“Karena syariat Allah atas manusia adalah menjadi Khalifah di bumi. Dan karena kehidupan adalah penataan dan keberbagian, maka tidak mungkin semua manusia mengurusi seluruh Bumi. Diperlukan pembagian kerja dan pembagian wilayah. Setiap manusia adalah Khalifah di petak bumi kelahirannya masing-masing” (Emha Ainun Nadjib. Daur 1 – 300, Khalifah di Petak Bumi)
Alhamdulillah, tanpa terasa kita telah menapaki separuh plus satu, perjalanan dari ikhtiar yang kita niatkan bersama. Enam etape telah kita lalui dengan segala dinamika, kegembiraan, kegelisahan, pertanyaan, dan pencarian makna. Kita terus berusaha istiqamah berkumpul melingkar dalam Sinau Bareng Waro’ Kaprawiran, sebagai wujud mensyukuri nikmat karunia Allah yang tak pernah berhenti. Memanifestasikan syukur dalam kesediaan untuk terus belajar, memahami kehidupan, dan menerjemahkan pemahaman itu menjadi tindakan yang berkemanfaatan.
Tujuh bulan sudah kita membersamai ikhtiar ini. Jika perjalanan ini kita ibaratkan pertumbuhan seorang bayi, mungkin inilah saatnya “Tedhak Siten”, sebuah prosesi ketika seorang anak untuk pertama kalinya menapakkan kakinya di bumi. Bumi tempat ia dilahirkan. Bumi yang tidak pernah ia pilih sebelumnya.
Kita pun demikian. Tidak pernah meminta dilahirkan di Indonesia, tidak pernah menentukan untuk lahir di Pulau Jawa, apalagi memilih Ponorogo sebagai tanah kelahiran. Semua itu bukan hasil kehendak kita, melainkan hak prerogatif Allah semata. Allah-lah yang menentukan di mana setiap makhluk-Nya dititipkan. Maka keberadaan kita hari ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari ketetapan-Nya.
Jika demikian adanya, tidakkah mencintai negeri ini menjadi bagian dari rasa syukur? Tidakkah merawat akar kebudayaan Jawa dan menjaga nilai-nilai kearifan Ponorogo menjadi bagian dari amanah yang harus kita emban?
Tedhak Siten pengingat bahwa selama masih hidup di dunia, kita adalah makhluk yang berpijak pada bumi. Kita memiliki ruh yang selalu rindu untuk meninggi menuju Allah, tetapi kita juga memiliki jasad yang menuntut kita untuk membumi bersama sesama manusia. Karenanya tentu, hubungan kita tidak cukup hanya vertikal, hablum minallah, namun juga minannas, minal alam, sebagamaina masyarakat Hindu di Bali memiliki filosofi kearifan lokal, “Tri Hita Karana”, tiga penyebab kebahagian. Konsep yang menciptakan keseimbangan dan keharmonisan, tiga unsur hubungan manusia dalam kehidupan di dunia. Kesalehan tidak berhenti pada ritual, tetapi harus hadir dalam cara kita bermasyarakat, berbudaya, berbangsa, dan merawat alam kehidupan bersama.
Lantas sudahkah kita sungguh memiliki kesadaran tempat kita berpijak? Bagaimana kita mengenali bumi yang setiap hari kita injak? Benarkah kita mencintai Indonesia bukan sekadar sebagai wilayah geografis, Jawa bukan sekadar identitas budaya, dan Ponorogo bukan sekadar alamat tempat tinggal? Ataukah selama ini kita hanya hidup di atasnya hanya untuk sekedar numpang hidup dan jika ada kesempatan, mengeksploitasi semua yang bisa menbawa keuntungan pribadi tanpa pernah benar-benar menghadirkannya dalam kesadaran nilai kehidupan?
Sering kali kita bermimpi tentang Indonesia Emas, tetapi tanpa sadar kita justru menjauh dari akar ke “Nusantara” an kita. Kita kagum pada Jepang, lalu ingin anak-anak kita seperti gerasi Bushido, Makoto, dan Kaizen. Kita memuji Finlandia, lalu berharap pendidikan kita menjadi Finlandia. Kita mengagungkan Singapura, lalu bercita-cita melahirkan generasi seperti Singapura. Padahal anak-anak Jepang dididik untuk menjadi Jepang, dengan bahasa, sejarah, budaya, disiplin, dan kebanggaan terhadap kejepangannya. Anak-anak Finlandia dibentuk oleh nilai dan watak Finlandia. Mereka maju bukan karena menjadi bangsa lain, melainkan karena setia mengenali dan mengembangkan jati dirinya sendiri. Sementara kita sering lupa menengok asal-usul, lupa merawat warisan, bahkan terkadang lebih sibuk mencela memaki negeri sendiri, lantas kabur dari tanah leluhur dan menjadikan bangsa lain sebagai ukuran kemuliaan.
Bukan berarti belajar dari bangsa lain itu salah, tetapi kemajuan tidak lahir dari kehilangan diri. Pohon yang tinggi justru tumbuh karena akarnya menghunjam ke dalam tanah. Maka yang perlu kita renungkan bukanlah bagaimana menjadi Jepang, Singapura, atau Finlandia, melainkan bagaimana menjadi Indonesia yang mengenali dirinya, memahami asal-usulnya, dan berani tumbuh dengan keindonesiaannya sendiri.
Maka, mari sejenak, setelah hiruk pikuk Grebeg Suro, kita duduk bersama, menata hati, menjernihkan pikiran, merangkai makna, merajut nilai, menelusuri jejak-jejak hikmah yang selama ini mungkin luput dari perhatian kita. Kita niatkan Sinau Bareng bulan ini , dengan “Tedhak Siten”, mengawali kembali menapakkan kesadaran kita ke bumi. Memahami makna hadir di tanah kelahiran, membaca ulang hubungan antara langit dan bumi, antara iman dan kebudayaan, untuk menjadi Khalifah di Petak Bumi kita sendiri.








