Sabtu malam, 27 Juni 2026, OTES (Omah Tengah Sawah) di Dusun Bumbungan, Desa Sumbersuko, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan kembali menjadi ruang perjumpaan bagi para pejalan ilmu dalam gelaran Sinau Bareng Sulthon Penanggungan bertema “Langit Hijrah”. Jamaah berkumpul untuk belajar bersama, merenungi perjalanan hidup, dan memaknai kembali arti perubahan diri.
Malam itu langit tampak cerah. Udara yang sejuk menyelimuti suasana lesehan indoor yang sederhana namun penuh kehangatan. Sejak awal, nuansa persaudaraan begitu terasa. Jamaah datang dengan wajah-wajah yang bergembira, saling menyapa, bertukar cerita, dan menikmati kebersamaan yang telah menjadi ciri khas setiap pertemuan Sulthon Penanggungan.
Sebelum acara dimulai, sempat terjadi kendala teknis pada perangkat sound system yang tiba-tiba tidak berfungsi. Kehadiran Mas Ronny dari Simpul Paseban Majapahit Mojokerto menjadi salah satu warna tersendiri malam itu. Meskipun acara harus mundur sekitar satu jam dari jadwal semula, suasana tetap cair dan penuh kesabaran. Tidak ada kegelisahan yang berlebihan. Justru dari situ tampak bahwa esensi Sinau Bareng bukan terletak pada kesempurnaan teknis, melainkan pada kesungguhan untuk berkumpul dan belajar bersama.
Acara diawali dengan tawashshul yang dipimpin oleh Cak Taufiq, dilanjutkan pembacaan Surat Ar-Rahman dan lantunan sholawat banjari oleh para pegiat Sulthon Penanggungan. Suasana yang semula ramai perlahan berubah menjadi khidmat. Di sela pembukaan, tersampaikan sebuah pengantar yang menarik mengenai tema malam itu.

“Langit tak pernah berbeda, namun banyak makna di setiap individu yang melihatnya.”
Kalimat sederhana tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami tema Langit Hijrah. Langit yang sama bisa dimaknai berbeda oleh setiap manusia, sebagaimana perjalanan hidup yang dijalani oleh masing-masing orang memiliki tantangan, ujian, dan pelajaran yang berbeda pula.
Momen haru hadir ketika Cak Jasmani datang tepat menjelang pemaparan materi. Berkat keahliannya, konfigurasi sound system yang sebelumnya bermasalah akhirnya dapat berfungsi kembali dengan baik. Sebuah peristiwa sederhana yang mengingatkan bahwa setiap orang memiliki peran penting dalam perjalanan bersama.
Memasuki sesi utama, Mas Azhar menyampaikan pengantar materi yang mengajak jamaah melihat hijrah bukan sekadar perpindahan fisik atau perubahan tampilan luar. Hijrah adalah kesadaran untuk menentukan arah hidup. Bertepatan dengan momentum Muharram, jamaah diajak merenungkan kembali tujuan perjalanan yang sedang ditempuh.
Menurut beliau, setiap manusia adalah pelaku perubahan bagi dirinya sendiri. Tidak ada perubahan yang benar-benar terjadi tanpa keputusan dan kesungguhan pribadi. Waktu akan terus berjalan, tetapi manusia diberi kesempatan untuk menentukan jejak apa yang ingin ditinggalkan.
“Jangan biarkan waktu berlalu tanpa meninggalkan jejak, karena manusia hidup untuk berjalan dan menentukan perjalanan agar terus mendekat pada ridha Allah SWT.”
Diskusi kemudian berkembang pada pembahasan mengenai zona nyaman, zona aman, dan qona’ah. Ketiganya sering kali dianggap sama, padahal memiliki makna yang berbeda. Jamaah diajak membedakan antara rasa cukup yang lahir dari syukur dengan rasa nyaman yang justru membuat seseorang enggan berkembang.
Pertanyaan lain yang mengemuka adalah apakah hijrah sama dengan hidayah. Dari berbagai pandangan yang muncul, tersirat pemahaman bahwa hidayah adalah cahaya petunjuk yang diberikan Allah, sedangkan hijrah adalah respons dan ikhtiar manusia dalam mengikuti petunjuk tersebut. Keduanya saling berkaitan, namun tidak identik.
Sesi tanya jawab berlangsung hangat dan hidup. Salah satu pertanyaan yang paling menarik disampaikan oleh Mas Juned.
“Kenapa setiap perjalanan kebenaran selalu lebih berliku daripada perjalanan kemaksiatan?”
Pertanyaan itu mengundang perenungan mendalam. Salah satu jawaban yang muncul mengingatkan jamaah pada pesan Allah dalam Surat Al-Insyirah ayat 6, bahwa bersama kesulitan selalu ada kemudahan. Kebahagiaan tidak selalu ditemukan setelah penderitaan selesai, tetapi sering kali justru ditemukan saat seseorang mampu menemukan makna di dalam penderitaannya.
Pandangan lain menyoroti bahwa setiap manusia memiliki maqam perjuangan yang berbeda. Sebagaimana orang yang terbiasa menjalankan puasa Daud akan memiliki pengalaman berbeda dibanding orang yang masih berjuang menuntaskan puasa Ramadhan. Ujian yang dirasakan setiap orang tidak bisa disamaratakan karena Allah mendidik setiap hamba sesuai kapasitas dan kebutuhannya masing-masing.
Salah satu kalimat penutup malam itu adalah ketika Cak Umar sebagai moderator menceritakan sosok Maria Lorena Ramírez, pelari perempuan dari Meksiko yang berasal dari lingkungan sederhana tanpa berbagai privilege yang dimiliki banyak atlet modern. Kisah perjuangannya menjadi inspirasi bahwa kemenangan tidak selalu ditentukan oleh fasilitas, melainkan oleh keteguhan untuk tetap menjadi diri sendiri dan terus melangkah.
Menjelang akhir acara, Mas Ronny menyampaikan kesannya terhadap konsep Sinau Bareng Sulthon Penanggungan yang memadukan presentasi visual dan forum diskusi terbuka. Ia juga membuka ruang silaturahmi dan tawashshulan bersama simpul-simpul Maiyah lainnya di masa mendatang.
Tepat pukul 00.15 WIB, forum ditutup dengan lantunan wirid “Hasbunallah” yang dibawakan oleh Cak Sule, dilanjutkan doa yang dipimpin oleh Cak Luthfi. Setelah sesi foto bersama, sebagian jamaah kembali ke rumah masing-masing, sementara sebagian lainnya masih melanjutkan obrolan ringan dalam suasana yang akrab.
Malam itu, Langit Hijrah tidak hanya menjadi tema diskusi, tetapi juga menjadi cermin bagi setiap jamaah untuk melihat perjalanan dirinya sendiri. Sebab hijrah bukan sekadar berpindah tempat, melainkan berpindah dari tidak tahu menjadi tahu, dari tahu menjadi mengerti, dan dari mengerti menjadi laku diri.
Karena pada akhirnya, waktu akan terus berjalan. Hari ini akan menjadi kemarin saat esok tiba. Maka selama kesempatan masih ada, setiap langkah kebaikan yang diambil adalah jejak yang kelak akan menjadi saksi perjalanan kita menuju ridha-Nya. (Redaksi_SP)









