Malam itu udara musim panas Daegu berhembus lebih tenang daripada biasanya. Di alam terbuka di pinggir sungai Seoje, beberapa wajah duduk melingkar tanpa panggung yang meninggikan siapa pun dan tanpa kursi yang merendahkan siapa pun. Di dalam lingkaran itu, setiap orang datang bukan untuk menjadi yang paling benar, melainkan untuk bersama-sama belajar menjadi manusia yang lebih jujur kepada dirinya sendiri.
Tema yang dipilih malam itu hanya terdiri atas dua kata: La Ubali.
Dua kata yang sederhana, tetapi seperti sumur tua yang tak mudah diukur kedalamannya. Semakin ditimba, semakin terasa bahwa airnya belum habis. Semakin dipahami, semakin tampak bahwa yang sedang dipelajari bukan sekadar sebuah istilah, melainkan cara kita memandang kehidupan.

Mukaddimah disampaikan oleh Mas Ridwan. Beliau membuka ruang tafakur mengenai La Ubali, sebuah sikap batin yang tidak lahir dari ketidakpedulian terhadap dunia, melainkan dari keberanian meletakkan seluruh orientasi hidup kepada Allah. Terserah orang lain mau bilang apa, yang penting kita sudah berusaha sekuat dan sebisa mungkin kemampuan kita nanti Tuhan pasti akan menilainya. Sejak awal, diskusi tidak diarahkan untuk mencari definisi yang selesai, tetapi untuk menghidupkan perjalanan memahami.
Seperti lazimnya forum Maiyah, satu pemikiran memanggil pemikiran yang lain. Tidak ada tepuk tangan untuk mengakhiri pendapat, karena setiap pendapat justru menjadi pintu bagi pendapat berikutnya.
Pak Zaki kemudian mengajak jamaah memandang kembali pertanyaan yang sering luput diajukan: apa sebenarnya parameter agar Allah ridha kepada kita?

Beliau mengingatkan bahwa ukuran yang paling penting bukanlah penilaian manusia, melainkan ridha Allah. Ridha itu, menurut beliau, tidak semata diukur dari hasil, melainkan dari proses yang ditempuh dengan benar. Sebab tidak sedikit keputusan yang tampak gemilang justru meninggalkan kerusakan apabila lahir dari jalan yang keliru.
Di tengah zaman yang sering mendewakan logika, beliau menghadirkan sebuah penegasan yang sederhana, tetapi mengandung gema panjang.
“Logika nomor dua, hati nomor satu.”
Bukan berarti akal dikesampingkan, melainkan ditempatkan sebagai pelayan bagi hati yang bersih, bukan penguasa yang menyingkirkan nurani.
Perjalanan diskusi kemudian menengok sebuah fragmen sejarah kenabian. Mas AZ.Fawaid atau akrab dipanggil Syaikh menceritakan dan mengingatkan jamaah pada peristiwa Thaif, ketika Rasulullah ﷺ menghadapi penolakan dan luka dalam perjalanan dakwahnya. Di tengah keterasingan itu, beliau memanjatkan doa yang menghadirkan ungkapan La Ubali—sebuah penghambaan yang menyerahkan seluruh penilaian kepada Allah.

Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa seorang hamba mungkin kehilangan banyak hal di hadapan manusia, tetapi tidak pernah benar-benar kehilangan apabila Allah tetap berkenan menerimanya.
Mas Anang kemudian mengajak jamaah melihat ke dalam diri. Menurut beliau, perilaku manusia tidak pernah muncul begitu saja. Pikiran menjadi penyaring bagi apa yang bergejolak di dalam hati. Bila hati dipenuhi kejernihan, pikiran akan bekerja sebagai penata. Namun apabila hati dipenuhi kabut kepentingan, pikiran sering kali hanya menjadi pembenaran atas apa yang sesungguhnya ingin dilakukan.
Mas Argo kemudian memaknai La Ubali sebagai cermin kerendahan hati Rasulullah ﷺ. Dalam pandangannya, ungkapan tersebut menunjukkan betapa seorang nabi pun tetap berdiri sebagai hamba yang menyadari kelemahan dirinya di hadapan Allah. Yang tampak bukanlah keberanian mengatur kehendak Tuhan, melainkan keberanian mengakui bahwa tidak ada tempat bergantung selain kepada-Nya.

Barangkali di situlah letak kemuliaan seorang hamba: bukan pada banyaknya kekuatan yang dimiliki, melainkan pada kesediaannya mengakui kefakiran di hadapan Yang Maha Kaya.
Mas Danu kemudian menghubungkan pembahasan malam itu dengan tema Gunungan Jaler yang pernah dikaji sebelumnya. Menurut beliau, La Ubali memiliki kedekatan dengan proses menyelesaikan diri sendiri. Sebelum seseorang sibuk mengubah dunia, ia terlebih dahulu perlu berdamai dengan dirinya; sebelum mengoreksi orang lain, ia terlebih dahulu belajar menata batinnya.
Sebab peperangan yang paling panjang sering kali bukan terjadi di luar diri, melainkan di dalam hati manusia sendiri.
Menjelang akhir forum, Mas Bayu menghadirkan sebuah perumpamaan yang sederhana namun memantulkan makna yang dalam. Beliau mengibaratkan hati sebagai cahaya, sedangkan akal sebagai cermin. Cahaya yang terang tidak akan memantulkan keindahannya apabila cerminnya kusam. Sebaliknya, cermin yang paling bening pun tidak akan memantulkan apa pun apabila tidak ada cahaya yang meneranginya.

Karena itu, perjalanan manusia bukan memilih antara hati atau akal, melainkan menjaga agar keduanya saling menguatkan melalui pengendalian diri.
Malam pun semakin larut. Satu demi satu kalimat selesai diucapkan, tetapi tidak benar-benar berakhir. Sebagian tetap tinggal di ruang perenungan masing-masing jamaah. Barangkali memang demikian watak sebuah Sinau Bareng: yang pulang bukan sekadar catatan, melainkan pertanyaan-pertanyaan baru yang terus bekerja di dalam diri.
Mungkin La Ubali bukanlah tentang menjadi orang yang apatis atau tidak peduli terhadap dunia. Ia justru mengajarkan kepedulian yang paling dalam: peduli terhadap kejernihan hati, terhadap lurusnya niat, terhadap benarnya ikhtiar, dan terhadap ridha Allah yang tidak selalu sejalan dengan tepuk tangan manusia.
Di penghujung pagi, tidak ada kesimpulan yang dipaku menjadi kebenaran tunggal. Sebab Maiyah bukan ruang untuk menyeragamkan pikiran, melainkan tempat di mana setiap orang dipersilakan pulang dengan membawa cahaya yang berbeda-beda, sembari tetap menyadari bahwa seluruh cahaya itu berasal dari Matahari yang sama.
Dan barangkali, di sanalah La Ubali perlahan menemukan maknanya: ketika hati tidak lagi sibuk mencari pengakuan manusia, karena ia telah belajar merasa cukup berada di hadapan Allah SWT.
Redaksi Tong-il Qoryah.








