Kata krisis bisa diartikan keadaan yang genting, parah, dan suram, sebagaimana lazim kita dengar (krisis ekonomi, krisis moral, atau krisis kepercayaan). Sedangkan kata peradaban berasal dari akar adab dengan imbuhan pe- dan -an, yakni kata benda abstrak yang menyatakan hal atau hasil dari adab. Kata adab sendiri diserap dari bahasa Arab (أَدَب) dan berkaitan dengan budi pekerti, sopan santun, kebaikan, serta tata krama pergaulan. Dari penelusuran bahasa ini tampak bahwa peradaban pada mulanya bukan soal gedung tinggi atau mesin canggih, melainkan soal mutu adab manusia dalam hidup bersama.
Maka krisis peradaban dapat dipahami sebagai kondisi sistemik yang mendalam, ketika kegagalan nilai, kegagalan tata kelola, dan penyakit moral maupun politik dari dalam menggerogoti fondasi peradaban secara perlahan. Yang runtuh bukan hanya capaian fisik, intelektual, sosial, dan budaya yang telah dihimpun masyarakat, tetapi juga landasan yang menopang semuanya.
Hari-hari ini kita banyak disuguhi kabar tentang korupsi, kebakaran hutan, pembunuhan, dan penganiayaan, persoalan yang belum juga tuntas diselesaikan, baik oleh pemerintah maupun oleh kita. Apakah semua itu sekadar rangkaian peristiwa, atau gejala dari sesuatu yang lebih dalam?
Akar persoalannya dapat ditelusuri pada pergeseran cara hidup. Tanpa disadari, kita terlena oleh peradaban modern yang ditopang kemajuan teknologi, yang secara tidak langsung ikut mengatur cara kita berkehidupan. Seiring itu, nilai-nilai luhur warisan leluhur tergeser oleh cara pandang materialistik-individual, yang menakar segala hal dari untung-rugi dan kepentingan pribadi. Korupsi dalam kerangka ini bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan buah dari hilangnya adab: kepentingan diri ditempatkan di atas kepentingan bersama.
Cara pandang itu menjauhkan manusia dari hakikat penciptaannya. QS. Al-Hujurat ayat 13 menegaskan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal (li ta’arafu). Dasar kehidupan bersama adalah perjumpaan dan saling memahami, sedangkan individualisme justru memutus tali itu. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 30, manusia dihadirkan sebagai khalifah di bumi, yakni penjaga keseimbangan semesta. Kenyataannya hari ini sering sebaliknya. QS. Ar-Rum ayat 41 telah mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan di laut tampak akibat ulah tangan manusia. Manusia yang semestinya menjaga justru menjadi dalang kerusakan ekosistem.
Mungkin kita terlalu banyak guyon, hingga lupa menjadi manusia yang seharusnya manusia itu bagaimana, sampai hari ini kita menganggap praktek keserakahan dan kerakusan itu hal yang wajar, yang menjadi pertanyaan ialah dimana kita berpihak, ikut berusaha memperbaiki atau malah justru menjadi bagian dari yang merusak?
Tema krisis peradaban adalah sebentuk ajakan untuk membaca realitas Indonesia hari-hari ini, kondisi yang sudah, menuju atau sedang berlangsung krisis peradaban, atau realitas Indonesia semakin ke sini yang teman-teman tahu sendiri seperti apa. Bagaimana menurut kalian? Mari kita bincangkan.








