. ( https://bit.ly/4yK8Zci )
Di sinilah VOICE menjadi penting. Sebab suara bukan hanya perkara seberapa keras ia terdengar. Ada suara yang keras tetapi kosong. Ada suara yang pelan tetapi mengandung kegelisahan banyak manusia. Ada suara yang panjang tetapi tidak mengatakan apa-apa. Ada pula suara yang hanya satu kalimat, tetapi membuat orang berhenti dan berpikir. Dan hari ini, ketika setiap orang memiliki pengeras suara bernama media sosial, persoalannya mungkin bukan lagi siapa yang boleh bersuara, melainkan siapa yang masih mau mendengar. Masih di CakNun.com, Jamal Jufree Ahmad (Redaktur Maiyah) bahkan menyebut demokrasi sebagai sesuatu yang “berisik”, karena begitu banyak suara hadir sekaligus. ( https://bit.ly/4rium1Q )
Jangan-jangan manusia modern sedang mengalami kemajuan yang agak aneh: mulutnya semakin bebas, tetapi telinganya semakin sempit. Semua ingin menyampaikan pendapat, tetapi pendapat orang lain dianggap gangguan. Semua ingin didengar, tetapi mendengar dianggap kalah. Semua ingin menjadi suara rakyat, tetapi rakyatnya sendiri belum tentu sempat ditanya. Bahkan algoritma sekarang ikut menjadi mak comblang antara manusia dan pendapatnya sendiri: apa yang sering dilihat dianggap benar, apa yang berulang-ulang muncul dianggap penting, apa yang ramai dianggap benar, dan apa yang viral dianggap layak dipercaya. Akhirnya manusia tidak lagi mencari suara yang benar; cukup mencari suara yang cocok dengan suara yang sudah ada di kepalanya.
Padahal ada pertanyaan yang jauh lebih dalam. Dalam tulisan “Apakah Itu Suara-Mu?”, Cak Nun menghadirkan Markesot yang mendengar suara dahsyat dari tengah hutan, lalu bertanya: “Apakah itu suara-Mu wahai Sang Hyang Sangkan Paran…?” Pada akhirnya suara yang ia dengar ternyata bukan jawaban dari langit, melainkan suara kesedihan yang sangat dalam dari lubuk jiwanya sendiri. Barangkali ini juga berlaku dalam kehidupan sehari-hari: sebelum bertanya “apa yang harus disuarakan?”, manusia perlu sesekali bertanya, “suara siapa yang sebenarnya sedang berbicara melalui diriku?”
Apakah suara sendiri? Suara keluarga? Suara kelompok? Suara idola? Suara ketakutan? Suara uang? Suara media sosial? Suara mayoritas? Atau suara yang lahir setelah cukup lama mendengar, membaca, berpikir, berdialog, dan menimbang? Sebab jangan-jangan vote yang tidak didahului voice hanya memindahkan kebisingan dari ruang publik ke dalam bilik suara. Dan jangan-jangan voice yang tidak pernah mau mendengar suara lain juga hanya menghasilkan kebisingan dengan nama yang lebih terhormat.
Maka VOICE / VOTE malam ini bukan hendak mengajari siapa harus memilih siapa. Bukan pula hendak mencari suara mana yang paling benar. Justru barangkali hendak menguji sesuatu yang lebih sederhana dan lebih sulit: apakah manusia masih mampu memiliki suara sendiri, mendengarkan suara orang lain, lalu menentukan pilihan dengan kesadaran yang cukup merdeka? Karena mungkin demokrasi tidak pertama-tama membutuhkan lebih banyak orang yang pandai berteriak. Demokrasi membutuhkan manusia yang mampu bersuara, mendengar, dan menimbang.
Dan mungkin, sebelum bertanya “vote untuk siapa?”, ada pertanyaan yang lebih mendasar:
“Voice-ku sebenarnya apa?” “Suara siapa yang sedang hidup di dalam diriku?”
Mari duduk bersama. Melingkar. Tidak untuk mencari siapa yang menang dalam suara, tetapi untuk belajar mendengarkan suara-suara yang selama ini mungkin terlalu cepat dipotong oleh kesimpulan. Sebab barangkali VOICE adalah proses menjadi sadar, sedangkan VOTE hanyalah salah satu cara menyatakan hasil dari kesadaran itu. Dan kalau suara sudah kehilangan kesadaran, lalu pilihan kehilangan pertimbangan, mungkin yang tersisa bukan lagi demokrasi, melainkan sekadar ramai-ramai memilih apa yang sudah dipilihkan.








