وَذَا النُّوْنِ اِذْ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنْ لَّنْ نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادٰى فِى الظُّلُمٰتِ اَنْ لَّآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَۚ
(Ingatlah pula) Zun Nun (Yunus) ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka, dia berdoa dalam kegelapan yang berlapis-lapis, “Tidak ada tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim.” Al-Anbiya : 87
Repetisi atau pengulangan dalam kehidupan senantiasa kita lakukan, namun sayang jarang menjadi bahan renungan. Berangkat dari doa Nabi Yunus Alaihissalam. Kita jadi memiliki satu pijakan. Di tengah keseringan melakukan kesalahan dan berada dalam kegelapan, perlu rasanya menapaki langkah Nabi Yunus. Menyadari kekecilan sebagai makhluk di hadapan Allah.
Seperti dalam jurnal Mba Nun “Nabi Yunus Ditelan Raksasa Problema” – Kita harus mencari dan menemukan dimensi lain yang sifatnya lebih rasional dan empiris, lebih aktual dan lebih nyata di dalam kehidupan kita, tetapi tetap saja “lâ ilâha illâ anta sub-ḫânaka innî kuntu minadh-dhâlimîn” merupakan kunci dari wacana-wacana untuk menemukan solusi-solusi dari semua problem kita yang sebesar apapun.
Nabi Yunus pergi meninggalkan kaumnya karena merasa kecewa dan marah akibat penolakan mereka terhadap dakwahnya. Beliau meninggalkan kaumnya sebelum mendapat perintah dari Allah SWT. Tindakan ketergesa-gesaan hingga atas perkenaan Allah Nabi Yunus tercampakkan dari kapal dan ditelan ikan dalam upaya kembali ke kaumnya di daratan.
Untuk menghadapi kegelapan modernitas yang diresahkan Mbah Nun dan kita jalani selama ini tidak dipungkiri akan membuat kecewa dan marah. Tercampakkan dari kapal sejarah dan ditelan kegelapan kehidupan. Momentum perulangan tahun yang ke 73 kali Mbah Nun, kita sebagai anak cucu di Samarinda berupaya menjaga dan melanjutkan tradisi ‘ilmu yang sudah diteladankan Mbah Nun. Sebagai bentuk rasional dan empiris dari memanjatkan doa Nabi Yunus.
Memang sudah hampir 3 tahun Mbah Nun tidak membersamai kita secara langsung. Kita semua kangen. Tapi untuk mensyukuri perulangan tahun yang ke 73 kali ini, alangkah baiknya kita melangkahkan sikap tidak lagi menuntut dengan kangen, melainkan kesadaran sikap kacantrikan. Melingkar belajar bersama.[] (Redaksi Ma’syar Mahamanikam)








