Setiap Ramadan tiba, kita diwajibkan menjalankan ibadah puasa. Dalam ajaran Islam, kewajiban selalu berkaitan dengan kemampuan, sebagaimana prinsip bahwa Allah tidak membebani di luar kesanggupan hamba-Nya. Puasa dapat dibaca sebagai bentuk pengakuan Tuhan atas kapasitas rasional manusia. Lalu, potensi apa yang sebenarnya sedang diuji melalui kepercayaan itu?
Mbah Nun pernah menyampaikan bahwa puasa adalah metode tirakat untuk memproses diri menuju ahsani taqwim. Gagasan tersebut membuka ruang renung tentang manusia sebagai proyek yang terus dibentuk.
Jika mentadabburi Al-Qur’an Surat At-Tin ayat 4–5, manusia disebut diciptakan dalam ahsani taqwim dan berpotensi njlungup ke asfala safilin. Kontras itu menandakan kondisi yang naik turun. Struktur tersebut dipahami sebagai perpaduan akal dan nafsu. Dari sanalah manusia memiliki kemungkinan untuk naik menuju kemuliaan atau turun pada kerendahan. Maka, apakah gelar luhur itu telah kita wujudkan, atau baru sebatas sebutan?
Ramadan menghadirkan kesempatan membaca ulang posisi kita di antara dua kemungkinan tersebut. Di sinilah Bangbang Wetan edisi Maret 2026 mengajak bertirakat dengan kesadaran utuh, bukan hanya menjalani rutinitas tahunan. Apakah kita bertirakat Ahsani Taqwim, atau bahkan gak mengerti blas makna tirakat?
Mari kita berkumpul kembali di forum pencerahan Bangbangwetan pada tanggal 5 Maret 2026. Nang Pendopo Cak Durasim. Teko yo rek! (Redaksi BBW)








