Berbicara tentang cahaya, mungkin yang terngiang di benak sebagian besar manusia adalah hal yang dekat kaitannya dengan hal-hal yang menyenangkan, mendamaikan, bahkan membahagiakan jiwa siapa saja yang terkena pancarannya. Di dalam Al Qur’an sendiri, terdapat surat khusus yang membahas tentang cahaya. Karena cahaya adalah penggambaran yang sangat jelas tentang bagaimana Tuhan sebagai Dzat yang, mutlak otoritasnya terhadap persebaran cahaya untuk seluruh makhluk-Nya.
Namun, apakah kemudian hal tersebut memberikan pengaruh secara jelas pada kehidupan manusia secara luas? Lalu, terhadap kekacauan-kekacauan yang terjadi, apakah tidak terpancari cahaya dari Tuhan? Apakah Tuhan pilih kasih dalam menyebar cahaya-Nya?Atau kita yang belum diberikan, atau bahkan tidak dikehendaki memahami cara kerja persebaran cahaya-Nya ?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut, kemungkinan terjadi pada sebagian manusia. Atau bahkan keseluruhan manusia, yang masih mampu menggunakan akalnya. Namun, yang membuatnya menjadi berbeda adalah sejauh mana manusia mampu mengoptimalkan potensi dari daya akal tersebut. Bisa jadi, tirai cahaya sedang bekerja dalam wilayah tersebut.
Tirai cahaya, secara umum, dapat ditafsirkan menjadi dua klaster besar. Tirai cahaya sebagai peredam dari kuatnya cahaya. Sifatnya mungkin lebih meneduhkan dan menenangkan. Dan sebaliknya, tirai cahaya, adalah pembatas yang dibuat oleh Tuhan, yang kemudian digunakan sebagai alat penghalang terhadap siapa saja yang dikehendaki, dengan tujuan menjauhkan makhluk atau manusia tersebut dari cahaya-Nya. Tentu saja hal tersebut menjadi sebuah kecelakaan terbesar dalam hidup, baik di dunia maupun di akhirat bagi yang tertimpa. Semoga kita dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang beruntung.
”Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku akan memberikan tenggang waktu kepada mereka. Sungguh,rencana-Ku sangat teguh” (QS. Al-‘Araf [7]: 182-183)
Bagaimana cara kita berusaha mendiagnosa hal tersebut pada diri kita? Lalu, seperti apa dampaknya terhadap realita sosial kita? Dan hal penting apa yang dapat kita lakukan agar kita selamat, atau diberi keselamatan secara lahir dan batin?
”Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44).
Bisa jadi, segala carut-marut yang terjadi dalam kehidupan sosial kita saat ini, adalah bentuk peringatan yang diberikan oleh Tuhan. Atau mungkin juga sebuah ujian pendewasaan. Atau bahkan kita sedang dalam keadaan terjebak Tirai Cahaya yang bentuknya adalah kesenangan-kesenangan dengan berbagai bentuknya, hingga kita sudah benar-benar jauh dari Tuhan ?
Naudzubillah..
Melalui bahasan kali ini, kita diajak atau mungkin lebih tepatnya menengok lebih dalam ke dalam diri sendiri terkait potensi-potensi di atas. Hal ini, bisa jadi menjadi hal yang penting, yang dapat digunakan sebagai penambah kehati-hatian dan kewaspadaan terhadap gejala-gejala ketidaktepatan atau kesalahpahaman dalam menangkap gelombang cahaya dari Tuhan.
Mari kita berkumpul, melingkar, mengurai apa-apa saja yang penting untuk diurai melalui sinau bareng dengan dulur-dulur Maiyah. Tentunya dengan makmum di belakang Mbah Nun. Karena Beliau adalah guide dalam menelusuri jejak-jejak “jalan kembali” bagi orang-orang Maiyah. #Redaksi_SP








