Malam itu, langit tampak bersahabat. Angin berembus pelan, menyapa jamaah yang mulai memadati ruang pertemuan. Tidak ada kegaduhan yang berlebihan. Orang-orang datang dengan langkah yang tenang, sebagian berbincang ringan, sebagian lain memilih duduk sembari menikmati suasana. Barangkali, sebelum forum benar-benar dimulai, setiap orang sudah lebih dulu diajak memasuki makna tema malam itu: cindeten. Sebuah kata sederhana dari khazanah budaya Sunda, tetapi menyimpan kedalaman makna yang perlahan-lahan dikupas sepanjang forum.
Deni membuka diskusi dengan mengajak jamaah menelusuri asal-usul kata cindeten, yang diambil dari salah satu penggalan kawih Sunda, “cing cangkeling manuk cingkleung cindeten…”. Dalam pembacaan melalui metodologi Panca Niti, kata tersebut tidak sekadar berarti diam. Cindeten adalah diam yang lahir dari kesadaran penuh (éling) akan kehadiran Tuhan. Sebuah keadaan ketika seseorang tidak lagi diam karena kehilangan kata-kata atau keberanian, melainkan karena memahami kapan seharusnya berbicara dan kapan seharusnya menahan diri.
Pembahasan kemudian diperdalam oleh Akke yang mengajak peserta melihat cindeten dari sudut pandang ontologis. Menurutnya, realitas tersusun atas lapisan-lapisan yang saling memengaruhi, sebagaimana Al-Qur’an menggambarkan adanya tujuh lapis langit dan bumi. Lapisan terdalam menentukan keadaan lapisan terluarnya. Begitu pula manusia; keadaan lahirnya sangat dipengaruhi oleh kondisi batinnya. Karena itu, diam bukanlah ruang yang kosong. Cindeten merupakan sikap yang lahir dari keteraturan batin, sehingga seseorang mampu menempatkan diri sesuai proporsinya. Dari keseimbangan itulah manusia dapat “berpikir sebagaimana ada-Nya, dan bertindak sebagaimana mesti-Nya.”
Suasana forum kemudian berubah menjadi lebih syahdu ketika Andi merespons tema malam itu melalui lagu Tak Ada yang Abadi karya Peterpan, yang ia bawakan dengan iringan gitar akustik. Lagu tersebut menjadi jeda yang mengantar forum memasuki pembahasan berikutnya. Menurut Andi, diam adalah ruang perenungan. Namun, perenungan sendiri bersifat netral; ia dapat melahirkan kebaikan ataupun keburukan. Orang dapat merenung untuk menyusun strategi perubahan sosial, tetapi pada saat yang sama orang lain juga dapat menggunakan perenungan untuk merancang tindakan yang merugikan banyak pihak. Karena itu, bukan sekadar kemampuan merenung yang penting, melainkan arah ke mana hasil perenungan itu akan dibawa.
Dari sana, Deni mengingatkan bahwa salah satu persoalan besar masyarakat saat ini bukan semata-mata kurangnya pengetahuan, melainkan krisis kepekaan dan inisiatif. Ia menekankan sebuah prinsip sederhana namun sering terbalik dalam praktik kehidupan: segala sesuatu pada dasarnya diperbolehkan selama tidak ada dalil yang melarangnya. Bukan sebaliknya, menunggu perintah untuk setiap langkah yang hendak dilakukan. Kepekaan hanya akan tumbuh ketika manusia berani mengambil inisiatif untuk berbuat baik.
Nana menambahkan bahwa diam juga merupakan bagian penting dari proses menyusun strategi. Akan tetapi, ia mengingatkan bahwa tidak semua yang tampak baik benar-benar baik. Di tengah kehidupan sosial, manusia kerap dihadapkan pada berbagai bentuk manipulasi, sesuatu yang tampak meyakinkan di permukaan tetapi menyimpan kenyataan yang berbeda. Ia mengibaratkannya seperti ungkapan “minyak babi cap unta”; penampilan luar dapat mengecoh, sehingga keheningan dan kejernihan berpikir menjadi bekal untuk membedakan mana yang hak dan mana yang semu.

Restu kemudian membawa diskusi pada realitas dunia kemahasiswaan. Menurutnya, mahasiswa hari ini semakin jarang memiliki ruang untuk merenung bersama. Akibatnya, kepekaan terhadap persoalan sosial menjadi semakin menipis. Ia mengutip sajak W.S. Rendra berjudul Seonggok Jagung sebagai pengingat bahwa banyak mahasiswa justru tumbuh jauh dari kenyataan hidup masyarakat. Mereka sibuk mengejar berbagai target akademik, tetapi perlahan menjadi asing terhadap persoalan yang sebenarnya sedang dihadapi rakyat.
Kegelisahan tersebut kemudian disambut oleh Hilman melalui pertanyaan yang mengusik. Ia menyoroti teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow yang menyatakan bahwa manusia akan bergerak memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi setelah kebutuhan fisiologisnya terpenuhi. Namun, realitas sering kali menunjukkan hal yang berbeda. Tidak sedikit orang yang terus mengejar kebutuhan material tanpa mengenal batas, bahkan ketika seluruh kebutuhan dasarnya telah lama tercukupi. Pertanyaan itu menjadi pengingat bahwa persoalan manusia bukan selalu terletak pada kekurangan, melainkan sering kali pada ketidakmampuan merasa cukup.
Athif kemudian menawarkan pemaknaan lain terhadap cindeten. Baginya, diam yang baik adalah diam yang tergambar dalam ungkapan Sunda, “nyumput buni dinu caang, ngerak bari teu katembong.” Diam bukanlah simbol ketidakberdayaan, melainkan bisa menjadi bentuk perlawanan yang paling matang. Ia mengibaratkan cindeten seperti seekor burung. Burung tidak selamanya terbang, tetapi juga tidak selamanya bertengger. Keduanya memiliki waktunya masing-masing. Demikian pula manusia; ia membutuhkan keseimbangan antara bergerak dan berhenti, antara berbicara dan berdiam.
Asep kemudian menghubungkan tema tersebut dengan konsep nafsu dalam Islam. Menurutnya, cindeten merupakan sikap diam yang lahir dari nafs al-muthmainnah, yaitu jiwa yang tenang. Diam yang demikian bukan lahir dari ketakutan ataupun keputusasaan, melainkan dari hati yang telah mampu mengendalikan gejolak dirinya sendiri.
Menjelang penghujung forum, Indra mengajak peserta melihat relevansi cindeten di tengah zaman yang dipenuhi banjir informasi. Ketika manusia terus-menerus dibombardir oleh berbagai kabar, opini, dan distraksi, kemampuan untuk berhenti sejenak menjadi semakin penting. Cindeten dapat menjadi cara agar manusia tidak hanyut mengikuti arus tanpa arah. Ia mengingatkan bahwa Nabi Muhammad Saw. pun menerima wahyu pertama setelah menjalani tahannuts, sebuah proses mengasingkan diri untuk bertafakur dan mendekat kepada Allah. Sebagai penegas, ia mengutip dawuh K.H. Khoer Affandi, “Ulah leumpang dina hayang, ulah cicing dina embung. Tapi kudu leumpang dina kudu, cicing dina ulah.” Jangan berjalan karena sekadar keinginan, jangan pula diam karena rasa enggan. Berjalanlah ketika memang harus berjalan, dan berhentilah ketika memang harus berhenti.
Di akhir, Deni mengingatkan kembali sebuah hadis yang masyhur: “Berpikir satu jam lebih baik daripada beribadah selama enam puluh tahun.” Hadis tersebut bukan dimaksudkan untuk merendahkan ibadah, melainkan menunjukkan bahwa kesadaran adalah fondasi dari setiap amal. Tanpa kesadaran, gerak dapat kehilangan arah, dan diam hanya menjadi kehampaan.








