Dunia hari ini berkembang semakin cepat, manusia dipaksa untuk terus berjalan dan berlari dalam konsep modernitas zaman. Dalam sistem ini, informasi diproduksi dalam jumlah yang tidak terbatas, kita tidak lagi berada dilevel sekedar mencari informasi, tapi kebanjiran informasi. Anthony Giddens mengistilahkan kondisi ini sebagai juggernaut.
Pada titik ini manusia tidak lagi menjadi subjek, ia dipaksa menjadi objek oleh zaman. Manusia modern sering didorong untuk menjadi sesuatu: menjadi paling tahu, paling benar, paling terlihat, dan paling didengar. Ruang-ruang kehidupan dipenuhi dengan perlombaan opini, perebutan perhatian, perebutan kekuasaan, dan kegaduhan.
Kita hidup di zaman ketika banyak orang tergesa ingin menjadi “tokoh”, tapi sedikit yang benar-benar bersedia menjadi murid kehidupan. Dengan kondisi demikian, maka wasilah leluhur tentang tapa ngrame makin relevan. Medium untuk senantiasa menjaga ketenangan batin dan kesadaran di tengan hiruk pikuknya dunia modern
Tradisi Jawa mengenal istilah cantrik: seseorang yang tidak sekadar belajar dari ucapan gurunya, tapi juga dari laku hidupnya. Menjadi cantrik (yang kemudian diidentikkan dengan santri) berarti bersedia berjalan perlahan, bersedia menjaga nyala kesadaran ketika banyak orang mulai kehilangan arah.
Barangkali itulah salah satu laku yang diteladankan Mbah Nun kepada anak cucunya. Di tengah perubahan politik, perubahan rezim, dan gelombang kekuasaan yang berganti, beliau tetap istiqomah di jalan-jalan kemasyarakatan untuk membersamai masyarakat di luar kekuasaan. Bukan untuk menjauh dari kehidupan bernegara, lebih dari itu justru untuk menjaga kejernihan nurani dan kemerdekaan berpikir.
Sampai di sini, mari bertanya pada diri kita masing-masing.
Di mana posisi kesadaran kita berada?
Sudahkah kita berkemajuan dalam menyikapi zaman, atau justru terbawa dalam hingar bingar kemajuan semu?
Sudah siapkah kita berada dalam arus zaman yang semakin dinamis dan tak terkendali?
Mari terus nyantri kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW, kepada leluhur, kepada peradaban, dan kepada setiap keteladanan di sekitar kita. Juga kepada Simbah kita Muhammad Ainun Nadjib yang di usia ke-73 ini semoga diberikan izin oleh Allah untuk terus membersamai kita. Aamiin.
Tuwuh Tresna Edisi 4
Hari, tanggal : Sabtu, 23 Mei 2026
Waktu : 19.00 WIB s.d selesai
Tempat : Eperlawas, Watubarut, Gemeksekti, Kebumen








