“Rindu itu terjadi karena pertemuan dan memori baik”, demikian kalimat yang cukup quoteable dari moderator, Kang Ali. Malam Minggu, tanggal 16 Mei 2026, adalah Semak’an edisi ke-120 yang diadakan secara rutin oleh komunitas Sedulur Maiyah Kudus, SEMAK. Sebelum moderator memulai diskusi, terlebih dahulu dilaksanakan munajatan. Munajatan yang berisi sholawat dengan nada yang sering dilantunkan Cak Nun. Malam itu adalah edisi spesial, sebab bulan Mei adalah bulan kelahiran Cak Nun, tepatnya 27 Mei, 73 tahun yang lalu.
Sengaja, di edisi spesial tersebut Semak’an mengusung tema “Mengenal Lebih Dekat” dan mendatangkan dua personel KiaiKanjeng, yaitu Mas Doni dan Pak Dhe Ari Blothong. Tujuannya tentu saja untuk memberi semangat dan memantapkan laku, agar dapat mengikuti jejak dan langkah Cak Nun. Cak Nun bagi simpul Maiyah adalah semacam shortcut untuk menjembatani ke Rasulullah. Cak Nun adalah sosok yang menggambarkan Rasulullah secara proporsional, sehingga jamaah Maiyah seolah hadir dalam pertemuan-pertemuan yang dibersamai Rasul. Cak Nun berhasil membuat jamaah rindu Rasul. Kerinduan yang implementasinya adalah usaha-usaha menduplikasi nilai-nilai dalam kehidupan.

Semak’an edisi ke-120 diadakan di Joglo Rumah Dinas Wakil Bupati Kudus. Tempatnya di tengah kota dengan akses mudah. Tidak begitu luas, areanya beratap, tetapi cukup untuk menampung puluhan hingga mendekati seratus jamaah yang hadir. Sebagaimana yang sering diucapkan oleh pengiat, ada tiga menu acara Semak’an: spiritualitas yang ditandai dengan munajat dan sholawat, intelektualitas yang ditandai diskusi tematik, serta kegembiraan yang pada malam itu diisi oleh grup Suro Legowo.
Sesi diskusi dipandu oleh moderator Mas Aan untuk menggali peristiwa-peristiwa yang dialami oleh Pak Dhe Ari Blothong dan Mas Doni bersama Cak Nun, serta nilai-nilai apa yang bisa diambil. Mas Doni memberikan pernyataan bahwa kadang-kadang Cak Nun mengambil hal yang sederhana, tetapi mak jleb. Mas Doni memberi contoh bahwa Cak Nun membuat definisi ulang sukses yang selama ini dipahami secara materialistis dan seragam. Cak Nun mengingatkan bahwa sukses setiap orang itu berbeda. Suksesnya orang angon dengan pedagang itu berbeda. Sukses bukan semata-mata pencapaian duniawi; sukses adalah kemampuan bersyukur dan mengolah pemberian Allah. Mas Doni menganggap definisi sukses yang ditawarkan Cak Nun tidak membuat orang-orang royokan dan ngawur, justru membuat setiap orang menyelami fadilah apa yang diberikan Allah dan mendayagunakan dalam kerangka bersyukur.

Pak Dhe Ari Blothong memberikan cerita bahwa Cak Nun itu solutif saat dimintai nasihat. Seolah Cak Nun tahu takaran dan kemampuan orang yang bertanya. Cak Nun dalam setiap perjalanan Maiyahan selalu bertanya: acaranya dihadiri oleh siapa? Dari kalangan usia berapa? Segmen masyarakat yang mana? Dari modal memahami dulu, sehingga Cak Nun mampu memberikan solusi secara presisi. Termasuk nomor-nomor lagu yang dibawakan KiaiKanjeng. Sering sekali tiba-tiba berubah, tidak sesuai dengan rencana awal, hal tersebut dilakukan untuk merespons jamaah. Satu hal yang diingat Pak Dhe Ari Blothong, Cak Nun memperlakukan setiap orang dengan tepat.
Beberapa jamaah yang hadir ikut berdiskusi, memberikan pertanyaan-pertanyaan ke narasumber. Ada-ada saja pertanyaannya, seperti apakah alat gamelan KiaiKanjeng ada sesajennya? Ritual apa jika mau tampil? Peristiwa tidak masuk akal apa yang pernah dialami personel KiaiKanjeng? Semua pertanyaan direspons dengan hangat dan pas.
Di akhir sesi, grup Suro Legowo dikerjai Mas Doni, diminta membawakan lagu yang tidak disiapkan. “Ayo, pokoke rasakan dengan gembira. Dalam musik tidak ada salah benar, yang penting enak.” Dan terjadilah kolaborasi spontan antara Mas Doni, Pak Dhe Ari, dan grup Suro Legowo.
Sepertinya, pertemuan malam itu benar-benar akan memberikan memori baik bagi siapa saja yang datang, dan semoga edisi selanjutnya akan hadir karena rindu. Rindu Sinau Bareng, Rindu Maiyahan, Rindu Cak Nun, Rindu KiaiKanjeng, Rindu Nabi.[] (Redaksi Semak)









