Secara bahasa, Tarekah atau Thoriqoh adalah jalan, petunjuk, cara, metode, maupun aturan hidup. Meski dalam khazanah Islam istilah ini sering diasosiasikan kepada ajaran atau mursyid tertentu, tapi secara tunggal ia tetap bermakna jalan, bagi apapun dan siapapun yang bergerak baik bertujuan tertentu maupun tidak sekalipun. Sehingga Tarekah sangat bebas untuk disandingkan dengan variabel apapun saja.
Sementara Satoniyah merupakan sebutan yang berasal dari leksikon sunda yaitu sato yang berarti hewan/binatang. Atau lebih tepatnya dapat disepakati sebagai perilaku kehewan-hewanan. Maka jika demikian yang lebih memungkinkan menganut Satoniyah ini hanya terbatas dari kalangan manusia dan jin. Posisi hewan sendiri bisa disimpulkan sementara atau dua tiga periode kedepan sebagai mursyidnya.
Para salik (penempuh jalan) Tarekah Satoniyah bebas memilih jenis sato yang menjadi mursyidnya. Boleh macan, singa, serigala, babon, ular piton maupun ayam sayur. Terpenting skala dan rute lalu lintasnya jelas, PP pulang pergi Bahimiyah (urusan perut dan kelamin) dan Sabu’iyyah (bab kekuasaan, agresifitas, dan penindasan) tanpa kemacetan.
Prosesi ba’iat (janji setia) para salik dilakukan secara mandiri, masing-masing, dan sembunyi-sembunyi agar masih terlihat seperti manusia. Meski berbeda mursyid, sesama salik selalu damai dan kondusif selama bagiannya utuh. Mereka getol berlomba-lomba dalam “kebaikan” perut dan kelaminnya. Jika sudah wushul (sampai) dan naik kelas, maka datanglah kenikmatan dipuja puji dan memuja muji dirinya sendiri.
Atribut dan seragamnya bebas menyesuaikan profesi dan pekerjaan masing-masing. Status sosial tidak mengikat. Boleh ustadz dan pendeta, boleh pejabat, boleh juga juru parkir dan tukang beca. Kaya dan miskin, haji atau bukan sama-sama dapat karpet merah menjadi salik.
Kehadiran satir sosial “Tarekah Satoniyah” ini bermaksud ingin menyapa dengan mesra siapapun para salik yang mempunyai infrastruktur biologis manusia, dan mungkin juga jin dengan wujud fisikanya sendiri. Sebab kecaman sudah lebih dulu dilakukan Tuhan sang pemilik aset tunggal melalui kalam-Nya dalam surat Al-A’raf Ayat 179 :
“Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk (masuk neraka) Jahanam (karena kesesatan mereka). Mereka memiliki hati yang tidak mereka pergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan memiliki mata yang tidak mereka pergunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah), serta memiliki telinga yang tidak mereka pergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.”
Bahkan dalam surat lain (Surat Al Furqon ayat 44) misalnya, Tuhan menyebutkan bahwa sato masih lebih mending, karena mereka bersikap, bertindak, berjalan sesuai insting yang diciptakan Tuhan-Nya. Singa sebagaimana singa, ia tidak menjadi babon, ular piton, atau ayam sayur. Sementara para salik Tarekah Satoniyah ia berlomba-lomba menyerupai mursyidnya masing-masing.
Mbah Nun pernah menyampaikan bahwa singa dan macan bukan binatang buas. Mereka hanya menjalankan qodrat yang ditentukan Tuhan-Nya. Sementara kebanyakan manusia justru hidup bukan sebagaimana ia dicipta-gariskan.








