Apa yang bukan makhluk hidup, tapi bisa bernapas? Adalah subuh. Wa Subhi idza tanaffas. Ini adalah pertanyaan seorang pendeta keppada Abul Qosim Al Junaidi, seorang sufi di abad-abad terakhir kejayaan Islam.
Qumil Layla illa qolila, mereka yang terbangun bahkan sebelum subuh akan berada di barisan pertama orang-orang yang kesadarannya dihidupkan, ketika begitu banyak kesadaran menganggap dirinya hidup, sedang sebenarnya ia mati. Subuh bernapas, hidup, dan mereka yang menyambutnya adalah orang-orang yang akan dihidupkan pertama kali, ketika begitu banyak manusia masih terlelap dalam kematian yang tak mereka sadari. Kita akan terlambat bangun, terlambat bangkit, sadar, ketika subuh-subuh yang lalu dilewatkan tanpa strategi bagaimana subuh-subuh di esok hari terselamatkan: jika berumur panjang. Maka kita pun akan menjadi si telat paham. Kita, orang-orang yang melewati subuh dengan ringan, akan menjadi si telat sadar. Telat paham tentang hidup, tentang pertumbuhan kecerdasan, tentang kebahagiaan.
Tentang pertumbuhan kecerdasan, dunia sudah ‘begitu siang’ atau bahkan ‘menjelang sore’ – jika saja perang kemarin mendapat ‘stempel langit’ untuk perang dunia 3, sedangkan manusia Indonesia nampaknya masih asyik tertidur lelap, setelah babak belur dalam perang besar di dalam game online dan judol. Jika pakai bahasa roasting :
Helooo… Kemana aja umat Islam Indonesia?
Dalam Maiyah sebenarnya ada yang namanya ‘teori pembusukan’, ibarat buah yang membusuk, benihnya akan siap tumbuh kembali. Dan banyak orang Indonesia berharap begitu. Indonesia bangkit, kemudian memimpin dunia dengan bekal kejayaan masa lalu. Teknologinya bangkit, sistem mortalitasnya bersinar, dan semua segmentasi bidang kehidupan mulai berdaulat. Tapi tunggu, itu masih di dalam mimpi, sebab kita masih tertidur dari sebelum subuh sampai entah siang atau sore nanti. Dan saat bangun, layaknya anak muda kekinian yang bangun siang, cengap-cengap melihat jam dan menyalakan rokok kreteknya. Lalu menggumam, Hemm… Dunia di Indonesia selalu baik-baik saja.
Manusia Indonesia saat ini entah butuh apalagi. Bagaimana mungkin Imam Mahdi, Ratu Adil, atau Satrio piningit pinandito sinisihan wahyu akan diterima di negeri ini, wong sekelas kaum terpelajar juga tidak ada harganya. Diemplo-emplo thok sama para petinggi Konoha.
Berapa banyak orang yang depresi, bunuh diri, yang mirisnya tidak harus mereka mengakhiri hidup sebab utang yang triliunan. Warga negeri ini dengan sangat baik membunuh dirinya sendiri, sebelum negara menyadari bahwa hidup di tanah air sendiri ternyata nyaris dilarang. Bagaimana mungkin negara dengan semboyan gotong-royong, yang bahkan sebelum ayat kayfa la tanashorun, perintah bergotong-royong turun, Nusantara sudah memulainya, membiarkan manusia mati ketakutan. Lalu seakan itu hanya berita koran, yang ketika hari berganti, koran pun usang beserta persoalan-persoalan yang disajikannya. Sejak dari pemerintah desa, ulama, sampai pusat, terkena virus dari pemimpin yang lalu ketika ditanya sesuatu lalu menjawab enteng :
Yo mana saya tau, kok tanya sayah!
Sebab kita belum bangun bahkan setelah subuh, secara tidak sadar kita mencaci seseorang yang sikap moralnya kita teladani. Persis rumus setan. Dikutuk (di dalam ta’awudz), tapi sikap moralnya kita ikuti.
Selasa, 1 Juli 2025
(Redaksi Poci Maiyah/Abdullah Farid)








