Background Ambience
Sama Rendah
Mukaddimah

Sama Rendah

Mukaddimah Ma'syar Mahamanikam Juli 2026

MyMaiyah.id
MyMaiyah.id

Bukan tentang taman di Samarinda, dibangun di atas lahan yang dahulu berdiri SMAN 1 dan SMPN 1 Samarinda juga lapangan sepak bola pemuda. Ini tentang konsep syukur untuk manusia dari Tuhan. Terlepas dari dialektika yang masih berkembang tentang asal usul nama Samarinda dari Sama Rendah atau Sama Renda (lafal e kata renda seperti e pada kata beta). Sama rendah memiliki pemaknaan mendalam tentang manusia dalam proses berkemanusiaan. Memiliki posisi yang sama rendah sebagai makhluk. Materialistik tidak lantas membuat manusia menjadi lebih tinggi antara satu dan lainnya. Proses penghayatan sebagai makhluk yang mengangkat derajat manusia. Bagaimana sadar untuk bergantung kepada Tuhan, melibatkan Tuhan dalam setiap urusan dan sadar setiap proses hanya ada tiga kemungkinan, Allah membiarkan, mengizinkan, dan sesuai kehendak Allah.

Tidak perlu jauh ke drama nasional yang mempertontonkan ke khalayak perang bintang saling buka borok antar penegak hukum di Indonesia. Situs web berita Kalimantan Timur sudah cukup. Pemberitaan utamanya tidak lepas dari korupsi. Mulai lelang batu bara ilegal, honor gaib-penyelewengan dana insentif, hingga tipikor lahan transmigrasi. Bisa jadi itu semua dari sedikit yang apes hingga ketahuan. “Tak pernah berhenti kita bertanya: di kedalaman jiwa manusia, apakah korupsi itu peristiwa mental, peristiwa ilmu, peristiwa akhlak, peristiwa iman, atau apa?” caknun[dot]com, esai-Korupsi Milik Kita Semua.

Bukan kebetulan Ma’syar Maiyah Mahamanikam nama simpul Maiyah Kaltim tasmiyahnya di Samarinda, kota dengan budaya air yang mulai ditinggalkan. Air membuat apa pun yang mengapung di atasnya ikut naik jika air naik begitu pula ketika air turun. Berubah menjadi budaya materialistik khas kota metropolitan. Meningalkan budaya sama rendah. Tinggi kemanusiaan ditakar dari pencapaian jabatan dan jumlah harta. Jadi apa perlunya kembali belajar bab syukur? Kontekstualkah terhadap keadaan dan kehidupan, khususnya di Samarinda? Atau diam-diam bersembunyi di balik konsep syukur lantas tidak bergerak? Tidak tumbuh? Tidak berkembang? Atau mencari pembenaran untuk jadi alasan bermalas-malasan?

Edisi ke-82. Siapakah sejatinya warga Samarinda? Apakah kita sudah mengenali diri sebagai orang Samarinda? Atau diam, dalam kedalaman jiwa juga korupsi pemaknaan syukur. Terhadap anugerah Allah sebagai orang Samarinda. Hingga terjadi seperti sekarang, korupsi materiil? Solusi macam apa yang bisa kita tawarkan? Atau hanya bisa mengutuk koruptor tanpa memberi solusi berarti? Atau cukup sudah begini saja, yang penting tidak terlibat korupsi? Di tengah dinamika kota yang begitu rupa, di antara lalulalang dinamika bangsa. Alhamdulillah 81 kali maiyahan – apa yang menjelma jadi gizi dan mewarnai pola sikap dan tindak?

Bagikan:
MyMaiyah.id

MyMaiyah.id

Tulisan Terbaru dari MyMaiyah.id

HOME