Di ambang batas sejarah di mana narasi eskatologi langit kerap dinantikan lewat huru-hara makro dan dentum peperangan fisik, umat manusia sebenarnya sedang dihadapkan pada medan pertempuran yang jauh lebih mengakar, intim, dan mematikan di balik pintu-pintu bilik pribadi. Ini adalah perang dimensi kognitif, tempat di mana komplotan distopia modern menembakkan “lorong api ukhdud” sampah dopamin visual melalui layar hitam (Cermin Hitam Generasi Baru) untuk merebut fungsi otak depan dan mengeringkan kesadaran dada manusia.
Sebelum menjalani masa depan, bukankah sebaiknya menengok masa kini? Dimana posisi dan pijakan kita di masa kini? Alangkah bijak bila kita membaca pula masa silam untuk mawas masa depan. Kita bisa belajar pada masa Nabi Hud dalam menghadapi infiltrasi berhala. Kita bisa belajar pada masa Nabi Sholih dalam menghadapi rayuan kemegahan.
Kapan seseorang menjadi bramacari, grehasta, wanaprasta, dan mandhita. Apa pantang dan keharusannya? Kita kenali dahulu wana sehingga tidak salah mengidentifikasi nirwana. Kita prastawa dahulu terhadap petunjuk (Hadi) sebelum dihadirkan Imam Mahdi. Menyiapkan diri sebagai makmum agar tak salah Imam.
Menunggu datangnya sang pembebas zaman tanpa kemauan menyapih jempol dari candu digital adalah bentuk pelarian pasif (escapism) yang delusif; sebab barisan shaf yang kokoh tidak akan pernah bertaut di atas jiwa-jiwa beku yang sistem operasinya telah diretas oleh malware syahwat dan algoritma matriks. Kedaulatan sejati akhir zaman tidak dimulai dari panggung-panggung besar penuh validasi, melainkan dari sebuah keputusan sunyi (Sirr) di sudut ruangan untuk mematikan gawai, mengambil air wudhu, dan melakukan pembumian melalui sujud kepasrahan mutlak di hadapan Allah.
Ketika kecerdasan manusia yang _katakanlah_ setara Super AI sekalipun niscaya rapuh menghadapi gempuran zaman, ketundukan total untuk memohon nalar waras yang terus-menerus adalah satu-satunya teknologi pertahanan yang tersisa. Dari kemenangan-kemenangan kecil yang personal dan tidak terdeteksi oleh algoritma inilah, sebuah ombak kesadaran fitrah sedang bergerak serentak secara metafisika di seluruh penjuru bumi—membentuk jaringan shaf yang saling bertaut bukan karena perintah organisasi, melainkan karena frekuensi jiwa telah disatukan dalam dekapan Tauhid yang kokoh. Mari Sinau Bareng dan memohon agar kita tergolong yang dikaruniai petunjuk dan bermakmum kepada Al Mahdi.








