Malam itu udara sejuk menyelimuti kawasan Dusun Bumbungan, Desa Sumbersuko, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Di tengah suasana malam yang tenang, OTES “Omah Tengah Sawah” kembali menjadi ruang temu bagi hati, pikiran, dan persaudaraan. Tempat sederhana yang dikelilingi nuansa pedesaan itu menjadi saksi berlangsungnya forum Sinau Bareng Maiyah Sulthon Penanggungan dengan tema yang cukup menggugah nalar: “Semestinya Semesta.”
Sekitar dua puluh jamaah hadir memenuhi ruang dalam OTED. Jumlah yang mungkin tidak besar jika diukur secara angka, tetapi terasa luas jika dilihat dari kehangatan yang tercipta. Satu per satu jamaah datang dengan wajah cerah, saling menyalami, bertanya kabar, lalu duduk lesehan membentuk lingkaran sederhana. Tidak ada sekat usia, latar belakang, ataupun status sosial. Semua datang sebagai sesama pejalan yang ingin belajar bersama.
Sebelum acara dimulai, suasana semakin hangat dengan kedatangan kedua kalinya Pak Dhani dan Bu Erwin bersama kedua anak mereka serta seorang adik iparnya. Kehadiran keluarga membawa warna tersendiri, seolah menegaskan bahwa ruang sinau seperti ini bukan hanya milik orang dewasa, tetapi juga tempat tumbuhnya generasi berikutnya untuk mengenal suasana ilmu yang ramah dan membumi.

Acara dibuka oleh Cak Taufiq melalui pembacaan tawashshul, mengirim doa kepada para guru, leluhur, dan orang-orang saleh yang telah lebih dahulu menanam cahaya pengetahuan. Setelah itu, jamaah bersama-sama melantunkan Surat Ar-Rahman. Ayat-ayat yang berulang dengan pertanyaan “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” terasa seperti sapaan langsung kepada jiwa yang sering lupa bersyukur.
Nuansa malam semakin hidup ketika pegiat Sulthon Penanggungan mengiringi forum dengan sholawat banjari. Denting rebana dan lantunan pujian kepada Rasulullah menghadirkan energi kegembiraan sekaligus keteduhan. Di sela pembukaan itu, terlontar satu kalimat yang menjadi semacam pengantar arah malam tersebut “Kami sediakan sekali malam mingguan dalam sebulan untuk belajar berpikir mendalam dan menepi dari huru-hara dunia.”
Kalimat sederhana itu terasa relevan di zaman ketika manusia begitu mudah terseret arus informasi, hiruk-pikuk media sosial, dan rutinitas yang melelahkan batin. Forum seperti ini menjadi tempat bernafas sejenak, menyusun ulang arah hidup, dan memulihkan kejernihan.

Memasuki sesi utama, Cak Umar menyampaikan pengantar materi tentang makna Semestinya Semesta. Beliau mengajak jamaah memahami bahwa manusia sering terlalu sibuk ingin memperbaiki dunia luar, padahal dirinya sendiri belum selesai diurus. Menurut beliau, sebelum bicara mengelola semesta besar, manusia terlebih dahulu harus menata semesta kecil yang ada dalam dirinya: akal, hati, dan nafsu.
Akal perlu dijaga agar tetap jernih dan tidak dipenuhi prasangka. Hati perlu dirawat agar tidak keras dan mati rasa. Nafsu perlu dikelola agar tidak menjadi penguasa dalam diri. Bila tiga unsur itu berantakan, maka perilaku manusia pun ikut rusak. Dan ketika manusia rusak dalam jumlah banyak, alam akan memberi responsnya sendiri. “Jika semesta kecil “manusia” sedang kacau, maka bersiaplah akan jawaban semesta besar: “alam raya”, Manusia memberi sebab, dan semesta menjawabnya dengan akibat.”
Kalimat itu membuat forum terdiam sejenak. Ia seperti cermin yang dipasang di hadapan zaman ini. Kerusakan lingkungan, ketimpangan sosial, permusuhan, dan kekacauan moral bisa jadi bukan sekadar masalah eksternal, tetapi pantulan dari batin manusia yang lama tak dibereskan.

Pembahasan malam itu juga menyinggung Surat Al-Fatihah sebagai bentuk syukur dan peta hubungan manusia dengan Tuhannya. Selain itu, dibahas pula idiom Jawa cakra manggilingan, roda kehidupan yang terus berputar. Apa yang hari ini ditanam, esok akan dipanen. Kebaikan melahirkan kebaikan, dan keburukan pun membawa akibatnya sendiri.
Sesi tanya jawab berlangsung hidup. Salah satu pertanyaan paling menarik datang dari Mas Oki dari Bangil: mengapa saat membaca Al-Fatihah tidak mengangkat tangan, padahal Al-Fatihah merupakan rangkuman doa?
Jawaban yang muncul menunjukkan keluasan pandangan dalam Islam. Sebagian menjelaskan bahwa mengangkat tangan ketika berdoa adalah sunnah dan dianjurkan. Namun ada pula penjelasan bahwa kualitas doa tidak ditentukan semata oleh gerakan lahiriah, melainkan oleh niat, kesungguhan, dan keterhubungan batin seorang hamba kepada Allah. Dari sini jamaah belajar bahwa perbedaan bentuk ibadah tidak semestinya menjadi alasan pertengkaran, sebab inti ibadah tetaplah ketulusan.
Malam itu juga dipenuhi momen-momen yang menyegarkan. Moderator Mas Kiki yang dikenal jarang berbicara justru didaulat memandu acara. Karena belum terbiasa, beberapa salah pengucapan justru memancing tawa dan membuat suasana semakin cair. Jamaah tertawa bersama tanpa merendahkan, melainkan sebagai bentuk kebersamaan yang sehat.
Momen haru hadir ketika anak Pak Dhani mengungkapkan rasa senangnya berada di Sulthon Penanggungan karena suasananya terasa akrab dan intens. Pengakuan polos dari seorang anak sering kali lebih jujur daripada pidato panjang orang dewasa.
Jamaah juga dibuat antusias ketika Cak Sule mengisi jeda dengan membawakan lagu Bang Haji Rhoma Irama berjudul Lailahaillallah. Lagu yang sarat nilai spiritual itu menambah semangat forum. Sementara salah satu momen paling hening terjadi ketika Cak Umar membacakan puisi di tengah alunan lagu, membuat banyak hadirin tenggelam dalam perenungan masing-masing.
Menjelang akhir acara, hadir kejutan yang menyenangkan. Cak Umar tiba-tiba menanyakan kesiapan Bu Erwin “seorang guru Bahasa Inggris di sekolah internasional Surabaya” untuk berkontribusi jika suatu hari Sulthon Penanggungan mengadakan sinau bersama edukasi Bahasa Inggris. Dengan lantang beliau menyatakan siap, namun dengan satu syarat: “Tidak boleh dibayar.”
Jawaban itu disambut kagum sekaligus bahagia. Di tengah zaman yang sering mengukur segalanya dengan nilai materi, masih ada orang-orang yang memandang ilmu sebagai amanah untuk dibagikan.
Tepat pukul 12 malam, acara ditutup dengan lantunan sholawat Malana Maulan Siwallah oleh Cak Sule, kemudian doa dipimpin oleh Cak Taufiq. Setelah sesi foto bersama, sebagian jamaah pulang, sementara sebagian lain masih melanjutkan obrolan kecil hingga menjelang Subuh.
Malam itu para jamaah pulang tidak hanya membawa kenangan, tetapi juga bekal kesadaran: bahwa memperbaiki dunia bisa dimulai dari memperbaiki diri. Menata semesta besar bermula dari menata semesta kecil di dalam dada. Karena sesungguhnya, alam sering kali hanya sedang menjawab apa yang manusia mulai lebih dahulu.[] (Redaksi Sulthon Penanggungan)








