Background Ambience
Nyaah Dulang: Kasih Sayang yang Mematikan Kesadaran
Mukaddimah

Nyaah Dulang: Kasih Sayang yang Mematikan Kesadaran

Mukaddimah Lingkar Daulat Malaya Agustus 2026

MyMaiyah.id
MyMaiyah.id

“Nyaah dulang” secara harfiah adalah kasih sayang yang tak mendidik. Tetapi dalam pembacaan yang lebih dalam, ia adalah kasih sayang yang berhenti pada pemenuhan perut dan pakaian, memberi sesuatu sambil mematikan kesadaran tentang bagaimana sesuatu itu diperoleh, untuk apa digunakan, dan apa tanggung jawab di baliknya. Anak diberi uang, tetapi tidak diberi etika; diberi fasilitas, tetapi tidak diberi ketangguhan; diberi kenyamanan, tetapi tidak diajari martabat. Padahal Allah berfirman, “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6). Memelihara keluarga bukan sekadar membuatnya kenyang, tetapi menjaga akal, akhlak, iman, dan martabatnya. Rasulullah SAW bersabda ; “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya”. (HR. Bukhari dan Muslim). Maka kasih sayang yang sejati bukanlah membuat seseorang selamanya bergantung pada tangan kita, melainkan mendidiknya agar suatu hari mampu berdiri dengan kakinya sendiri, menjaga kehormatannya, dan menjadi manusia yang berguna bagi sesamanya.

Menurut Mbah Nun, keluarga tidak berhenti pada ayah, ibu dan anak; makna keluarga dapat diperluas kepada hubungan manusia dengan manusia, pemerintah dengan rakyat, bahkan manusia dengan alam. Mbah Nun menekankan bahwa yang harus dibela adalah martabat manusia dan nilai kemanusiaan. Manusia tidak bisa menghindar dari kesalahan dan kekeliruan, tetapi manusia tetap memiliki kemuliaan sebagai makhluk Allah. Mbah Nun juga mengingatkan bahwa puncak kebenaran dan kebaikan adalah martabat, sedangkan puncak martabat adalah kemuliaan. Maka mari kita kawinkan antara kebenaran, kebaikan dan keindahan. Karena itu kasih sayang tidak boleh berubah menjadi penghinaan yang disamarkan sebagai pertolongan. Pemerintah yang memberikan bantuan kepada rakyat tentu baik, tetapi menjadi persoalan ketika rakyat hanya diposisikan sebagai objek yang harus terus menerima yang akan memunculkan mental pengemis, sementara kesadaran, pendidikan, kemandirian, dan daya kritisnya tidak dibangun. Kasih sayang negara seharusnya membuat rakyat semakin berdaya, bukan semakin mudah dikendalikan oleh pemberian. Sebab rakyat bukan mulut yang terus menunggu disuapi; rakyat adalah manusia yang memiliki akal, kehormatan, dan hak untuk tumbuh menjadi subjek kehidupan. Apalagi kalau dalam pandangan Mbah Nun, rakyat itu bosnya pemerintah. pemerintah itu pelayan outsourcing.

Di sinilah “nyaah dulang” dapat menjelma menjadi pencitraan kekuasaan. Pemerintah atau pejabat bisa saja memperlihatkan begitu banyak aktivitas di media sosial, misal membagikan bantuan, mengunjungi warga, meninjau pembangunan, tersenyum di depan kamera, kemudian semua itu dikemas sebagai bukti keberhasilan. Tetapi kita perlu bertanya lebih dalam, apakah yang sedang dirawat benar-benar rakyat, atau citra tentang pejabat yang peduli kepada rakyat? Apakah bantuan meningkatkan martabat atau sekadar menciptakan ketergantungan? Apakah pembangunan menghadirkan kesejahteraan jangka panjang atau hanya menghasilkan gambar yang bagus untuk dipublikasikan? Di sinilah kita membutuhkan kejernihan antara kebaikan yang nyata dan kebaikan yang dipertontonkan.

Mbah Nun berkali-kali mengajak manusia membedakan mana yang sejati dan mana yang palsu, serta menempatkan moralitas dan martabat di atas harta, jabatan, dan kekuasaan. Kajian atas pemikirannya juga menunjukkan bahwa bagi Mbah Nun, kualitas manusia tidak berhenti pada kekayaan atau kedudukan, tetapi pada kedewasaan moral dan tanggung jawab sosialnya. Maka pejabat yang sibuk membangun citra tetapi mengabaikan kejujuran, keadilan, dan nasib rakyat, tandanya sedang melakukan bentuk lain dari nyaah dulang; memberi tontonan agar rakyat merasa diperhatikan, sementara persoalan pokoknya belum tentu diselesaikan. Pejabat pemerintah melayani rakyat dengan benar itu hal wajar karena wajibnya begitu, bukan kehebatan. “Anda berlaku jujur itu bukan hebat tapi memang sebuah keharusan dan rakyat berdaulat itu bukan pencapaian melainkan yang seharusnya demikian”.

Begitu pula terhadap alam. Ketika hutan ditebang, tanah dieksploitasi, sungai dicemari, dan ruang hidup masyarakat dirusak, lalu semuanya dibungkus dengan istilah “investasi”, “pembangunan”, atau “kesejahteraan”, kita patut bertanya, kesejahteraan untuk siapa? Manusia selama ini seperti anak yang terus disuapi oleh bumi—mengambil air, pangan, kayu, mineral dan energi—tetapi lupa bahwa alam bukan gudang milik manusia yang boleh dikuras sesuka hati. Al-Qur’an mengingatkan, “Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diperbaiki.” (QS. Al-A’raf: 56). Mbah Nun bahkan memperluas pengertian keluarga sampai kepada tumbuhan, hewan, tanah, air, udara dan alam semesta; manusia hidup dalam jejaring keluarga besar yang saling terkait. Maka merusak alam sambil mengiklankannya sebagai kesejahteraan adalah nyaah dulang dalam skala yang lebih besar – memberikan keuntungan material sesaat sambil mengorbankan kehidupan yang lebih panjang. Begitu pula pencitraan di media sosial yang menutupi kerusakan, ketimpangan, atau kegagalan kebijakan adalah kasih sayang palsu—karena ia berusaha membuat masyarakat kenyang oleh gambar, sementara kenyataan belum tentu berubah.

Pada akhirnya “nyaah dulang” adalah peringatan agar kasih sayang tidak kehilangan akal sehat, etika, dan keberanian untuk bertindak di jalan kebenaran. Orang tua jangan hanya memberi makan anak, tetapi berikan teladan sebagai bentuk nilai pendidikan agar ia tahu bagaimana mencari makan dengan cara yang halal dan bermartabat. Pemerintah jangan hanya memberi bantuan, tetapi bangun kemampuan rakyat agar mampu berdiri tanpa terus menunggu pemberian. Pejabat jangan hanya mengurus citra, tetapi rawat amanah ketika kamera tidak menyala. Manusia jangan hanya mengambil manfaat dari alam, tetapi menjaga kehidupan yang menjadi sumber manfaat itu sendiri. Dan kita semua jangan hanya bertanya “Apa yang sudah saya terima?, melainkan berani bertanya, “Nilai Kebermanfaatan apa yang sedang saya kerjakan?”. Sebab Rasulullah SAW mengajarkan prinsip bahwa manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Kasih sayang yang sejati bukan membuat manusia menjadi kenyang tetapi bodoh, nyaman tetapi lemah, kaya tetapi kehilangan martabat. Kasih sayang yang sejati adalah kasih yang menumbuhkan kesadaran, kemandirian, akhlak, keberanian dan kebermanfaatan. Dari situlah “nyaah dulang” berhenti menjadi budaya menyuapi, lalu berubah menjadi pendidikan, bukan sekadar memberi seseorang ikan, tetapi membangunkan kesadarannya agar mampu menemukan jalan, memelihara sumber kehidupan, dan kelak memiliki tangan yang cukup kuat untuk memberi makan kepada orang lain.

Selanjutnya mari kita menautkan kerinduan kita kepada Baginda Rasulullah SAW yang kasih sayang serta keteladanannya kepada umatnya terus mengalir sepanjang zaman. Allahumma Sholli ‘alaa Sayyidinaa Muhammad”.

Bagikan:
MyMaiyah.id

MyMaiyah.id

Tulisan Terbaru dari MyMaiyah.id

HOME