Orang Jawa mengenal dua watak yang saling berlawanan soal harta: medhit dan loman. Medhit adalah keengganan melepas apa yang digenggam – uang, bantuan, bahkan sekadar traktiran kecil terasa berat untuk dikeluarkan. Loman sebaliknya: tangan yang ringan, hati yang tidak sibuk menghitung ketika memberi. Watak ini tidak selalu berbanding lurus dengan isi dompet – ada yang berkecukupan tapi medhit, ada yang pas-pasan tapi tetap loman.
Kitab Nashoihul ‘Ibad membahas watak ini lewat sisi yang lebih serius: bahil. Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah menasihatkan bahwa harta orang bahil, cepat atau lambat, tetap saja lolos dari tangannya – entah dihambur-hamburkan ahli waris yang salah memakainya, direnggut penguasa zalim, musnah oleh nafsu yang muncul tiba-tiba, hilang ditelan proyek yang gagal, hancur oleh bencana yang datang tanpa diundang, habis untuk biaya berobat yang tidak berkesudahan, atau – yang paling menyedihkan – terkubur sampai pemiliknya sendiri lupa di mana menyimpannya. Rupanya menggenggam erat bukan cara mengamankan harta, melainkan jalan paling meyakinkan untuk kehilangannya, hanya dengan cara yang tak pernah diduga.
وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ
Janganlah sekali-kali orang yang bakhil dengan apa yang dikaruniakan Allah kepada mereka mengira bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu buruk bagi mereka. (Ali ‘Imran: 180)
Di zaman sekarang, medhit tumbuh dalam wajah yang lebih halus dari sekadar pelit uang. Ia muncul sebagai keengganan berbagi ilmu karena takut tersaingi, keengganan memberi kesempatan kedua karena terlanjur menghakimi, atau keengganan mengakui pendapat orang lain ada benarnya karena gengsi. Media sosial, ruang yang katanya paling terbuka, justru sering jadi panggung orang paling loman soal pamer tapi paling medhit soal berbagi hal yang benar-benar berguna.
Dalam forum Kenduri Cinta, Mbah Nun pernah mengingatkan bahwa modal – harta, kekayaan, dalam bentuk apa pun – sejatinya bisa jadi kekuatan untuk kebaikan, asal tidak ditahan demi keuntungan sempit yang cuma menguntungkan diri sendiri. Pada kesempatan yang sama beliau mengajak jamaah mengubah nilai-nilai yang biasanya cuma disimpan sebagai kata sifat – damai, murni, gembira – menjadi kata kerja: sesuatu yang dikerjakan, bukan sekadar dimiliki. Kalau dipikir lebih jauh, medhit sebenarnya kegagalan melakukan perubahan itu: harta yang berhenti jadi benda simpanan, tidak pernah naik derajat jadi tindakan.
Dan jangan-jangan sebagian dari kita sebenarnya cuma medhit yang pandai bersilat lidah – loman kalau cuma diminta pendapat, dermawan kalau cuma disuruh bicara soal ikhlas, murah hati asal tidak menyangkut dompet sendiri. Kata sifat itu murah, gampang dipakai di mana saja. Yang mahal adalah kata kerjanya.
Redaksi Tembang Pepadhang 2026








