Background Ambience
Balak Kosot
Mukaddimah

Balak Kosot

Mukaddimah Semesta Agustus 2026

MyMaiyah.id
MyMaiyah.id

Di meja domino, banyak orang menunggu balak enam. Ada yang berharap balak lima. Ada yang merasa percaya diri ketika titik-titik di tangannya berjejer seperti pangkat dan penghargaan.

Tetapi ada satu kartu yang sering luput dari perhatian: balak kosot. Tidak bertitik. Tidak bernomor. Tidak membawa kebanggaan apa-apa. Bahkan dari jauh tampak seperti ketiadaan. Padahal hidup sering mengajarkan bahwa yang paling gaduh belum tentu paling berguna, dan yang paling sunyi belum tentu paling tidak berharga.

Kita hidup di zaman ketika manusia berlomba menambahkan titik pada dirinya. Titik gelar. Titik jabatan. Titik pengikut. Titik pencapaian. Seolah semakin banyak titik yang menempel, semakin jelas pula siapa dirinya. Padahal bisa jadi yang bertambah hanyalah keterangan tentang dirinya, bukan dirinya sendiri.

Nabi Muhammad tidak memperkenalkan dirinya dengan tumpukan titik. Beliau tidak berdiri di hadapan manusia sambil menghitung kemuliaan nasab, kekuatan pengikut, atau banyaknya kemenangan. Semakin besar amanah yang beliau pikul, semakin tampak kerendahan hatinya. Mungkin karena itu beliau tidak sibuk menjadi besar. Beliau sibuk menjadi benar.

Lalu bagaimana dengan masalah? Anehnya, banyak orang mengira hidup yang baik adalah hidup tanpa masalah. Padahal para nabi justru dihadapkan pada masalah yang tidak ringan. Yang membedakan bukan ada atau tidak adanya masalah, melainkan cara meresponnya.

Ada orang yang sedikit masalah tetapi banyak mengeluh. Seperti balak kosot. Dari luar tampak kosong. Namun ketika permainan menemui jalan buntu, justru ia menyimpan nilai yang min haitsu laa yahtasib.

Barangkali hidup juga demikian. Jangan terlalu cepat menilai diri dari banyaknya titik yang kita punya. Jangan pula meremehkan diri kita ketika merasa tidak memiliki apa-apa. Sebab ada saatnya manusia dihargai bukan karena apa yang melekat padanya, melainkan karena apa yang tetap berdiri di dalam dirinya ketika semua yang melekat itu dilepaskan.

Maka malam ini, mari bertanya kepada diri sendiri: Apakah aku mengenal diriku dari hakikatku, atau hanya dari titik-titik yang menempel padaku? Dan jika suatu hari seluruh titik itu hilang, masihkah aku tahu siapa diriku?

Wallahu ‘alam bishowab

Bagikan:
MyMaiyah.id

MyMaiyah.id

Tulisan Terbaru dari MyMaiyah.id

HOME