Background Ambience
Menyorong Cahaya di Tengah Purnama: Cerita Dari Sinau Bareng Semesta “Gerhana Mata Hati”
Cerita Simpul

Menyorong Cahaya di Tengah Purnama: Cerita Dari Sinau Bareng Semesta “Gerhana Mata Hati”

Cerita dari Daur Maiyahan Semesta, 30 Juli 2026

MyMaiyah.id
MyMaiyah.id

Bulan sedang purnama pada malam itu (30/07/2026). Sekitar tiga puluh orang duduk melingkar, tanpa jarak, tidak ada yang lebih tinggi kedudukannya hanya karena berbicara lebih dulu atau lebih lama. Suasana malam itu hangat dan cair. Tema yang diangkat, “Gerhana Mata Hati”, plesetan dari gerhana matahari, memancing keresahan yang selama ini barangkali hanya dipendam sendiri-sendiri.

Sebelum diskusi dimulai, forum terlebih dahulu dibuka dengan Tawashshulan yang dipimpin oleh Mas Oni. Lantunan doa dan penyambungan niat kepada Allah, Rasulullah, para Wali, dan para Guru itu menjadi semacam ambang batas, memisahkan hiruk-pikuk keseharian dari ruang perenungan yang hendak dimasuki. Tawashshulan bukan sekadar seremoni pembuka, melainkan cara untuk menata niat, agar apa yang dibicarakan setelahnya tidak berhenti sebagai wacana, melainkan menjadi bagian dari laku spiritual bersama.

Malam itu tepat malam bulan purnama. Bulan berada pada ukuran bulat sempurna, cahayanya pun berada pada titik kecerahan maksimum. Namun tema Sinau Bareng malam itu justru berbicara tentang gerhana dan kegelapan. Di sinilah letak keistimewaan majelis: dalam terang, justru dicari hikmah dari kegelapan; di tengah purnama, justru dipelajari perihal gerhana.

Gerhana adalah fenomena alam yang pasti terjadi. Bahkan dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, peristiwa gerhana kini sudah dapat dipastikan tahun, tanggal, hari, jam, hingga detik terjadinya. Tidak ada yang bisa menghentikan maupun mendatangkannya secara sengaja, sebab gerhana adalah peristiwa otentik alam semesta, bukan akibat perbuatan manusia atau makhluk lain di semesta ini. Peristiwa alam semacam ini diposisikan sebagai kalamullah yang hidup, yang ditadabburi bersama. Bukan hanya kalamullah yang tertulis yang dibaca dan direnungkan, kalamullah yang hidup dalam fenomena alam ini pun turut di-iqra’-kan.

Dalam ajaran Islam, munculnya gerhana direspons dengan pelaksanaan shalat gerhana dan dzikir. Dalam tinjauan keilmuan, posisi alam semesta saat gerhana berada pada kondisi yang cukup rawan: pasang surut air laut berada pada titik maksimal, metabolisme dan perilaku makhluk hidup terganggu, suhu dan tekanan udara menjadi tidak stabil, serta kekeruhan udara meningkat. Dalam tinjauan sosial, kegelapan yang menyertai gerhana membuat berbagai bahaya menjadi tidak terlihat: lubang, batu sandungan, duri, maupun jalan yang licin. Satu langkah saja, seseorang tidak dapat memastikan apa yang ada di hadapannya. Atas dasar itulah Islam menganjurkan respons berupa ketenangan, melalui shalat dan dzikir.

Fenomena gerhana pada alam raya ini juga diyakini terjadi pula pada diri manusia, sebab manusia dipandang sebagai miniatur alam semesta, sebagai mikrokosmos. Apa yang terjadi pada semesta besar, pada dasarnya juga terjadi pada semesta kecil dalam diri manusia.

Gerhana mata hati dipandang sebagai fenomena yang pasti dialami oleh setiap manusia. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat melepaskan diri dari interaksi sosial. Sepanjang waktu, manusia akan senantiasa berhadapan dengan sesamanya dan dengan sistem sosial yang sedang berlangsung. Pada saat interaksi sosial itulah, mata hati manusia berpotensi tertutup oleh sistem-sistem yang memang dirancang untuk menutupinya, baik sistem pendidikan, sistem politik, sistem ekonomi, maupun kebudayaan.

Di sisi lain, manusia secara kodrat dianugerahi empat kecenderungan nafsu: nafsu ammarah, nafsu lawwamah, nafsu mulhamah, dan nafsu muthmainnah. Amarah dan keinginan atas kebutuhan badani, seperti makan, minum, dan hasrat seksual, merupakan sebuah keniscayaan yang senantiasa muncul dalam diri manusia.

Maka, ketika gerhana terjadi pada diri manusia, pertanyaannya adalah respons seperti apa yang semestinya diambil. Kepribadian Rasulullah menjadi salah satu jawabannya, sebab Rasulullah adalah uswatun hasanah, teladan utama yang dijadikan Nur ala Nur, cahaya di tengah kegelapan, atau dalam istilah yang akrab didengar dalam Maiyah: terang dalam kegelapan.

Bila gerhana mata hati berupa amarah muncul, respons yang dianjurkan adalah duduk, berbaring, atau mandi. Bila gerhana berupa nafsu badani muncul, respons yang dianjurkan adalah berpuasa, mengendalikan nafsu itu sebagaimana mengendalikan seekor kuda. Adapun bila gerhana berwujud sistem politik yang menimbulkan permusuhan dan perpecahan, respons yang dianjurkan adalah ketenangan sejak dini, eling lan waspada (ingat dan waspada), sebagai bagian dari upaya menumbuhkan budaya politik yang lebih menyatukan, bukan yang memecah belah.

Mukaddimah dibacakan oleh Mas Inan, dan diskusi kemudian dibuka oleh Bang Zali selaku pemantik awal. Ia menceritakan bagaimana orang-orang pada zaman dahulu memahami fungsi hati, seolah hati berdiri sendiri tanpa hubungan dengan pikiran. Ia mengingatkan bahwa hati memang tidak terlihat, tetapi bisa dirasakan, dan bahwa qolbu sebagai perasaan berbeda dengan hati sebagai organ fisik. Ia menyinggung pula fenomena demonstrasi yang menurutnya kerap lahir dari barisan orang-orang yang sakit hati. Jika hati tidak difungsikan sebagaimana mestinya, katanya, maka cara mengendalikan reaksi pun akan berbeda. Dari sinilah pertanyaan pembuka dilemparkan ke forum: bagaimana sesungguhnya cara menggunakan fungsi hati itu sendiri?

Pertanyaan tersebut disambut Mas Humam, yang memantik dari sudut yang lebih puitis dengan mengangkat album Menyorong Rembulan. Ia mengajak jamaah merenungkan ungkapan “mata hati, rungokno mata batin”, sembari menelusuri kosakata hati dalam literatur Arab: al-bab, lub, fuad, qolbun, sudur. Pertanyaannya sederhana: dari sekian istilah itu, pintu mana yang sebenarnya perlu dibuka agar cahaya dapat masuk? Ia mengutip penggalan syair anta syamsun, yang lazim dilantunkan dalam Maiyahan sebagai perumpamaan cahaya kenabian. Dari situ ia menyambungkan pertanyaan yang lebih konkret: apa yang sesungguhnya bisa menyentuh hati, dan bagaimana mata hati dapat dikaitkan dengan pendengaran, bagaimana suara diterima hingga sampai ke dalam hati?

Mas Fahmi melanjutkan dengan pertanyaan yang mengarah ke praktik hidup: apakah hati berkaitan dengan cara hidup seseorang? Ia mengaitkannya dengan perjalanan hidup Kanjeng Nabi, sebagaimana dikisahkan dalam tradisi pembacaan Barzanji. Mas Afif, yang mengaku sudah lama tidak bergabung, membuka pernyataannya dengan mengenang bagaimana Maiyah selama ini terasa seperti oase baginya. Ia memperkenalkan Mas Adit yang malam itu turut hadir. Ia memantik dari kisah dadanya Rasulullah yang dibelah untuk dibersihkan, sebuah peristiwa yang ia analogikan dengan sistem komputer yang dipasangi antivirus. Bagi Mas Afif, gerhana bekerja seperti virus: cara kerjanya menutupi, dan yang menciptakannya adalah manusia sendiri. Ia menyoroti pendidikan hari ini yang menurutnya justru menghilangkan jati diri, karena manusia dibentuk oleh sistem yang seragam sehingga seolah menutupi hati. Meski demikian, ia meyakini cara hidup Rasulullah tetap dapat ditempuh, hanya saja prosesnya panjang. Ia menduga, inilah yang dimaksud Mbah Nun dengan istilah jalan sunyi: memilih jarak dari arus kehidupan sekarang agar tidak ikut terseret olehnya.

Mas Andi, yang datang dari Bojonegoro, menyampaikan ketertarikannya mengikuti perkembangan Maiyah di Lamongan setelah melihat informasi dari media sosial. Tema tentang hati, baginya, menyentuh langsung keresahan yang ia rasakan atas kondisi zaman sekarang. Diskusi kemudian bergerak ke persoalan yang lebih mendasar ketika Mas As’ad merespon dengan pertanyaan: apakah gerhana mata hati lebih disebabkan oleh faktor internal atau eksternal? Ia menekankan bahwa selalu ada hubungan sebab-akibat, dan yang perlu dipersoalkan adalah faktor mana yang lebih dominan. Melihat kondisi zaman sekarang, ia cenderung menilai pengaruh eksternal lebih besar dalam menutup mata hati manusia, terutama karena kendali hati diolah tanpa filter yang memadai. Ia memberi contoh kasus kejahatan pembunuhan, yang menurutnya pasti didorong oleh faktor eksternal tertentu.

Pak Adang membawa diskusi ke arah yang lebih filosofis. Ia mengajak forum menyepakati satu hal terlebih dahulu: apakah hati itu sesuatu yang mistis? Ia menyinggung berbagai teori tentang hati, mempertanyakan apakah persoalan ini murni urusan hati atau justru urusan pikiran, lalu menganalogikannya dengan neurosains untuk mempersoalkan apakah gerhana mata hati ini persoalan biologis atau mistis. Ia juga mempertanyakan letak hati itu sendiri, apakah pada akal atau pada jantung, sembari menyinggung konsep ego dan superego dalam teori psikologi. Bang Zali kembali menanggapi, kali ini mengaitkan istilah mijeti ati, yang pernah menjadi tema pembahasan sebelumnya, dengan tema malam itu. Ia menegaskan bahwa mata hati bukan semata urusan hati, sebab setiap pilihan yang diambil manusia sesungguhnya lahir dari dorongan hati, sebagaimana disinggung dalam ungkapan yuwaswisu fi sudūrinnās. Ia mengajak forum menyepakati bahwa persoalan ini memang lebih condong pada ranah hati, sembari melemparkan pertanyaan reflektif kepada jamaah: gerhana yang mana sebenarnya sedang dialami saat ini?

Di tengah forum, giliran diserahkan lebih luas kepada jamaah yang datang dari berbagai daerah untuk turut menyuarakan keresahannya. Mas Izul, yang datang dari Babat, bertanya bagaimana sesungguhnya cara mengantisipasi agar mata hati tidak sampai mengalami gerhana. Mas Syafi, dari Karanggeneng, menanggapi singkat bahwa pada dasarnya hati dapat dijernihkan kembali. Bang Zali menambahkan bahwa penting untuk memahami konstruksi manusia dikaitkan dengan ibadah, dan bahwa banyak cara dapat ditempuh untuk itu, baik melalui gerakan tubuh maupun melalui bunyi. Mas Adit merespons dengan menyinggung pemikiran Socrates tentang tubuh sebagai penjara jiwa. Ia menyoroti pentingnya mengendalikan perangkat pikiran agar hati tetap terkontrol, sembari menegaskan bahwa Maiyah pada dasarnya adalah upaya merekonstruksi cara membangun pikiran. Ia melemparkan pertanyaan reflektif: yang perlu diperbaiki lebih dahulu itu manusianya atau sistemnya? Ia menekankan pentingnya menelusuri akar persoalan di sekitar, sambil senantiasa menjaga frekuensi.

Ia kemudian menyampaikan pandangan yang cukup panjang. Ia menyinggung bagaimana forum Sinau Bareng semacam ini sesungguhnya bertautan erat dengan persoalan dunia pendidikan. Baginya, Maiyah memiliki keistimewaan tersendiri di tengah kegersangan zaman sekarang, karena menyentuh langsung hajat hidup orang banyak. Ia menyayangkan cara belajar yang menurutnya kerap dibatasi, dan berharap anak-anak dibiasakan belajar keluar dari batasan itu, dibekali banyak perspektif. Ia menyoroti perlunya dunia pendidikan, agar anak-anak diajarkan berdialektika dan dibiasakan berdiskusi sejak dini. Dalam pandangannya, uang akan menjadi tidak terlalu penting apabila proses sosial berjalan baik, sebab selama ini pendidikan lebih banyak membentuk manusia sekadar menjadi pegawai. Bagi Mas Adit, yang paling penting hari ini adalah sesuatu yang sederhana: perjumpaan hati. Forum-forum semacam inilah yang menjadi pemantik percepatan narasi kultural seperti Maiyah.

Mas Agus menanggapi dengan menegaskan bahwa Sinau Bareng bukan ditujukan untuk membuat orang menjadi pintar, melainkan sebuah upaya yang terus-menerus diusahakan untuk belajar menuju kepintaran itu, sehingga jalan sunyi yang ditempuh setiap orang berada pada koordinat yang tepat. Jeda diskusi, Mas Aan membacakan puisi Mbah Nun, Kemana Anak-Anak Itu, sesaat membuat forum hening, sebelum dialog kembali berlanjut.

Mas Inan mengambil giliran dengan mengutip pandangan Quraish Shihab, “bahwa otak itu tinggi sedangkan hati itu dalam”. Yang hilang dari manusia hari ini bukan kata-kata cinta, melainkan cinta itu sendiri. Ia menyoroti pentingnya menghidupkan kembali apa yang ia sebut segitiga cinta, dengan Al-Qur’an sebagai cahayanya. Jika mata hati mampu melihat dengan Al-Qur’an, maka yang sesungguhnya hilang dari diri manusia hari ini adalah hati yang tidak pernah diaktifkan. Mas Agus lanjut menyampaikan bahwa malam itu semua yang hadir berada pada titik koordinat yang sama: menyorongkan rembulan kepada Kanjeng Nabi Muhammad. Mas Fahmi menambahkan sebuah perbandingan, bahwa mata hati orang yang tidak berkuasa paling-paling hanya mampu mencelakai beberapa orang, sedangkan bila kekuasaan berada di tangan seseorang yang mata hatinya gerhana, dampaknya jauh lebih besar. Ia mengingatkan bahwa cahaya Kanjeng Nabi pun tetap memerlukan penyucian, sebagaimana halnya diri manusia pada umumnya. Mas Agus merespon dengan perumpamaan: matahari diibaratkan sebagai mata Tuhan yang dipantulkan kepada rembulan Kanjeng Nabi, lalu dipantulkan kembali kepada kehidupan, sehingga menjadi petunjuk bagi umat manusia.

Mas Humam kemudian menyampaikan pandangan yang lebih menyeluruh, bahwa secara garis besar manusia terdiri dari unsur ruhani dan jasmani. Hati mengarah pada sisi ruhani, namun menjaga jasmani pun bagian dari ajaran agama. Manusia adalah makhluk spiritual yang kelak akan dibawa kepada surga atau neraka. Segala kerusakan yang menimpa umat berpangkal pada cinta dunia, pada transaksi, dan hari ini semuanya telah kehilangan esensi aslinya. Ia menyoroti pentingnya kembali kepada semangat leluhur yang senantiasa mengasah sisi spiritual, sehingga urusan materi pun tetap dikaitkan dengan Tuhan, tidak melulu soal untung dan rugi. Forum semacam ini menurutnya adalah upaya menghidupkan kembali ruhani, menyeimbangkan antara ruhani dan jasmani, sebagai bekal menuju akhirat.

Pak Adang menambahkan dari sudut budaya Jawa, bahwa falsafah Jawa ditempa untuk mengasah hati, menyeimbangkan IQ dengan EQ. Mas Humam kemudian merespon kembali sesi menjelang akhir diskusi dengan menegaskan bahwa malam itu tidak melahirkan satu kesimpulan tunggal yang pasti. Cara mengontrol hati adalah dengan senantiasa melibatkan hati dalam setiap aktivitas yang dijalani, sebuah fungsi yang terus diaktifkan berulang-ulang, tanpa henti. Mas Zai turut menyampaikan tanggapan, menegaskan kembali pentingnya menjaga hati dalam keseharian. Mas Agus mengingatkan seluruh jamaah pada hakikat sederhana sebagai manusia: bahwa dalam menjalani hidup, manusia senantiasa terikat pada koridor lapisan manusia: wajib, sunnah, makruh, dan haram.

Jika ditarik keluar dari ruang lingkaran malam itu, tema gerhana mata hati sesungguhnya berbicara tentang persoalan yang jauh lebih luas daripada sekadar diskusi teologis atau psikologis semata. Di zaman ketika algoritma menentukan apa yang layak dilihat dan apa yang layak dipercaya, gerhana bekerja dengan cara yang jauh lebih halus dibanding gerhana matahari yang datang dan pergi dalam hitungan menit. Ia menutupi secara perlahan, hampir tanpa disadari, melalui banjir informasi yang membuat orang lebih cepat marah daripada berpikir, lebih mudah menghakimi daripada memahami. Ruang-ruang musyawarah yang dahulu menjadi tempat hati bertemu hati kini banyak tergantikan oleh ruang komentar yang riuh namun dangkal, sehingga apa yang disebut Mas As’ad sebagai faktor eksternal itu, hari ini memiliki wajah yang konkret: sistem yang dirancang untuk merebut perhatian, bukan untuk merawat kepekaan.

Di sinilah relevansi tema malam itu terlihat semakin tajam. Ketika kekuasaan, sebagaimana disinggung Mas Fahmi, berada di tangan seseorang yang mata hatinya gerhana, dampaknya bukan lagi persoalan pribadi, melainkan persoalan bersama, tampak dalam kebijakan yang lahir tanpa mendengar, dalam keputusan yang diambil tanpa musyawarah yang sesungguhnya. Pendidikan yang disorot Mas Adit pun menghadapi tantangan serupa: ketika sekolah lebih berorientasi mencetak tenaga siap pakai daripada menumbuhkan manusia yang mampu berdialektika, gerhana itu dipelihara secara sistemik sejak usia dini. Dalam kerangka ini, pandangan Mas Afif tentang jalan sunyi menjadi relevan, bahwa jalan sunyi bukan berarti menjauh dari dunia, melainkan menjaga jarak yang cukup agar hati tidak ikut terseret arus yang deras.

Forum-forum semacam Sinau Bareng, dengan segala kesederhanaannya, menemukan relevansi yang semakin kuat di tengah kondisi seperti itu. Menjadi ruang tempat bertanya tanpa harus segera menemukan jawaban, tempat perbedaan pendapat antara ranah mistis dan ranah ilmiah, sebagaimana yang diperdebatkan Pak Adang dan Bang Zali malam itu, tidak berujung pada perpecahan, melainkan pada pengayaan cara pandang. Karena tidak ada kesimpulan tunggal yang dipaksakan, sebagaimana ditegaskan Mas Humam di penghujung diskusi, forum ini melatih jamaah untuk terus mengaktifkan hati, bukan sekali lalu selesai, melainkan sebagai laku yang diulang terus-menerus, sebagaimana wudhu yang dibarui setiap kali batal.

Pada akhirnya, gerhana mata hati bukan sesuatu yang dapat diselesaikan dalam satu malam diskusi, sebagaimana gerhana matahari juga tidak dapat dicegah oleh manusia. Kesediaan untuk terus berkumpul, bertanya, dan saling mengingatkan menjadi jalan yang memungkinkan cahaya yang sempat tertutup itu, sedikit demi sedikit, kembali menembus masuk.

Sinau Bareng malam itu ditutup dengan lantunan Shohibu Baity dan Hasbunallah yang dipimpin oleh Mas Salis. Shohibu Baity, sebagai penghormatan kepada tuan rumah dan seluruh yang telah menjadi wasilah, dan Hasbunallah, sebagai penegasan kembali bahwa cukuplah Allah menjadi sandaran, mengalun menutup malam itu sebagaimana Tawashshulan membukanya di awal. Ada semacam simetri di situ: forum yang dibuka dengan penyerahan niat, ditutup pula dengan penyerahan diri. Purnama masih menggantung sempurna di langit ketika jamaah satu per satu beranjak pulang, Sampai jumpa kembali di kebersamaan sinau bareng edisi selanjutnya, setiap akhir bulan, tanggal 30. Salam.

Bagikan:
MyMaiyah.id

MyMaiyah.id

Tulisan Terbaru dari MyMaiyah.id

HOME