Background Ambience
Horegnesia
Mukaddimah

Horegnesia

Mukaddimah Damar Kedhaton September 2026

MyMaiyah.id
MyMaiyah.id

Ada sebuah fenomena yang menarik untuk kita perhatikan belakangan ini, terutama ketika momentum agustusan tiba: sound horeg.

Di berbagai tempat, perayaan kemerdekaan hadir dengan wajah yang semakin meriah. Karnaval, pawai, iring-iringan kendaraan, perangkat sound berukuran besar, lampu-lampu, hingga barisan orang yang berjoget mengikuti irama menjadi bagian dari suasana yang begitu mudah kita jumpai.

Sebagian orang melihatnya sebagai bentuk kegembiraan masyarakat. Sebuah ruang untuk berkumpul, bersenang-senang, melepas penat, dan merayakan momen bersama. Tidak dapat kita pungkiri, ada semangat kebersamaan yang tumbuh di sana. Ada gotong royong, saling membantu, dan kebersamaan warga dalam mempersiapkan sebuah acara.

Namun, di tengah kemeriahan itu, muncul pula suara-suara kegelisahan yang mengajak kita untuk merenung lebih jauh dan berpikir jangkep.

Sebab tidak semua perayaan yang tampak ramai, meriah, diminati banyak orang, dan dianggap sebagai bentuk kegembiraan otomatis menunjukkan sesuatu yang baik.

Ada kalanya sebuah kebiasaan yang tumbuh di tengah masyarakat perlu dibaca ulang. Sebab ukuran kemeriahan tidak cukup hanya dilihat dari seberapa banyak orang yang menikmati, tetapi juga dari seberapa besar dampak yang ditimbulkan kepada orang lain dan lingkungan sekitar.

Misalnya, ketika suara yang seharusnya menjadi hiburan berubah menjadi gangguan: bayi yang tengah nyenyak tidur, lansia yang membutuhkan ketenangan dan kenyamanan, orang-orang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu seperti gangguan jantung atau sensitivitas terhadap suara keras, hingga dampak fisik seperti kaca rumah yang bergetar atau bahkan mengalami kerusakan.

Ketika ruang kebersamaan perlahan berubah dan tanpa disadari bergeser menjadi ruang dominasi satu pihak. Ketika semangat perayaan bergeser menjadi ajang perlombaan menghadirkan kemegahan, kebisingan, dan ekspresi yang menghadirkan sebuah paradoks: ada kegembiraan yang dirasakan sebagian orang, tetapi di sisi lain muncul keresahan bagi sebagian yang lain.

Karena itu, penting bagi kita menghadirkan kesadaran kritis. Mengambil ruang jeda sejenak, melihat, membaca, dan merefleksikan apa yang sedang terjadi secara lebih utuh.

Sebab, dalam kehidupan, manusia tidak hanya diajak untuk melihat apa yang terjadi di luar dirinya, tetapi juga diajak untuk menengok ke dalam dirinya sendiri. Al-Qur’an telah mengingatkan kita:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ ۝١٨

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Barangkali kata wal tandzur nafsun menawarkan ajakan agar setiap diri terlebih dahulu melihat dirinya sendiri. Maka sebelum menunjuk keluar, kita perlu bertanya: jangan-jangan ada pula “horeg” di dalam diri kita masing-masing?

Horeg tak melulu berupa perangkat sound dan dentuman bass. Bisa jadi yang kita keraskan volumenya adalah pendapat, jabatan, kekayaan, gelar, kelompok, agama, media sosial, atau ego kita sendiri. Semuanya bisa menjadi pengeras suara untuk mengabarkan kepada dunia: aku ada, dengarkan aku, ikuti aku, aku tak kalah darimu.

Kalau demikian, boleh jadi horeg tak semata sebuah gejala audio belaka. Horeg dapat menjadi cermin kecil tentang kecenderungan manusia untuk membesarkan volume dirinya.

Tatkala tiap diri dijangkiti keinginan untuk selalu menaikkan volume dirinya, maka bukankah sebetulnya kita tak perlu lagi heran melihat sound yang horeg, kehidupan kampung yang horeg, lalu lintas yang horeg, penegakan hukumnya horeg, politiknya horeg, talkshow dan podcast horeg, pengajian horeg, nasionalisme horeg.

Bahkan kritik terhadap sound horeg pun bisa ketularan disampaikan secara horeg.

Sedangkan sejatinya, kritik menjadi penting bukan semata-mata karena menolak atau tidak setuju, tetapi sebagai upaya mempertanyakan kembali muatan nilai dan substansi dari sebuah fenomena.

Namun, kritik terhadap sebuah fenomena juga membutuhkan kedewasaan hati dan pikiran. Sebab, perubahan sosial tidak selalu dimulai dari penolakan keras, kemarahan, atau sikap merasa paling benar sendiri. Tidak selalu harus dimulai dari demonstrasi, perlawanan terbuka, atau sekadar mengatakan, “acara apa ini, tidak penting sama sekali.”

Barangkali, ada ruang yang lebih mendasar dan fundamental yang perlu kita hadirkan terlebih dahulu: ruang pertanyaan reflektif kepada diri sendiri.

Bagaimana kita menghadirkan kesadaran dari dalam diri sendiri? Bagaimana sikap dan respons kita, sejak dalam pikiran hingga dalam tindakan, sebagai manusia yang hidup beberayan di tengah masyarakat?

Sebab di sisi lain, kita juga perlu menyadari bahwa ada manusia-manusia yang kehidupannya ikut bergerak dari fenomena tersebut. Ada pemilik usaha sound, pembuat kostum karnaval, pekerja pendukung acara, hingga para pedagang kecil yang ikut kecipratan rezeki dari keramaian yang tercipta.

Maka persoalannya, yang perlu kita renungkan bersama, bukan sekadar setuju atau tidak setuju dengan fenomena sound horeg yang beberapa tahun belakangan ini makin banyak diminati. Bukan pula tentang membenarkan semua hal atas nama hiburan, atau menolak semuanya tanpa mencoba memahami realitas yang ada.

Tetapi bagaimana kita menempatkan diri secara presisi. Bagaimana kita tetap memiliki keberanian untuk mengatakan bahwa ada sesuatu yang keliru dan perlu dikritisi, tetapi pada saat yang sama tetap menghadirkan empati kepada manusia yang berada di dalamnya.

Bagaimana kita menumbuhkan kesadaran untuk tidak sekadar mengikuti arus, kesadaran untuk membedakan antara kegembiraan dan kelalaian, antara kebebasan dan sikap yang mengabaikan keberadaan orang lain.

Mungkin fenomena sound horeg  bukan hanya tentang sound horeg itu sendiri. Sebab, apa pun yang tumbuh di tengah masyarakat selalu membawa cerita tentang manusia yang ada di dalamnya.

Tentang bagaimana kita merayakan sesuatu. Tentang bagaimana kita mencari kebahagiaan. Tentang bagaimana kita mencari penghidupan. Dan tentang bagaimana kita menentukan batas antara hak diri sendiri dengan keberadaan manusia lain.

Karena itu, pertanyaannya mungkin bukan hanya: “Apakah fenomena ini benar atau salah?” Tetapi yang lebih jauh dan mendasar: “Bagaimana kita hadir sebagai manusia yang hidup bersama manusia lainnya?”, “Bagaimana kita menghadirkan perubahan, bukan hanya dengan menunjuk keluar, tetapi juga dengan membangun kesadaran yang murni dari dalam diri sendiri?”

Mari kita melingkar kembali, bersama-sama mengambil ruang jeda sejenak, dengan harapan dan tujuan agar tidak mudah kintir arus.

Menata hati, menjernihkan pikiran, serta nyuwun paring-paring Ihdinash Shirathal Mustaqim dalam Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton Gresik edisi ke-117, untuk meneguhkan kesadaran murni dan terus setia pada proses belajar, pada:

Hari/Tgl: Jumat, 4 September 2026

Pukul: 19.23 WIB

Lokasi: Ponpes Nurul Mubin Kubro, Desa Balongpanggang, Kecamatan Balongpanggang, Gresik

Bagikan:
MyMaiyah.id

MyMaiyah.id

Tulisan Terbaru dari MyMaiyah.id

HOME