Sinau Bareng Maiyah Lingkar Daulat Malaya edisi ke-112 yang mengusung tema “Nandur Tapak” digelar pada Jumat malam, 24 April 2026, bertempat di Aula MTs Asy Syuja, Kudang Pasantren, Panglayungan, Cipedes, Kota Tasikmalaya. Seperti lazimnya Majelisan Maiyah, suasana diawali dengan kekhusyukan tadarus Al-Qur’an, melantunkan Surah Al-Hasyr dan Al-Mulk, dilanjutkan tawashshulan sebagai bentuk penyandaran diri kepada Allah. Tema “Nandur Tapak” menjadi alas tikar diskusi malam itu—sebuah metafora tentang menanam jejak kehidupan, terutama di tengah realitas zaman yang semakin didominasi oleh jejak digital dan kebutuhan akan pengakuan publik.

Forum dibuka oleh Acep Muhadjir dengan pertanyaan reflektif: bagaimana menanam jejak (nandur tapak) di era digital agar tetap bermakna dalam kehidupan nyata, sekaligus menjadi latihan kesungguhan dan keikhlasan dalam beramal? Pertanyaan ini menjadi pintu masuk diskusi yang mengalir hangat. Hisyam menegaskan bahwa setiap tema Maiyah selalu relevan dengan realitas yang sedang dihadapi. Ia mengkritisi kecenderungan manusia hari ini yang terdorong oleh hasrat validasi—keinginan untuk diakui, dipuji, bahkan mengklaim jasa atas apa yang sejatinya merupakan kehendak Allah. Dalam forum Maiyah, jamaah diingatkan untuk menjaga kedaulatan diri dan kewaspadaan batin, agar tidak terjebak pada ilusi kehebatan pribadi. Sebagaimana sering diwejangkan Mbah Nun, “Yang kita lakukan ini bukan untuk terlihat hebat, tapi untuk menjadi jalan hadirnya kehendak Allah. Kita ini hanya perantara, bukan pusat dari segala sesuatu.”

Pandangan tersebut diperdalam oleh Yanuwar Effendi yang mengaitkan fenomena pencarian pengakuan dengan ketidaksinkronan antara lisan, hati, dan tindakan—atau dalam istilah agama, niat yang belum bulat. Sementara itu, Habib Ridwan mengajak jamaah memahami hakikat syukur. Ucapan Alhamdulillah bukan sekadar formalitas, melainkan proses peleburan segala rasa—baik manis maupun pahit—ke dalam kesadaran bahwa segala pujian hanya milik Allah. Dalam kondisi apapun, bahkan saat kekurangan, kebahagiaan tetap bisa hadir dari kesadaran tersebut. Senada dengan itu, Mas Sabrang Mowo Damar Panuluh pernah menyampaikan, “Kita sering salah alamat dalam mencari bahagia. Bahagia itu bukan hasil dari keadaan yang ideal, tapi dari kesadaran kita menerima dan memaknai keadaan, Temukan kebahagiaan didalam dirimu sendiri”.

Diskusi semakin membumi ketika Kang Wildan Zaki mengangkat pengalaman pribadinya tentang dinamika rumah tangga—mengapa dalam kondisi relasi dengan istri yang sedang tidak harmonis, justru pekerjaan terasa lancar. Ihsan Farhanuddin merespons dengan menekankan pentingnya sikap dalam menghadapi situasi. Kesabaran, ridha, dan keikhlasan dalam menjalani dinamika hidup bisa menjadi sebab dimudahkannya urusan oleh Allah. Titik utamanya bukan pada situasi, melainkan pada ketepatan sikap. Di sinilah Maiyah menjadi ruang latihan untuk menemukan dan menempatkan sikap yang tepat dalam setiap keadaan.

Cerita tentang dinamika rumah tangga juga diperkaya oleh Kang Yosep yang melihat konflik sebagai ruang pertumbuhan kedewasaan. Gesekan kecil justru bisa menumbuhkan kerinduan jika mampu menutup “lubang” dalam hati—yakni ego, prasangka, dan kekanak-kanakan. Aa Syaepul Millah kemudian mengelaborasi bahwa pernikahan sebagai sunnah perlu dimaknai sebagai amanah takdir, bukan sekadar kewajiban ritual. Ia mengingatkan agar tidak menyempitkan makna kebahagiaan, baik dalam konteks pernikahan maupun kehidupan secara umum. Kebijaksanaan lahir dari kemampuan melihat hidup secara lebih luas dan adil terhadap berbagai kondisi manusia.

Majelisan malam itu semakin terasa istimewa dengan hadirnya dua kabar yang beriringan: kabar bahagia milad Kang Wildan Zaki dan kabar duka wafatnya Kiai Itang Abdul Fatah, ayahanda dari Yurbi. Dua peristiwa ini seolah menjadi penegas bahwa hidup selalu berjalan dalam keseimbangan antara suka dan duka. Tepat pukul 00.00, forum ditutup dengan doa bersama untuk almarhum serta tasyakuran sederhana atas bertambahnya usia Kang Wildan, yang kemudian dipungkasi dengan makan liwet bersama dalam suasana hangat kebersamaan.

Tidak berhenti di situ, kebersamaan jamaah berlanjut hingga dini hari dengan melayat ke rumah duka dan mengantarkan almarhum ke pemakaman menjelang adzan Subuh. Malam itu bukan sekadar forum diskusi, melainkan praktik nyata dari “nandur tapak”—menanam jejak kebaikan, kebersamaan, dan ketulusan dalam kehidupan. Sebagaimana dawuh Mbah Nun, “Maiyah itu bukan tempat mencari jawaban, tapi tempat melatih kepekaan agar kita mampu membaca kehendak Allah dalam setiap peristiwa.” Dan malam itu, jejak-jejak itu benar-benar ditanam—tidak hanya dalam kata, tetapi dalam laku nyata kehidupan.[] (Redaksi Lingkar Daulat Malaya)









