Kamis malam Jum’at, 30 April 2026, Majelis Tawashulan dan Sinau Bareng rutin kembali digelar di Lamongan. Suasananya sederhana, hangat, dan cair. Sejak awal hingga menjelang Subuh, suasana Majelis terasa hidup. Obrolan ringan perlahan-lahan menjadi ruang tafakkur dan tadabbur bersama. Dulur-dulur yang hadir saling melempar gagasan, cerita pengalaman, hingga perenungan yang mendalam. Tidak ada sekat antara yang berbagi dan mendengarkan. Semua hadir dalam posisi yang setara, bersama-sama menjadi murid dan guru: santri dan kyai.
Konteks Tata Bahasa dan Makna
Dalam sesi pembuka, dibedah secara tajam mengenai akar kata “Hayati”. Istilah ini serapan dari bahasa Arab, yakni ḥayāt (حياة), yang secara literal berarti “hidup”. Lebih lanjut, majelis menekankan perbedaan krusial antara “Hayati” sebagai sebuah keadaan dan “Menghayati” sebagai sebuah tindakan. Di sini, bahasa Indonesia menunjukkan fleksibilitasnya melalui imbuhan “me-kan” dan “me-i” yang memberikan dimensi gerak. Namun, dalam konteks Sinau Bareng malam ini, makna tersebut dibagi menjadi dua menghidupkan dan menghidupi.
Proses Menuju Keadaan Menghidupkan dan Menghidupi
Gus Humam Abdulloh Faqih memberikan sebuah perumpamaan tentang tema Sinau Bareng malam ini:
“Ibarat Sebuah Sistem Pencahayaan: saklar pada sebuah lampu berfungsi untuk menghidupkan, sedangkan lampu memberikan cahaya berfungsi untuk menghidupi. Hayati bukan sekadar ada, melainkan upaya untuk menghidupkan nilai-nilai kebaikan di dalam diri, yang muaranya untuk kebaikan di lingkungan sekitar.”
Mas Agus membuka lingkaran diskusi dengan sebuah pesan sederhana namun mendalam: di sini, semua duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Tidak ada sekat antara guru dan murid, karena sejatinya semua sedang belajar bersama untuk menjadi “kyai” bagi dirinya sendiri.

Hayati Menghayati: Lebih dari Sekadar Kata-kata
Tema malam ini adalah “Hayati Menghayati”. Mas Vian mengawalinya dengan pembacaan mukadimah yang memantik perenungan. Bang Zali memberikan perumpamaan menarik tentang kondisi manusia modern. Menurutnya, manusia saat ini sering kali lupa pada dirinya sendiri. Ia mengibaratkan manusia sebagai sebuah perangkat; hardware-nya lengkap, tapi software-nya sering tidak kompatibel. Bahkan, ia berkelakar bahwa “Dajjal” pun mungkin memilih pensiun dini melihat betapa kacaunya manusia zaman sekarang dalam memahami jati dirinya. Menghayati, bagi Bang Zali, adalah proses tafakur atau bercermin pada diri sendiri.
Mas Agus kemudian memperdalam bahasan tentang bagaimana menyerap energi melalui “Roso”. Menghayati bukan sekadar mengumpulkan kutipan bijak atau simbol-simbol indah, melainkan merasakan prosesnya. Ibarat orang yang tersandung, ada rasa sakit yang harus dihayati sebagai bagian dari kejadian nyata. “Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata,” tegasnya, mengingatkan agar kita tidak terjebak pada retorika semata.
Antara Menghidupkan dan Menghidupi
Diskusi semakin menarik ketika Mas Humam dan Mas Agus membedah kata “Hayat” (hidup). Ada perbedaan mendasar antara menghidupkan dan menghidupi. Mas Agus mengibaratkan seperti sebuah saklar dan lampu. Menghidupkan adalah menekan saklar, sementara menghidupi adalah pancaran cahaya yang memberi manfaat bagi sekelilingnya.
Di Sinau Bareng, kita belajar untuk menghidupkan pikiran dan hati yang mungkin sempat “mati” atau tumpul. Setelah hidup, barulah kita bisa menghidupi lingkungan sehari-hari dengan manfaat yang nyata. Jika hati dan pikiran tidak dihidupkan, ia ibarat tanah tandus yang tidak berfungsi.

Keresahan Sosial dan Tanggung Jawab Nyata
Keresahan juga hadir dari Mas Atung yang jauh-jauh datang dari Lamongan Utara. Ia merindukan ruang diskusi seperti ini di tengah gersangnya interaksi sosial sehari-hari. Sementara itu, Mas Zainuri memberikan analogi tentang sawah. Hidup kita bisa menjadi sawah yang subur dengan padi yang melimpah, atau justru menjadi sarang rumput liar dan hewan berbahaya jika tidak dirawat dengan benar.
Dalam konteks pekerjaan, Mas Fajar dan Mas Zainuri sepakat bahwa tanggung jawab profesional adalah bentuk hubungan kita dengan Tuhan. Pekerjaan bukan sekadar transaksi untuk mencari uang, melainkan sebuah amanah. Mas Fajar menekankan prinsip “pengabdian”; seperti seorang tukang becak yang mengayuh bukan hanya untuk tarif, tapi sebagai bentuk pengabdian kepada Sang Pencipta.
Inspirasi dan Langkah Kecil
Menariknya, energi Sinau Bareng ini menyentuh berbagai sisi, termasuk bagi mereka yang bergerak di bidang kreatif. Mas Zahid, misalnya, merasa terinspirasi oleh visual poster-poster kegiatan yang selama ini ia lihat dan menerapkannya dalam profesinya sebagai desainer grafis. Hal ini membuktikan bahwa ilmu dari forum ini bisa masuk ke ruang-ruang kerja yang sangat teknis sekalipun.
Malam itu ditutup dengan sebuah kesadaran bersama: bahwa semua tanggung jawab itu besar pada porsinya masing-masing. Tidak ada peran yang kecil jika dijalani dengan semangat pengabdian. Bonus dari Tuhan bukan selalu berupa materi, melainkan hati yang hidup dan mampu memaknai setiap keadaan.
Sesi elaborasi tema pun dipungkasi sekitar pukul 00.00 dini hari. Namun, sebagaimana lazimnya suasana Maiyah, malam belum benar-benar usai. Obrolan santai masih berlanjut dalam lingkar-lingkar kecil hingga menjelang pagi. Ada yang membahas kehidupan sehari-hari. (Red. Semesta)









