“Kita hanya bisa bersatu ketika membicarakan masa silam, tapi untuk merundingkan masa depan, kita memerlukan kebencian, batu, dan darah” (Emha Ainun Nadjib)
Alhamdulillah, puji Tuhan, Astungkara.
Bulan ini kita tiba di etape ke-8 dari 12 etape yang kita ikhtiarkan untuk istiqamah bersama, melingkar, Sinau Bareng pada setiap tanggal 21 dalam penanggalan Jawa.
Bulan Agustus ini, sebelas tahun yang lalu, atas eguh pratikel dulur-dulur Maiyah Madiun, Cak Nun paring tetenger kepada simpul Maiyah di Madiun, Magetan, Ngawi, dan Ponorogo dengan nama Waro’ Kaprawiran. Asma kinarya japa. Sebuah falsafah Jawa yang senantiasa mengingatkan kita agar menjaga perilaku, sikap, dan jalan hidup sehingga selaras dengan doa yang telah dititipkan melalui nama itu.
Sebelas tahun Waro’ Kaprawiran tentu patut kita syukuri. Namun sesungguhnya, sebelas boleh jadi hanya angka penanda waktu. Sebab usia tidak otomatis melahirkan kedewasaan, sebagaimana panjangnya perjalanan tidak selalu menghadirkan kebijaksanaan.
Pada bulan Agustus ini pula, bangsa Indonesia mengenang 81 tahun Proklamasi Kemerdekaan, sementara Ponorogo memperingati 530 tahun perjalanan peradabannya. Tiga momentum ini seolah mengingatkan bahwa Waro’ Kaprawiran berutang banyak pada sejarah. Tanpa ada leluhur yang Babad Ponorogo 530 tahun silam, dan tanpa para pejuang yang membabad penjajah, hingga pada 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, bukan tidak mungkin Waro’ Kaprawiran hari ini tidaklah ada.
Melanjutkan dan menjaga apa yang telah para leluhur perjuangkan untuk anak cucu, tentu wajib bagi kita
kelak . Bung Karno meninggalkan pesan yang terasa relevan untuk hari ini, “Perjuanganku lebih mudah karena musuhku adalah penjajah, sedangkan perjuanganmu akan lebih sulit karena musuhmu adalah bangsamu sendiri.”
Berangkat dari kenyataan tersebut, Sinau Bareng kali ini mengambil tema “Duc in Altum”. Sebuah frasa dalam bahasa Latin yang secara harfiah berarti “bertolaklah ke tempat yang lebih dalam”. Ungkapan ini berasal dari Injil Lukas 5:4, ketika Yesus memerintahkan Simon Petrus untuk membawa perahu lebih jauh ke perairan yang dalam dan menebarkan jala setelah semalaman mereka gagal menangkap ikan.
Sebelumnya, mohon dengan sangat, kebersamaan kita malam ini tidak sedang menafsirkan sebuah ayat, apalagi membicarakan perbedaan keyakinan. Kita hanya meminjam kebijaksanaan universal yang terkandung di dalamnya: bahwa manusia tidak diciptakan untuk berhenti di permukaan, tetapi terus bertumbuh dengan menyelami kedalaman makna kehidupan.
Sebagaimana wasiat Bung Karno, kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan. Namun justru perjuang berat menanti.
Terbukti, di era kemerdekaan ini, kita begitu mudah diadu domba dan terpecah belah. Bahkan mereka yang memiliki keyakinan yang sama, namun karena berbeda mazhab, berbeda amaliyah, berbeda pandangan politik, atau berbeda cara memandang suatu persoalan, dapat saling menyesatkan, saling membenci, bahkan sampai menghalalkan darah saudaranya sendiri. Apalagi jika berbeda keyakinan.
Padahal, para pendahulu bangsa telah memberi teladan. Ketika kemerdekaan dipertaruhkan, mereka tidak lebih dahulu bertanya apa agamamu, apa golonganmu, apa mazhabmu, atau apa pandangan politikmu. Mereka memilih berdiri dalam satu barisan, mengesampingkan perbedaan demi satu cita-cita: kemerdekaan dan tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sehingga perjuangan sesungguhnya saat ini, sangat mungkin, bukan seperti jargon-jargon yang selama ini kita dengar, Membebaskan negeri ini dari kebodohan, keterpurukan, atau kemiskinan. Karena nampaknya berjuangan kita seharusnya lebih kepada membebaskan hati dari ego, fanatisme, dan rasa paling benar yang diam-diam menjajah kemanusiaan kita.
Apalagi pendidikan modern sering kali baru mengambil sepertiga dari nilai kemanusiaan, yaitu hanya benar dan salah. Sementara baik dan buruk, indah dan jelek, sering terabaikan dan kurang diperhatikan. Padahal justru di sanalah sebagian besar persoalan hidup berlangsung.
Selama manusia hanya berpikir dalam ukuran benar dan salah, jangan berharap akan menjadi manusia yang utuh. Sehingga jangan heran jika kita menjumpai orang pintar, namun tak mampu menunjukkan perilaku baik.
Bertolak ke tempat yang lebih dalam berarti berani melampaui cara pandang yang hanya berhenti pada benar dan salah. Kebenaran hanyalah bahan dasar, belum menjadi hasil akhir. Maka, sebenar apa pun yang kita yakini, jangan berhenti pada kebanggaan bahwa kita benar, apalagi mempertontonkan kebenaran itu kepada orang lain.
Bertolaklah lebih dalam. Jadikan setiap kebenaran sebagai kebaikan. Sebab output dari kebenaran seharusnya bukan menyalahkan dan mengalahkan, melainkan setiap kebenaran harus kita jadikan kebaikan supaya menghasilkan keindahan.
Bukankah Allah memerintahkan kita untuk fastabiqul khairat—berlomba-lomba dalam kebaikan—bukan fastabiqul haq.
Dan satu kata yang dapat mewakili keindahan yang sempurna ialah cinta. Ketika cinta telah hadir, kita tidak lagi sibuk mempertahankan siapa yang paling benar, melainkan berlomba menghadirkan sebanyak mungkin kebaikan bagi sesama, terutama untuk bangsa dan negara kita.
Untuk itu, mari kita nikmati syukur Milad Waro’ Kaprawiran ke-11, Hari Jadi Ponorogo ke-530, dan HUT RI ke-81 dengan berniat Kenduri Cinta. Sembari Sinau Bareng, bertolak ke tempat yang lebih dalam untuk menghidupkan kembali apa yang telah dikuburkan oleh sejarah, memungut kembali apa yang telah dicampakkan orang, meninggikan apa yang direndahkan orang, menghormati siapa yang dihina orang, dan mengingat kembali apa yang telah dilupakan orang. Terutama, “Menegakkan Cinta Menuju Indonesia Mulia.”
Duc in Altum. Dominus vobiscumv.








