Background Ambience
Beungeut!
Mukaddimah

Beungeut!

Mukaddimah Nujuhlikuran Gerbang Ciamis Agustus 2026

MyMaiyah.id
MyMaiyah.id

Dalam bahasa Sunda, beungeut berarti wajah. Tetapi dalam percakapan, ia bisa menjadi ungkapan ketika sesuatu terasa tidak masuk akal: ah, beungeut! Semacam penyangkalan terhadap omongan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Maka beungeut malam ini barangkali bukan sekadar kata, melainkan cara sederhana untuk bertanya: benarkah yang tampak di wajah sama dengan yang ada di dalamnya?

Agustus datang membawa wajah kemerdekaan. Merah putih berkibar, lagu kebangsaan dinyanyikan, upacara digelar, pidato tentang perjuangan dan kemerdekaan kembali memenuhi ruang-ruang publik. Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka. Tetapi di antara gegap gempita itu, bolehkah ada satu pertanyaan sederhana: merdeka yang bagaimana?

Sebab kemerdekaan bukan hanya soal terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan semestinya menghadirkan rasa aman bagi manusia yang hidup di dalamnya. Aman nyawanya, aman martabatnya, aman harta bendanya. Mbah Nun berkali-kali mengingatkan tiga hal itu sebagai sesuatu yang semestinya dijaga oleh negara dan pemerintah. Bahkan dalam Bangsa Yatim Piatu, ditegaskan bahwa negara dan pemerintah bertugas menjaga nyawa, martabat, dan harta benda rakyat, dengan skala prioritas: nyawa, kemudian martabat, lantas harta benda. (https://bit.ly/4wE09M1)

Lalu kalau tiga hal itu belum sepenuhnya aman, apa yang sebenarnya sedang dirayakan? Bendera tetap berkibar. Negara tetap berdiri. Kemerdekaan tetap disebut-sebut. Tetapi ketika rakyat masih berhadapan dengan rasa takut, kehilangan martabat, atau kehilangan hak atas harta dan ruang hidupnya, barangkali ada jarak antara wajah kemerdekaan dengan isi kemerdekaan.

Mbah Nun bahkan pernah menggambarkan keadaan ketika rakyat tidak menemukan negara yang lebih banyak melindungi daripada mengancam keamanan nyawa, martabat, dan harta benda mereka (https://bit.ly/4qywORC ). Di tempat lain, beliau mengingatkan bahwa manusia sebenarnya memiliki amanah untuk saling mengamankan: keamanan nyawa, keamanan martabat, dan keamanan harta. Maka pertanyaannya menjadi lebih dalam: apakah negara hadir sebagai rumah yang mengamankan, atau sekadar memiliki beungeut sebagai negara?

Tetapi jangan-jangan beungeut itu bukan hanya milik negara. Jangan-jangan ada beungeut dalam diri masing-masing. Merayakan kemerdekaan sambil menikmati kebebasan sendiri, tetapi tidak peduli ketika orang lain kehilangan kebebasannya. Berbicara tentang keadilan, tetapi diam ketika ketidakadilan menguntungkan. Mengibarkan merah putih, tetapi belum sungguh-sungguh memerdekakan diri dari keserakahan, ketakutan, kepentingan, dan sikap masa bodoh.

Merdeka secara lahiriah, tetapi masih dijajah oleh keinginan sendiri. Merdeka berbicara, tetapi belum merdeka dari kebohongan. Merdeka memilih, tetapi pilihan masih mudah dibeli. Merdeka memiliki negara, tetapi belum tentu seluruh manusia di dalamnya merasa memiliki masa depan.

Maka beungeut tidak harus menjadi ejekan. Ia bisa menjadi cermin. Apa yang tampak, dan apa yang sebenarnya? Apa yang dirayakan, dan apa yang dialami? Apa yang diucapkan, dan apa yang dikerjakan?

Barangkali kemerdekaan yang sesungguhnya tidak cukup dibuktikan dengan perayaan setiap bulan Agustus. Ia harus terasa dalam kehidupan sehari-hari: ketika nyawa terlindungi, martabat dihormati, harta tidak dirampas, dan manusia tidak dipaksa hidup dalam ketakutan. Sebab kalau negara bertugas mengamankan ketiganya, maka ukuran kemerdekaan mestinya bukan hanya seberapa meriah kemerdekaan dirayakan, tetapi seberapa aman manusia hidup di dalamnya.

Mari duduk bersama. Melingkar. Bukan untuk mencaci negara, bukan pula untuk merasa paling merdeka, tetapi untuk bercermin: jangan-jangan selama ini yang terlalu sering dirawat adalah beungeut kemerdekaan, sementara ruh kemerdekaannya masih harus diperjuangkan. Dan ketika hati spontan berkata “beungeut!”, mungkin yang perlu pertama-tama diperiksa bukan wajah Indonesia, melainkan wajah diri sendiri.

Bagikan:
MyMaiyah.id

MyMaiyah.id

Tulisan Terbaru dari MyMaiyah.id

HOME