Sepuluh tahun bukanlah usia yang pendek bagi sebuah perjumpaan. Ia cukup panjang untuk menyimpan tawa, kehilangan, perdebatan, persahabatan, kesalahpahaman, gagasan yang bertahan, maupun gagasan yang diam-diam berubah bentuk. Dalam rentang itu, mungkin ada wajah-wajah yang dulu selalu hadir lalu kini hanya tersisa dalam foto. Ada pula yang baru datang, tetapi telah menjadi bagian dari cerita yang tidak terpisahkan.
Barangkali kita tidak sedang merayakan angka sepuluh. Kita sedang membuka kembali lembar-lembar perjalanan yang selama ini tersimpan di rak ingatan. Bukan untuk menghakimi masa lalu, bukan pula untuk mencari siapa yang paling berjasa. Melainkan untuk melihat kembali benih-benih apa yang pernah ditanam, pohon-pohon apa yang telah tumbuh, dan tanah seperti apa yang selama ini kita pijak bersama.
Jika pada awal perjalanan ada semangat Bajeg ing Semesta, lalu tumbuh menjadi Kaleseduluran, menemukan arah melalui Menitigaris, belajar merasakan melalui Empati, menjaga nilai melalui Kalimasada, mensyukuri proses lewat Ngenam Syukur, memperluas cakrawala dalam Sab’ah Samawat, menapaki Sewindu, hingga menjemput harapan baru melalui Nawasena, maka malam ini kita tiba pada satu persimpangan yang mungkin perlu kita beri nama: Dekadekonstruksi.
Dekadekonstruksi bukanlah upaya membongkar untuk merobohkan. Ia adalah keberanian untuk melihat kembali. Sebab tidak semua yang lama harus dibuang, sebagaimana tidak semua yang baru harus diterima. Ada yang perlu dirawat, ada yang perlu diperbarui, dan mungkin ada pula yang perlu dilepaskan agar perjalanan tidak berubah menjadi museum kenangan.
Dalam sejarah kenabian, kita mengenal Darul Arqam sebagai ruang kecil tempat benih-benih awal ditanam. Namun sejarah tidak berhenti di Darul Arqam. Nilai-nilai yang tumbuh di dalamnya menyeberangi laut menuju Habasyah, bertahan menghadapi boikot, melewati tahun-tahun penuh kehilangan, lalu menemukan tanah-tanah baru yang siap menerima kehidupan. Yang dikenang bukan semata rumahnya, melainkan kehidupan yang lahir darinya.
Barangkali setiap perjumpaan juga memiliki Darul Arqam-nya sendiri. Sebuah ruang tempat kita pernah belajar mendengar, bertanya, berbeda pendapat, tertawa, menangis, dan menemukan makna. Pertanyaannya, setelah sepuluh tahun berlalu, benih apa yang telah tumbuh dari ruang itu? Apakah ia hanya hidup di dalam forum, ataukah telah menjelma menjadi sikap, karya, persahabatan, dan cara memandang kehidupan?
Mari merangkai kembali serpihan-serpihan perjalanan. Melihat ulang jejak yang pernah ditinggalkan. Menguji gagasan-gagasan yang pernah dianggap mutlak. Membersihkan debu yang menempel pada ingatan. Bukan agar kita kembali menjadi seperti dahulu, melainkan agar kita mampu menemukan kelahiran-kelahiran baru yang selama ini sedang bertumbuh di antara kita.
Sebab semesta tidak pernah berhenti bergerak. Dan mungkin, makna terdalam dari sepuluh tahun perjalanan bukanlah bahwa kita telah sampai di suatu tujuan, melainkan bahwa kita masih diberi kesempatan untuk terus belajar, terus bertumbuh, dan terus dilahirkan kembali.








