Background Ambience
Sinau Hati Yang Selesai
Cerita Simpul

Sinau Hati Yang Selesai

Cerita dari Daur Maiyahan Paseduluran Maiyah Pasuruan, 8 Agustus 2026

MyMaiyah.id
MyMaiyah.id

Sabtu, 8 Agustus 2026 adalah hari yang dipilih untuk terselenggaranya kegiatan rutin Sinau Bareng Paseduluran Maiyah Pasuruan di bulan perayaan kemerdekaan ini. Hari itu sengaja dipilih dengan pertimbangan agar tidak terlalu berbenturan dengan berbagai kegiatan di masing-masing kampung seperti lomba-lomba maupun kegiatan lainnya yang biasanya akan semakin sibuk mendekati tanggal 17 Agustus hingga akhir bulan.

Dengan mengusung tema “Hati yang Selesai,” Maiyahan kali ini bertempat di House of Chandrawulan, kediaman Mas Hery Jun yang juga menjadi tempat budidaya tanaman hias. Beberapa akses jalan menuju lokasi yang ditutup untuk karnaval Sound Horeg menjadi tantangan yang cukup seru, jalan yang naik turun melengkapi syahdunya perjalanan. Sampai di lokasi, tepatnya di Dusun Paras, Ledug, kehangatan sambutan Mas Hery sebagai tuan rumah menetralkan hawa dingin kaki gunung Welirang.

Berbagai jenis bibit tanaman hias warna-warni yang berjajar di sekitar area sinau bareng, gemerlap lampu kota yang terlihat turut menambah syahdunya malam itu. Maiyahan dibuka oleh Mas Jufri, kemudian dilanjutkan dengan tawashshul yang dipimpin oleh Mas Andi. Aroma asap kayu perapian untuk penghangat ditambah beberapa dupa seolah menambah kekhusyukan lantunan wirid dan sholawat.

Setelah khusyuk bermunajat, dengan gitar akustiknya Mas Hery dan Mas Arif membawakan lagu Nyanyian Jiwa dari Iwan Fals sebagai pembuka diskusi. Berkaitan dengan tema, Mas Hery membagikan analoginya tentang hati yang selesai dengan kesukaannya terhadap kopi murni tanpa gula. Mas Hery berpegang pada pendapat bahwa sebenarnya pada kopi sendiri sudah terkandung rasa manis meski tanpa tambahan zat pemanis eksternal seperti gula. Dari kebiasaan tersebut, sensitivitasnya terhadap rasa manis jadi terasa lebih kuat, misalnya ketika memakan kue donat yang ditaburi gula, baginya rasa gula itu sangat terasa. Seperti itulah hati yang selesai, ia tidak butuh bantuan dari luar untuk merasa bahagia atau bersyukur. Dengan hati yang sudah bisa merasakan manis tanpa syarat eksternal, maka sedikit saja kemujuran atau anugerah dapat membuat hati sangat bersyukur. Seperti ketika melihat awan berarak yang mungkin bagi orang adalah fenomena yang biasa, bagi Mas Hery itu sebuah kenikmatan, atau saat bertemu dengan kawan yang enak diajak berbicara, itu sudah merupakan suatu nikmat yang besar.

Para sedulur lainnya pun kemudian saling membagi pandangan dan pengalamannya tentang hati yang selesai, mulai dari pertanyaan-pertanyaan bagaimana cara mencapai hati yang selesai itu, atau bagaimana pemahaman tentang hati yang selesai agar tidak melenceng dari maksud yang sebenarnya. Seperti Mbak Marhamah yang menceritakan tentang pengalamannya ketika mengikuti sebuah kegiatan yang Romo Magnis Suseno sebagai narasumber utamanya. Salah satunya tentang alasan produktivitas Romo Magnis dalam berkarya baik dalam kepenulisan dan bidang lainnya, yaitu lahir dari kegembiraan saat tersingkapnya ilmu-ilmu yang kemudian mengantarkannya pada ilmu-ilmu baru. Saling Udar Rasa itu kemudian membawa pada satu kesimpulan yang senada, bahwa pada karakteristik kehidupan yang menuntut untuk selalu berproses, yang boleh dikatakan “tidak pernah selesai” ini adalah kemampuan untuk memilih atau menentukan “keselesaiannya” dengan menyambungkannya pada Yang Maha Menyelesaikan. Mungkin seperti kalimat “fa Idza faroghta fan shob,” hati yang selesai itu tidak statis, ia terus ter-upgrade bersama hidup yang harus terus dijalani. Kemampuan untuk tidak terganggu atau berekspektasi pada faktor eksternal adalah bekalnya. Kebijaksanaan, pemakluman atas keterbatasan liyan. Atau, rasa rendah hati atas kebenaran yang diyakininya seperti pada Ibrah yang terdapat dalam kisah Nabi Musa dan Khidir.

Semakin malam, diskusi semakin hangat. Dari paradoks pengetahuan, bahasan tentang cold cognitive dan hot cognitive, sampai pada kesimpulan “Rodhiyah mardhiyah” yang sering tersirat dalam lagu-lagu dan puisi Mbah Nun menjadi pelengkap Sinau bareng malam itu. Lewat tengah malam, hati yang selesai dipraktikkan dengan mencukupkan bahasan dan menutupnya dengan doa. Maiyahan pun diselesaikan dengan masing-masing membawa hati yang selesai untuk menghadapi momentum-momentum hidup di waktu selanjutnya hingga tiba saatnya “selesai” nanti.

Bismillah, terus berjalan..

 

Bagikan:
MyMaiyah.id

MyMaiyah.id

Tulisan Terbaru dari MyMaiyah.id

HOME