Sebagai benderang penyuluh untuk menapaki lorong gelap perjalanan serta keberlangsungan Masyarakat Maiyah Paseban Majapahit yang telah selesai melewati gerbang penanda 9 tahun siklusnya, tidak berlebihan kiranya jika satu petuah almarhum Mbah Fuad di halaman 117, dalam buku Tadabbur Maiyah Padhangmbulan, menjadi satu titik fokus bersama rutinan Pasebanan edisi 111, bulan Juli 2026 kali ini.
Khususnya pada paragraf keenam dan ketujuh dari Tadabbur Surat Al-Insyirah [94]: 1-8 berikut ini:
Setelah itu semua, Allah menegaskan rumus kehidupan yaitu bahwa bersama kesulitan itu ada kemudahan. Disebut dua kali sebagai bentuk penguatan bahwa rumus ini bersifat pasti. Kemudian diikuti dengan perintah: “Maka apabila telah selesai dari sesuatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain”. Ini adalah ajaran tentang pentingnya menggunakan waktu. Jangan ada waktu yang tersia-sia tanpa kegiatan yang berguna. Ganti pekerjaan adalah satu bentuk istirahat. Surat ditutup dengan membuka pintu harapan selebar-lebarnya. “Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”. Tidak kepada siapa pun selain Allah.
Jika Anda sedang gundah gulana, bacalah pelan-pelan Surat Al-Insyirah, rasakan bahwa ayat-ayat itu seakan-akan diturunkan kepada Anda. Letakkan tangan di dada, bacalah shalawat kepada Nabi. Atas izin dan perkenan Allah, rasa tenang dan tenteram akan memenuhi dada Anda.
“Rumus Kehidupan” inilah yang juga senantiasa berlaku dalam ikhtiar merawat cinta dan menjalin ukhuwah di Paseban Majapahit. Menjadi kewajiban kita semua untuk terus bersungguh-sungguh merawat nilai-nilai kebersamaan, paseduluran, dan kekeluargaan, yang telah Allah anugerahkan dan mudahkan untuk terus tumbuh dan berkembang di masa depan.
Tentu saja semua perjalanannya nanti tidak akan pernah terlepas dari tantangan dan kesulitan. Maka piweling Mbah Nun pada halaman berikutnya haruslah kita pusakakan bersama dalam setiap langkah.
Khususnya pada paragraf terakhir Tadabbur Surat Al-Insyirah [94]: 1-8 yang ditulis Mbah Nun berikut ini:
Setiap tantangan pada akhirnya bisa diatasi dan manusia melanjutkan perjuangannya. Faiza faragta fansab. Hanya saja, kekurangan kebanyakan manusia, mungkin disebabkan oleh kelengahan pikiran dan ke-tidakwaspada-an jiwanya, kesetiaan kerja itu tidak cukup intensif dan khusyuk’ dibarengi dengan wa ila rabbika fargab. Manusia sering terlena menyangka bahwa perjuangannya akan sukses meskipun tanpa berharap kepada Allah SWT yang secara mutlak memegang kepastian segala yang berlaku pada hamba-hamba-Nya.
Semoga Allah selalu membimbing langkah kita dalam perjuangan ini. Amiin ya robbal ‘alamiin.








